| 10 Views

Idul Fitri dan Perjuangan Meraih Kemenangan Umat Islam

Oleh: Riska Adeliana, S.Hum

Ramadan tidak hanya bulan latihan menahan diri dari lapar, dahaga, dan hawa nafsu semata, tapi juga bulan perjuangan bagi umat Islam. Tahun ini umat Islam menjalani ibadah puasa ditengah suasana politik global yang semakin memanas. Tak ada nampak tanda-tanda akan berakhirnya perang, malah perang justru semakin masif. Amerika Serikat (AS) dan sekutu Arabnya pada hari Minggu mengutuk Iran. Hal ini terjadi saat Teheran melancarkan serangkaian serangan balas dendam terhadap Israel dan AS yang menyerangnya, (cnbc.Indonesia.com, 2/3/2026.)

Kondisi ini tentu berdampak pada banyak hal. Selain meluasnya perang dikawasan timur tengah dan sekitarnya, situasi ekonomi global pun jelas mengalami tekanan. Terlebih ketika negara Iran menutup Selat Hormuz yang menjadi perlintasan 20% minyak dunia. Harga bahan energi dan logistik melonjak tinggi dan mengakibatkan dunia dalam keadaan bahaya, sehingga membuat kondisi ekonomi dan keuangan semua negara dalam keadaan ancaman.

Disisi lain, situasi Palestina kian memprihatinkan. Karena Ramadhan kali ini mesjid Al-Aqsha ditutup untuk jemaah umat Islam hingga mereka terpaksa sholat di jalanan.

Ramadhan ke Ramadhan, tiap tahunnya kondisi umat Islam masih dalam keadaan terpuruk belum mengalami perubahan. Alih-alih mengalami kebangkitan dan kemenangan, kondisi umat Islam justru masih jauh dari yang diinginkan. Mereka terpecah. Sebagian besar penguasanya masih tunduk dan patuh pada negara kafir penjajah laknatullah.

Apa yang terjadi di Gaza dan Iran hanyalah secuil bukti tentang ketak berdayaan umat dan ketundukan para penguasa muslim dihadapan para penjajah. Alih-alih menolong, malah para pemimpin muslim khususnya pemimpin Arab, malah sibuk mengamankan kepentingan mereka. 

Fakta inilah yang membuat posisi politik umat Islam terus dalam keadaan lemah. Meski jumlah umat Islam banyak, yakni sekitar 2 juta miliar, tapi mereka tidak berdaya menolong kaum muslim di Palestina. Untuk menghancurkan hanya 2 juta entitas Yahudi yang merajalela di Palestina saja umat Islam tak sanggup. Disisi lain Iran pun harus berjuang sendirian menghadapi ambisi Amerika bersama sekutunya.

Padahal, Allah SWT. Telah memberikan kepada kaum muslim predikat sebagai sebaik-baiknya umat, hal itu karena umat Islam dianugerahi berbagai potensi menjadi pemimpin dunia. Dengan jumlah SDM yang sangat besar, sumber daya alam yang melimpah ruah, posisi geopolitik dan geostrategis wilayah, serta sebagai ideologi yang mampu menjawab semua tantangan kehidupan.

Sudah seharusnya Ramadhan memberikan dampak bagi perubahan masyarakat dari masa ke masa. Karena buah dari ibadan di bulan Ramadhan semestinya adalah takwa. Sementara takwa adalah modal kebangkitan bagi umat Islam  secara individu tapi dalam konteks keumatan.

Momentum Ramadhan, bahkan mampu mengukuhkan posisi negara yang dipimpin Rasulullah dan para Khalifah setelahnya sebagai negara pertama yang memimpin peradaban cemerlang. Bertapa banyak kemenangan umat Islam justru terjadi pada bulan Ramadhan. Seperti perang Badar, futuh Mekkah, perang Tabuk, penaklukan Al- Quds, Andalusia, sindh, dll. Semua itu terjadi pada saat bulan Ramadhan. Semua itu terjadi saat Umat Islam hidup dibawah satu kepemimpinan  yaitu Khilafah islamiyah yang menerapkan seluruh aturan Islam sebagai wujud ketakwaan.

Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi kita sekarang untuk membangun kesadaran bahwa Islam bukan sekedar agama ritual. Islam adalah ideologi yang mengurusi seluruh urusan kehidupan, termasuk politik pemerintahan. 

Dengan adanya kesadaran politik Islam ditengah umat dan menjadikan visi hidup mereka, inilah kelak yang akan mendorong mereka untuk melakukan perubahan. Perubahan yang mendasar, perubahan dari sistem kepemimpinan kufur menjadi kepemimpinan Islam yakni khilafah yang akan menyatukan umat dalam satu ikatan dan mampu menjadi perisai umat dan menebar Rahmat bagi seluruh alam.

Wallahu a'lam bish sawwab


Share this article via

0 Shares

0 Comment