| 12 Views

Idul Fitri di Tengah Keruntuhan Kota, Nestapa Muslim Gaza Terus Mendera

Oleh:  Abdillah Ma’arifah

Hari raya Idul Fitri yang dilaksanakan setiap tanggal 1 Syawal menjadi hari yang dipenuhi kebahagiaan bagi seluruh umat Muslim. Bagaimana tidak? Kebahagiaan suasana Idul Fitri sudah mulai terasa sejak malam 1 Syawal, saat lantunan takbir yang mengagungkan nama Allah seolah memenuhi angkasa. Atau ketenangan dan kekhusyukan setiap salat Idul Fitri dan khutbah tengah dilaksanakan.

Hidangan opor ayam, ketupat, atau hidangan lezat lainnya yang tersedia di meja makan juga ikut melengkapi momen Idul Fitri. Belum lagi, Idul Fitri menjadi kesempatan yang berharga sebagai ajang silaturahmi saat seluruh keluarga bertemu dengan sanak saudara dan kerabat terdekatnya untuk saling memaafkan satu sama lain. Apabila ada anggota keluarga yang merantau, maka ia akan pulang ke kampung halamannya. Atau ketika seluruh keluarga datang ke pemakaman untuk ziarah dan mendoakan anggota keluarganya yang telah meninggal.

Namun sayangnya, di tengah sukacita hari raya Idul Fitri yang kita rasakan, ternyata tersimpan kepiluan dan derita yang dialami oleh saudara-saudara Muslim kita di Palestina.

Bayangkan saja, puluhan ribu warga Palestina memenuhi seluruh jalur Gaza untuk menggelar salat Idul Fitri pada hari Jumat 20 Maret. Salat Idul Fitri yang mereka laksanakan ternyata digelar di dekat reruntuhan bangunan masjid dan area-area terbuka dekat kamp pengungsian.

Saat kondisi Gaza masih porak-poranda, saat tak ada suasana penuh kebahagiaan seperti yang kita rasakan, saat yang tersisa hanya puing bangunan yang hancur, lantunan takbir tetap menggema seolah tengah merobek angkasa dan meninggi di atas kehancuran besar akibat agresi Israel.

Tidak sampai di sana, suasana hari raya di Gaza juga diselimuti duka yang mendalam. Perang dan genosida yang mereka hadapi membuat ribuan warga Gaza kehilangan orang-orang tercinta beserta rumah mereka.

Idul Fitri pada bulan Syawal tahun 1447 Hijriyah ini datang ketika kondisi kemanusiaan di Gaza sedang sulit. Mengapa? Sebab blokade masih berlangsung disertai krisis pengungsian yang semakin memburuk, menyebabkan ratusan ribu warga Palestina yang tinggal di kamp pengungsian dan tenda-tenda darurat semakin kekurangan akses terhadap kebutuhan pangan, air bersih, serta beberapa kebutuhan pokok lainnya.

Berita yang dialami warga Gaza ternyata semakin tak terlihat dan terlupakan oleh dunia akibat konflik politik di beberapa negara yang semakin memanas, terutama negara AS dan Israel yang sedang fokus memerangi Iran.

Ironisnya, negara-negara Arab justru bersekutu dengan negara kafir dengan memberi dukungan dan bantuan kepada AS dan Israel untuk memerangi Iran, serta melupakan kondisi di Gaza.

Kaum Muslimin di seluruh dunia diumpamakan satu tubuh yang sama. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang merasa sakit, maka anggota tubuh yang lainnya akan ikut merasakan sakit. Sehingga apabila ada kaum Muslim yang tengah merasakan derita, maka kaum Muslim yang lain pun akan ikut menanggung derita tersebut dan berusaha mencari jalan keluar agar terbebas dari penderitaan yang mereka rasakan.

Bagaimanapun, kondisi mengenaskan pada saat hari raya Idul Fitri di Gaza semestinya ikut dirasakan dan menjadi tanggungan bagi kaum Muslim yang ada di seluruh penjuru dunia.

Di dalam Al-Qur’an surat Al-Fath ayat 29, kita diajarkan untuk bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap sesama Muslim serta bersikap tegas dan keras terhadap orang-orang kafir. Ukhuwah Islamiyah menjadi pengikat bagi seluruh kaum Muslim yang ada di seluruh penjuru dunia sehingga kita harus ikut melibatkan diri untuk membebaskan penderitaan saudara-saudara Muslim.

Tanah Palestina merupakan bagian dari wilayah kaum Muslim yang harus dijaga. Maka di saat Palestina hendak direbut Israel, seluruh kaum Muslim harus berusaha mempertahankan tanah Palestina agar tak jatuh di tangan orang-orang kafir. Maka dari itu Allah memerintahkan kaum Muslim untuk berjihad sebagaimana yang telah tertera dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 123.

Lantas jihad yang sempurna hanya akan terwujud saat kaum Muslim berada dalam satu struktur negara yang sama, yakni di bawah kepemimpinan Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.


Share this article via

0 Shares

0 Comment