| 30 Views
Dibalik Muda yang Terluka: Pelajar Dalam Bayang Narkoba
Oleh: Ludfiya Cahyani
Kasus keterlibatan pelajar dalam peredaran narkoba semakin sering terjadi dan menjadi peringatan serius bagi kondisi generasi muda saat ini. Di Desa Kangga, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, aparat kepolisian menangkap dua pelaku berinisial SH (26) dan KF yang masih berstatus pelajar saat hendak mengedarkan sabu yang disembunyikan di dalam tanah di samping rumah. Fakta ini menunjukkan bahwa aktivitas peredaran narkoba tidak lagi terbatas pada kalangan tertentu, tetapi telah merambah hingga ke lingkungan pelajar.
Kasus serupa juga terjadi di Kendari, ketika seorang pelajar berinisial HS (19) ditangkap dengan puluhan paket sabu yang disebar di berbagai lokasi. Jumlah paket yang ditemukan menunjukkan bahwa pelaku tidak sekadar coba-coba, tetapi sudah terlibat dalam distribusi yang terorganisir. Hal ini mengindikasikan adanya jaringan yang lebih besar yang memanfaatkan pelajar sebagai bagian dari rantai peredaran.
Jika ditinjau lebih jauh, fenomena ini memperlihatkan pergeseran peran pelajar dalam kasus narkoba. Mereka tidak lagi hanya sebagai korban penyalahgunaan, tetapi juga sebagai pelaku aktif. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan, mengingat pelajar seharusnya berada dalam fase pembentukan jati diri dan pengembangan potensi. Lebih dari itu, keterlibatan pelajar juga menunjukkan bahwa narkoba telah masuk ke ruang-ruang yang sebelumnya dianggap aman, seperti lingkungan pendidikan dan keluarga. Artinya, masalah ini sudah bersifat sistemik dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan parsial. Jika tidak segera ditangani secara serius, maka ancaman terhadap masa depan generasi akan semakin besar.
Kegagalan sistem dalam menjaga generasi
Fenomena pelajar yang terlibat dalam jaringan narkoba tidak bisa dilepaskan dari kerangka sistem yang membentuk kehidupan mereka. Dalam sistem sekuler yang berjalan saat ini, agama cenderung diposisikan sebagai urusan privat, bukan sebagai landasan dalam seluruh aspek kehidupan. Akibatnya, nilai-nilai moral dan spiritual tidak menjadi fondasi utama dalam pembentukan kepribadian generasi.
Dalam dunia pendidikan, orientasi yang lebih dominan adalah pencapaian akademik dan keberhasilan material. Ukuran keberhasilan sering kali dilihat dari nilai, prestasi, dan peluang kerja, sementara pembentukan karakter tidak mendapatkan porsi yang seimbang. Hal ini menyebabkan munculnya generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi lemah dalam kontrol diri dan prinsip hidup.
Di lapangan, kondisi ini terlihat dari mudahnya pelajar terpengaruh oleh lingkungan. Ketika mereka dihadapkan pada tawaran keuntungan cepat melalui jalur ilegal seperti menjadi kurir atau pengedar narkoba, sebagian dari mereka tidak memiliki filter yang kuat untuk menolak. Apalagi jika didukung oleh kondisi ekonomi yang sulit atau lingkungan pergaulan yang permisif.
Selain itu, lemahnya peran keluarga turut memperparah keadaan. Dalam banyak kasus, orang tua tidak memiliki cukup waktu atau kapasitas untuk mendampingi anak secara optimal. Kurangnya komunikasi, pengawasan, dan keteladanan menjadikan anak mencari identitas di luar rumah yang tidak selalu mengarah pada hal positif.
Dari sisi masyarakat, sikap individualistik juga menjadi masalah. Kepedulian sosial yang menurun membuat kontrol sosial melemah. Lingkungan yang seharusnya menjadi benteng justru menjadi ruang yang bebas tanpa pengawasan. Akibatnya, penyimpangan seperti peredaran narkoba dapat berkembang tanpa hambatan.
Sementara itu, dari sisi negara, penegakan hukum yang belum maksimal memberikan ruang bagi jaringan narkoba untuk terus bergerak. Hukuman yang tidak memberikan efek jera serta lemahnya pengawasan terhadap peredaran narkoba membuat masalah ini terus berulang. Bahkan, pelajar yang seharusnya dilindungi justru menjadi target empuk bagi jaringan tersebut.
Dengan demikian, keterlibatan pelajar dalam narkoba merupakan hasil dari akumulasi berbagai kelemahan sistem, mulai dari pendidikan, keluarga, masyarakat, hingga negara. Ini menunjukkan bahwa persoalan ini bersifat struktural dan membutuhkan solusi yang komprehensif.
Solusi Islam
Islam menawarkan solusi yang menyeluruh dalam menjaga generasi dari kerusakan, dengan menjadikan akidah sebagai fondasi utama dalam kehidupan. Dalam sistem pendidikan Islam, tujuan utamanya adalah membentuk kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyah), yaitu individu yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang selaras dengan ajaran Islam. Dengan demikian, setiap tindakan didasarkan pada kesadaran akan halal dan haram.
Pembentukan ini dimulai dari keluarga. Orang tua memiliki peran strategis sebagai pendidik pertama dan utama. Penanaman nilai-nilai Islam sejak dini, disertai dengan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari, akan membentuk karakter anak yang kuat. Anak tidak hanya mengetahui mana yang benar, tetapi juga memiliki dorongan internal untuk melaksanakannya.
Di tingkat masyarakat, Islam mendorong terciptanya lingkungan yang aktif dalam menjaga kebaikan melalui amar makruf nahi munkar. Masyarakat tidak bersikap pasif terhadap penyimpangan, tetapi berperan sebagai pengontrol sosial yang memastikan nilai-nilai Islam tetap terjaga. Dengan adanya kepedulian kolektif, ruang gerak penyimpangan dapat dipersempit.
Sementara itu, negara dalam Islam memiliki peran yang sangat penting sebagai penjaga (ra’in) bagi rakyatnya. Negara wajib menutup seluruh celah yang dapat membuka jalan bagi peredaran narkoba, baik melalui pengawasan yang ketat maupun kebijakan yang preventif. Selain itu, penerapan sanksi hukum yang tegas dan memberikan efek jera menjadi bagian penting dalam menjaga masyarakat dari kejahatan.
Lebih dari itu, negara juga bertanggung jawab memastikan kesejahteraan rakyat, sehingga tidak ada dorongan ekonomi yang memaksa individu terlibat dalam aktivitas ilegal. Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar serta adanya sistem pendidikan dan sosial yang berbasis nilai Islam, maka potensi keterjerumusan generasi dapat diminimalkan.
Dengan keterlibatan antara individu, keluarga, masyarakat, dan negara, Islam menghadirkan solusi yang tidak hanya mengatasi gejala, tetapi juga menyentuh akar permasalahan. Pendekatan ini memungkinkan terbentuknya generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas moral yang kuat, sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan tanpa kehilangan arah.
Wallahu a’lam bisshowab.