| 285 Views
Pelajar Bunuh Pelajar! Bukti Gagalnya Pendidikan Dalam Sistem Kapitalis Membentuk Moral Manusia
Oleh : Kiki Puspita
Warga lamongan dikejutkan dengan kabar penemuan mayat yang sudah membusuk di sebuah warung kopi, dikutip dari Beritasatu.com- kasus penemuan mayat seorang wanita di sebuah warung kopi di Perumahan Made Great Residence, Lamongan, Jawa Timur, akhirnya terungkap. Korban adalah FPR (16 tahun), seorang pelajar SMK yang dibunuh oleh teman dekatnya sendiri. Kasus ini terjadi karena cinta pelaku ditolak korban.
Polres Lamongan telah menangkap dan menetapkan AI (16 tahun) sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan yang terjadi pada Jum'at (10/1/2025). Menurut keterangan polisi, pembunuhan ini telah direncanakan oleh pelaku dan dilakukan di tempat jasad ditemukan. Pelaku membunuh korban dengan cara menjerat leher korban menggunakan kerudung milik korban. Pelaku juga memukul korban berulang kali di bagian perut dan mata kanan, lalu membenturkan kepala korban ke tembok hingga mengakibatkan pendarahan,'' ungkap AKBP Bobby kepada Beritasatu.com, Jum'at (17/1/2025).
Inilah bukti gagalnya Sistem kapitalisme dalam membentuk moral manusia khususnya kaum pelajar saat ini. Kaum pelajar yang harusnya menjadi generasi yang memiliki jiwa kepribadian yang mulia dalam kehidupan, namun malah memiliki moral-moral yang rusak. Bagaimana tidak, dalam sistem saat ini media massa melalui gadget yang dimiliki oleh siapapun bisa dengan mudah mengakses konten-konten yang merusak pemikiran manusia. Banyak konten-konten yang menampilkan perzinaan dan kekerasan. Hal ini jika dilihat berulang kali oleh manusia akan menjadikan akalnya rusak, serta menganggap hal tersebut merupakan hal yang biasa dan dapat di normalisasi dalam masyarakat.
Pada sistem kapitalisme saat ini, peran keluarga yang harusnya menjadi pendidik awal bagi anak, agar berakhlak mulia tidak mampu menciptakan ketakwaan kepada anak. Kepatuhan kepada Allah akan hukum syara' tidak terbentuk. Banyak dari orang tua yang tidak paham, bahkan sibuk untuk mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan keluarga. Mengingat sistem kapitalisme saat ini sangat sulit dalam mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan.
Masyarakat dalam Sistem sekuler lahir dengan pola hidup hedonistik, permisif, dan liberal. Standar hidup tidak berpegang teguh pada agama, melainkan berorientasi pada pencapaian atau keberhasilan yang bersifat materi. Generasi sekarang pun makin jauh dari ketakwaan dan nilai ketaatan kepada Allah SWT. Sistem sekulerisme ini dalam penyusunan kurikulum pendidikan antara output pendidikan dan tujuan pendidikan tidak sinkron. Sistem sekuler ini ingin mewujudkan generasi yang bermartabat, bertakwa, serta berakhlak mulia, namun pendidikan Agama porsi Islam begitu minim (sedikit), meskipun banyak lembaga pendidikan Islam sebagai solusi alternatif, bukan jaminan tidak akan terjadi perilaku yang negatif pada generasi.
Kontrol masyarakat dalam sistem kapitalisme juga tidak terbentuk. Masyarakat hidup individualis tidak perduli antara satu dengan yang lainnya. Tidak ada amal - makruf nahi mungkar antar sesama.
Dari aspek kecerdasan, sistem sekuler kapitalisme mungkin berhasil mencetak generasi cerdas dalam ilmu umum, seperti sains dan teknologi. Namun, sistem ini sejatinya gagal dalam mencetak generasi yang berkepribadian mulia. Kita bisa melihat AS, Jepang atau Korea Selatan, negara - negara ini memang maju dengan Ilmu Pengetahuan (IPTEK), namun mereka gagal membangun peradaban manusia yang berakhlak mulia, Nilai-nilai syariat dalam negeri yang mayoritas muslim pun pudar dalam Sistem Kapitalisme ini.
Ketika Sistem Islam diterapkan terbukti sukses membentuk manusia unggul, seperti ilmuwan cerdas dengan kepribadian yang baik. Kecerdasan ilmu yang dimiliki mereka akan didedikasikan untuk kemaslahatan umat yang bermanfaat untuk rakyat dan negara. Dalam Sistem Islam pendidikan akan berbasis pada akidah Islam, seluruh pelajaran akan berkesinambungan dengan peningkatan keimanan seorang hamba kepada Allah SWT. Negara dalam Sistem Islam akan memberikan akses pendidikan secara gratis, dengan demikian peserta didik akan lebih tenang dalam menempuh pendidikan sesuai yang diminatinya. Orang tua juga tidak akan merasa risau dengan biaya pendidikan.
Suasana lingkungan masyarakat yang kondusif tidak akan menoleransi segala bentuk pemikiran dan tsaqafah asing yang merusak akidah. Masyarakat akan terbiasa berdakwah melakukan kontrol sosial di tengah masyarakat. Sistem sanski yang tegas akan memberikan efek jera, sehingga pelaku kejahatan tidak akan mengulangi. Hanya dengan Sistem Islamlah akan mampu mewujudkan generasi yang berkualitas. Hanya dengan Sistem Islamlah pelajar dapat mengoptimalkan potensinya untuk kebaikan dan amal shalih, sehingga menjadi generasi hebat taat syariat.
Wallahua'lam bissawaab.