| 8 Views
Wibawa Guru Direndahkan, Buah Sistem Sekuler Kapitalistik
Oleh: Ummu Syathir
Belakangan ini viral video pelecehan seorang guru oleh sejumlah siswa di salah satu sekolah di Purwakarta, menunjukkan dekadensi moral di kalangan pelajar. Terlebih, guru yang dilecehkan tersebut merupakan guru PKn yang mengajarkan nilai-nilai moral yang semestinya dapat berdampak pada pembentukan karakter berbudi pekerti yang baik. Sungguh, dekadensi moral yang terjadi pada kalangan siswa merupakan efek domino dari perkembangan zaman yang tidak dapat memfilter hal-hal negatif yang menyerang mentalitas, terutama di kalangan pelajar. Serangan budaya liberal yang menyerang melalui berbagai arah, terutama dunia maya (cyberspace) yang menjadi konsumsi sehari-hari, merupakan bumerang yang mengikis moralitas.
Hampir semua platform media sosial yang paling ramai dikunjungi oleh anak dan remaja berasal dari negara-negara sekuler kapitalis. Media menjadi bisnis yang menggiurkan bagi para kapitalis. Selain menjadikan negeri-negeri Muslim sebagai pasar, mereka juga semakin menanamkan ide-ide sekuler dan liberal yang menjadikan kaum Muslim tetap berada di bawah pengaruh negara sekuler yang dimotori oleh Amerika. Pengarus ide-ide sekuler dan liberal melalui digitalisasi sangat berpotensi mengikis keislaman kaum Muslim, terutama pemuda.
Di sisi lain, pendidikan berbasis sekularistik meminggirkan Islam sebagai aturan kehidupan. Agama yang mengajarkan nilai-nilai luhur hanya dipelajari dalam pelajaran formal dengan jumlah jam yang minim. Moderasi beragama terus digaungkan dan diterapkan, sementara nilai-nilai kebebasan dijunjung tinggi dalam segala aspek. Peluang kejahatan dijajakan secara bebas di era digitalisasi, yang berdampak buruk bagi kehidupan remaja, menjadikan segala keputusan personal mereka sebagai privasi yang tidak perlu dipermasalahkan.
Sistem ini juga telah menciptakan berbagai standar sosial yang berorientasi pada kemewahan materi. Kondisi ini telah membuat masyarakat berlomba-lomba untuk mengejar kebahagiaan yang bersifat jasmaniah semata. Sehingga wajar manusia akan menemui kehidupan yang penuh dengan kehampaan akibat mengejar kebahagiaan ilusif, kosong dari nilai-nilai spiritual, kemanusiaan, dan moral. Oleh karena itu, wajar jika di kalangan pelajar pun marak kasus perundungan (bullying), baik pada sesama pelajar maupun terhadap guru.
Islam Memuliakan Guru
Guru merupakan lentera bagi manusia, memiliki visi yang mulia, yakni mengajarkan kebaikan kepada manusia. Tanpa perjuangan mereka, mustahil manusia memperoleh kejayaan ilmu pengetahuan yang mengantarkan pada kejayaan peradaban. Dalam Islam, guru menempati posisi yang tinggi kedudukannya, sebagaimana firman Allah Swt.: “Allah mengangkat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadalah: 11). Jadi, sepatutnya manusia juga lebih memuliakan seorang yang berilmu.
Islam memandang kehidupan dengan tolok ukur akidah Islam. Tidak ada yang lebih tinggi dari iman kepada Allah Swt. Dengan sudut pandang ini, maka tolok ukur perbuatan adalah ketentuan Allah dengan batasan halal dan haram sesuai syariah-Nya. Kebahagiaan kaum Muslim terletak pada ketaatannya terhadap syariah-Nya secara kafah. Kaum Muslim, terkhusus pemuda, diarahkan untuk memahami bahwa tidak boleh mengambil ajaran selain Islam jika ingin bangkit dan selamat: “Islam itu tinggi, dan tidak ada yang akan dapat mengatasi (mengungguli) ketinggiannya (agama Allah ini).” (HR. Daruquthni).
Dalam Islam juga dianjurkan mendahulukan adab sebelum ilmu. Pencarian dan penguasaan ilmu yang tidak didahului oleh adab akan melahirkan petaka, hilangnya keberkahan, dan munculnya kesombongan. Dengan membaca sirah Rasulullah Saw., kita akan dapati di sekeliling beliau ada banyak pemuda yang berkarya demi kemajuan Islam. Zaid bin Haritsah menjadi penulis dan penerjemah Rasulullah Saw. yang dengan cepat mempelajari banyak bahasa demi mencegah intrik-intrik musuh-musuh Islam. Mush’ab bin Umair, duta pertama dakwah Islam ke Madinah, berusia 22 tahun. Ali bin Abi Thalib berusia 8 tahun menjadi pemuda pertama masuk Islam. Pada masa kekhilafahan Abbasiyah, kita mengenal Shalahuddin Al-Ayyubi yang menaklukkan Baitul Maqdis.
Pada masa Utsmani ada Sultan Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel. Dari sosok-sosok itu kita memahami bahwa pemuda Muslim adalah pionir perubahan, pembela agama, pemimpin penakluk, dan para ulama terkemuka. Mereka terbina dengan akidah dan syariah Islam. Pemikiran, perasaan, dan perilaku mereka sesuai dengan ketentuan Islam. Mereka dibina oleh Rasulullah Saw. untuk memahami Islam; menjalankan, mendakwahkan, dan membela Islam.
Oleh karena itu, dengan ketiadaan negara Islam yang menaungi kaum Muslim, kita harus sadar dan membentengi diri dengan pemikiran Islam agar terbentuk pola pikir dan pola sikap Islami, serta terus mendakwahkan Islam ke tengah-tengah umat, mencabut pemikiran rusak sekuler liberal dari benak umat, terkhusus pemuda, dan mengisinya dengan pemahaman Islam sehingga mereka sadar akan kedudukannya sebagai hamba Allah Swt. Selain itu, yang lebih penting adalah menyeru kaum Muslim di seluruh dunia untuk memperjuangkan sebuah institusi yang menerapkan Islam secara kafah, yang dengannya dapat menjadi perisai yang menghalangi pemikiran-pemikiran yang merusak.