| 44 Views
Urbanisasi Pasca Lebaran, Wujud Kesenjangan Ekonomi
TEMPO/Fully Syafi
Oleh: Ummu Saibah
Sahabat CendikiaPos
Fenomena urbanisasi setelah lebaran bukanlah hal yang baru di negeri ini, setelah hampir seluruh penduduk kota mudik ke kampung halamannya untuk merayakan idul Fitri atau lebaran, maka pasca lebaran mereka kembali balik ke kota dengan membawa serta sanak saudara bahkan tetangga untuk mengadu nasib, mencari pekerjaan di kota, hal ini terjadi setiap tahun.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka Net Recent Migration (Migrasi Risen Neto) Indonesia tahun 2025, secara nasional, migrasi risen neto tercatat sekitar 1.2 juta jiwa, menandakan arus masuk ke kota lebih besar daripada arus keluar. BPS juga mencatat, dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 287.6 juta jiwa pada tahun 2025, sekitar 54.8 persen penduduk tinggal di perkotaan, sementara 45.2 persen sisanya tinggal di pedesaan.
Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Bonivasius Prasetya Ichtiarto, mengatakan, "Risiko bonus demografi berubah menjadi beban demografi sangat nyata, dimana kota terbebani infrastruktur padat, sementara desa terjadi penuaan populasi dan angka pengangguran tetap menjadi ancaman yang menghantui,".(27-3-2026 metrotv news.com).
Urbanisasi menunjukkan bahwa ketimpangan ekonomi antara desa dengan kota itu nyata. Penduduk yang tinggal di pedesaan memandang bahwa daerah perkotaan lebih menjanjikan lapangan pekerjaan dan kemudahan dalam mencari uang, sehingga banyak orang memilih meninggalkan pedesaan untuk mencari pekerjaan maupun menetap di perkotaan. Hal ini mengakibatkan daerah pedesaan kehilangan sumber daya manusia. Sedangkan kota terbebani secara demografi akibat banyaknya penduduk yang masuk ke kota.
Kapitalisme menciptakan kesenjangan ekonomi antara desa dan kota
Secara alami sistem kapitalis akan menggiring pertumbuhan ekonomi di daerah perkotaan saja. Karena infrastruktur perkotaan yang lebih memadai dari pedesaan, akses transportasi lebih mudah seperti tersedianya jalan Tol, bandara internasional, pelabuhan dan lainnya. Di perkotaan pilihan tenaga kerja pun lebih beragam, hal ini mendorong investasi hanya dipusatkan di perkotaan saja.
Alokasi anggaran yang bersifat Jakarta sentris dan kota sentris, mengakibatkan kemajuan di pedesaan terabaikan. Terbukti dengan prioritas pembangunan infrastruktur di daerah perkotaan seperti pembangunan jalan tol, pelebaran jalan, pembangunan MRT, bandara, dll. Tidak hanya itu di Perkotaan fasilitas pendidikan dan kesehatan lebih banyak dan beragam dengan kualitas yang jauh berbeda dari pedesaan. Keadaan ini semakin menciptakan jurang kesenjangan ekonomi antara perkotaan dan pedesaan. Jangankan mendongkrak pertumbuhan ekonomi desa, justru banyak penduduk pedesaan bermigrasi ke daerah perkotaan untuk mencari pekerjaan dan memperbaiki perekonomian keluarga.
Memang ada program ekonomi untuk desa (seperti kopdes, bumdes) namun sifatnya pencitraan, tidak benar-benar untuk memajukan desa. Banyak kendala seperti kekurangan modal, sumber daya manusia yang tidak memadai, manajemen yang kurang matang, bahkan potensi penggelapan dana. Program ekonomi untuk desa justru menjadi ajang bancakan proyek yang menguntungkan segelintir pihak.
Islam Menjamin Kemajuan di Seluruh Wilayah Negeri
Politik ekonomi Islam mewujudkan pembangunan yang merata di desa maupun di kota. Islam membebankan kesejahteraan rakyat kepada negara sehingga negara berkewajiban untuk menjamin pemenuhan kebutuhan orang per orang. Kewajiban inilah yang mendorong negara untuk memeratakan kemajuan baik di daerah perkotaan maupun pedesaan, pembangunan infrastruktur akan lebih merata.
Sektor pertanian dikelola dengan baik sehingga memajukan masyarakat desa. Negara berkewajiban untuk memberikan bantuan dan juga pengawasan terhadap keberlangsungan usaha rakyatnya misalnya dengan memberikan modal, menunjang tersedianya peralatan bertani ataupun berternak, menjamin harga pupuk tetap terjangkau oleh masyarakat, begitu pula dalam bidang peternakan. Negara juga mendukung adanya penelitian demi kemajuan pertanian maupun peternakan.
Pada masa kekhalifahan Abbasiyah (750-1258 M), pertanian mengalami kemajuan yang signifikan. Sistem irigasi yang canggih dikembangkan, seperti kanal dan bendungan, untuk meningkatkan produksi pertanian. Teknologi pertanian seperti pompa air dan mesin penggiling gandum diperkenalkan, meningkatkan efisiensi produksi. Tanaman baru seperti kapas, gula, dan kopi diperkenalkan dan dikembangkan, meningkatkan keragaman produksi pertanian. Peternakan sapi, kambing, dan domba dikembangkan, meningkatkan produksi daging dan susu. Bahkan dunia pada masa itu mengenal wilayah kekhalifahan dengan kekhasan produknya seperti Mesopotamia (sekarang Irak) menjadi salah satu pusat produksi gandum terbesar di dunia, Mesir menjadi salah satu pusat produksi kapas terbesar di dunia, Andalusia (sekarang Spanyol) menjadi salah satu pusat produksi zaitun dan anggur terbesar di dunia.
Selain itu muncul para ahli pertanian seperti Ibn al-Awwam seorang ahli pertanian dengan buku karyanya "Kitab al-Filaha" (Buku Pertanian), Al-Jazari Seorang insinyur yang mengembangkan mesin penggiling gandum yang revolusioner. Ibn Bassal Seorang ahli pertanian yang mengembangkan sistem irigasi yang canggih di Andalusia. Dan masih banyak lagi contoh lainnya. Kegemilangan masa kekhalifahan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kepemimpinan yang satu oleh umat Islam, yaitu kepemimpinan seorang Khalifah yang menerapkan seluruh hukum dan konsep kehidupan sesuai syariat Islam. Yang akan membawa umat Islam pada kejayaan dan kegemilangan generasi.
Wallahu alam bissawab.