| 36 Views
Menurunnya Pengaruh Amerika Serikat di Tengah Konflik Timur Tengah
(Amr Abdallah Dalsh/REUTERS)
Oleh: Siti Rohayati
Amerika Serikat (AS) dinilai mulai kehilangan eksistensinya sebagai negara adidaya pasca serangan agresif bersama sekutunya, Israel, terhadap Iran yang menewaskan pimpinan tertinggi negara tersebut, Ayatullah Khomeini. Saat ini, AS dianggap kebingungan dalam menghadapi serangan balasan Iran yang terus berlangsung, sehingga terlihat kewalahan.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh AS untuk mendorong Iran agar bersedia melakukan negosiasi dan gencatan senjata. Namun, upaya tersebut tidak dihiraukan. Bahkan, Iran secara terbuka menantang AS untuk melanjutkan perang dan menyatakan hanya akan mempertimbangkan negosiasi jika AS bersedia memenuhi sejumlah tuntutan.
Adapun beberapa tuntutan Iran antara lain:
Penarikan seluruh 52.000 pasukan Amerika dari kawasan Timur Tengah, termasuk Suriah, Irak, Lebanon, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
Pencabutan seluruh sanksi ekonomi yang diberlakukan sejak 1979, yang mencakup lebih dari 30.000 objek ekonomi.
Pembayaran ganti rugi sebesar 500 miliar dolar AS dalam kurun waktu 10 tahun, sebagai bagian dari total kerugian Iran yang diperkirakan mencapai 800 miliar dolar akibat sanksi. (Sumber: INANEWS, 20/03/2026)
Di sisi lain, AS juga dinilai mulai kehilangan pengaruh terhadap negara-negara lain. Hal ini terlihat ketika AS mengajak negara-negara anggota NATO untuk ikut melawan Iran demi membuka Selat Hormuz, namun ajakan tersebut tidak mendapat respons yang signifikan.Dunia pun mulai menyoroti berbagai tindakan yang dilakukan oleh AS dan sekutunya, khususnya terkait konflik dengan Palestina. Selama ini, AS menyatakan perang terhadap Hamas yang dianggap sebagai kelompok teroris serta menuduh rezim Iran sebagai pihak yang berbahaya. Namun, muncul pandangan lain yang mempertanyakan peran AS dalam ketidakstabilan geopolitik global. Dari sudut pandang tersebut, AS dinilai bersikap arogan terhadap negara-negara Muslim, dengan kecenderungan memaksakan kepentingannya. Kritik juga muncul terkait dugaan penggunaan kekuatan militer secara berlebihan yang berdampak pada warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
Tidak hanya di tingkat global, di dalam negeri sendiri, AS di bawah kepemimpinan Donald Trump juga mengalami krisis dukungan dari sebagian rakyatnya. Di beberapa kota di Amerika Serikat, warga melakukan demonstrasi terkait kebijakan Trump yang dinilai arogan.
Berkaca dari kasus Iran, semua negara khususnya negara negara Muslim seharusnya memiliki kemandirian sikap dan tidak selalu bergantung pada Amerika Serikat, apalagi sampai menjadi pihak yang harus tunduk dan patuh, bahkan ketika kebijakan yang diambil dinilai keliru. Negara-negara tersebut perlu memperkuat posisi tawar (bargaining position) agar tidak terus berada dalam tekanan.
Selain itu, persatuan antarnegara Muslim dapat menjadi kekuatan penting dalam menghadapi berbagai tantangan global, termasuk dalam mendorong penyelesaian konflik di Palestina yang hingga kini masih berlangsung. Dengan terbangunnya solidaritas dan kerja sama yang kuat, potensi penjajahan terhadap negeri-negeri Muslim dapat dicegah dan dihentikan.