| 89 Views

Totalitas Meneledani Rasulullah SAW

Oleh: Yeti Atho'

Dalam Quran surat Al-Anbiya (21): 107, Allah SWT berfirman, “Tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.”

Bagi orang mukmin rahmat itu adalah hidayah. Bagi orang munafik rahmat itu berupa rasa aman mereka dari pembunuhan. Bagi orang kafir rahmat itu berupa penundaan azab atas mereka, berbeda dengan umat-umat sebelumnya yang langsung terkena azab dari Allah ketika mereka durhaka.

Al-Qadhi ‘Iyadh mengenai makna rahmat Rasulullah SAW untuk seluruh alam adalah sebagai berikut: Bagi orang mukmin, rahmat beliau berupa hidayah, ilmu, dan petunjuk yang menyelamatkan dari kesesatan dan mengantarkan kepada surga. Bagi orang munafik, rahmat itu berupa rasa aman mereka di dunia, karena seandainya Rasulullah tidak datang dengan syariatnya, niscaya mereka akan binasa dan terbongkar keburukannya. Bagi orang kafir, rahmat itu berupa tertundanya azab yang seharusnya segera ditimpakan. Allah menangguhkan hukuman mereka selama Rasulullah SAW masih hidup di dunia. Selain itu, mereka juga mendapatkan manfaat dari keadilan hukum Islam dan keberkahan hadirnya beliau.

Namun, faktanya hari ini sungguh menyakitkan. Sebagian orang mengaku mewarisi rahmat Rasulullah, yaitu dengan ringan tangan mencaci, bahkan mereka keras dan amat kasar kepada sesama Muslim. Sebaliknya mereka berkasih sayang kepada orang kafir. Padahal karakter umat Muhammad SAW. adalah keras kepada orang kafir dan lemah lembut diantara sesama muslim.

Di dalam Al-Qur’an tidak ada perintah Nabi yang di junjung tinggi melebihi Nabi Muhammad SAW. Nabi SAW disebut teladan yang baik (uswatun hasanah) yakni model peran (Al-Ahzab:29). Allah SWT pun menyebut baginda Rasul SAW sebagai uswatun hasanah dengan sifat-sifat pribadi yang benar-benar agung (Al-Qalam (64): 4).

Keagungan itu yang dicapai oleh Nabi SAW terdapat dalam QS Al-An’am. Dalam surat itu diceritakan nabi terdahulu ada 18 nabi. Dikemukakan pula pada ayat 90 setelah menyebut keutamaan Nabi lalu Allah SWT. menegaskan: “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” Firman ini menunjukkan kewajiban umat Islam meneladani kemuliaan dan kepribadian Rasulullah SAW sepenuhnya. Sehingga umat Islam dilarang mencaci, menghina, atau melecehkan pribadi Rasulullah. Bahkan Al-Qur’an sendiri dalam surat Al-Ahzab menegaskan bahwa melecehkan Nabi hukumnya haram, dan pelakunya wajib dihukum. Hukum ini diambil dari ayat Al-Qur’an dan sunnah.

Hak Nabi SAW atas Umatnya

Banyak hak Nabi Muhammad SAW yang wajib ditunaikan oleh umatnya. Di antaranya adalah:

Pertama, mencintai Nabi SAW melebihi kecintaan pada segala sesuatu. Allah SWT berfirman:
“Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah: 24)

Al Qadhi ‘Iyadh menyatakan ayat ini cukup menjadi anjuran bimbingan serta hujah, untuk mewajibkan mencintai beliau dan kelayakan beliau mendapatkan kecintaan tersebut. Allah telah menegur orang yang menjadikan harta keluarga dan anaknya lebih dicintai dari Allah dan rasulnya. Allah mengancam mereka dan mengutuk mereka dan perbuatannya. Karena itu tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan (azabnya). Kemudian di akhir ayat tersebut menyebutkan orang yang fasik, dan orang tersebut termasuk orang yang sesat dan tidak mendapatkan petunjuk Allah.

Nabi SAW juga bersabda:
“Tidak beriman salah seorang dari kalian sehingga aku lebih dia cintai daripada bapaknya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhari)

Kedua, yaitu membuktikan kecintaannya. Ketahuilah siapa saja yang mencintai sesuatu pasti diutamakan mengikuti dan berusaha meneladaninya. Kalau tidak demikian, berarti kecintaannya tidak dianggap benar, hanya pengakuan belaka. Orang yang benar kecintaannya kepada Rasulullah SAW adalah orang yang menampakkan tanda-tandanya, tersebar pada sikap, tanda cinta kepada beliau adalah meneladani beliau, menyamakan sunnahnya, mengikuti semua ucapan dan perbuatan, menjalankan segala perintahnya dan menjauhi larangannya, serta menghiasi diri yang beliau contohkan dan adab-ada yang beliau contohkan. Baik dalam keadaan susah maupun senang dalam keadaan lapang maupun sempit. Pembuktian cinta kepada rasulullah itu meliputi beberapa hal:

1. Membenarkan seluruh berita Rasulullah SAW.
Apapun yang beliau kabarkan oleh Rasul SAW masuk akal atau tidak bisa di indera atau tidak wajib diyakini kebenerannya, Sebab ucapan Rasul SAW wahyu dari Allah SWT. Tidaklah yang diucapkan itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepada dirinya (QS. An-Najm: 3-4).

2. Mentaati Rasulullah dengan mengamalkan perintahnya dan meninggalkan larangannya, wajib bagi umat mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah SAW. Banyak ayat Al-Qur’an yang menegaskan kewajiban itu. Seperti firman Allah SWT:“Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.” (QS. Muhammad: 33)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan, para Sahabat bertanya, “Wahai Rasûlullâh! Siapakah yang enggan?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Barangsiapa yang mentaatiku niscaya ia akan masuk surga, dan siapa yang bermaksiat kepadaku maka dia enggan (untuk masuk surga)” (HR. Bukhari).

3.  Menjadikan Rasul SAW menjadikanhakim dan patuh pada keputusannya serta memberikan pejelasan keharusan bagi para sahabat adalah tunduk pada ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman:

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman sampai mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisā’: 65)

Beberapa poin penting dari ayat di atas adalah sebagai berikut:
1. Wajib berhukum kepada Rasulullah SAW dalam perkara apa pun yang diperselisihkan.
2. Wajib melenyapkan keberatan (haraj) dalam hati, artinya kesiapan bertalim fardha kepada rasul lahir dan batin.
3. Berserah diri (taslim) secara total pada semua perkara, bukan hanya pada perkara yang sedang diperselisihkan saja.

Jadi tidak ada ruang lagi bagi manusia untuk menentang ketetapan dan hukum Allah dan Rasul-Nya, yang ditetapkan kepada manusia. Jangankan menentang keberatan saja tidak boleh. Jangankan keberatan, sikap pasrah, pasca semua urusan saja tidak boleh.

Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW dalam Politik dan Pemerintahan.

Rasul SAW bersabda: “Siapa saja yang mengikuti sunnahku, sungguh ia telah mencintaiku, dan bersamaku jadi penghuni surga.” (HR. At-Tirmidzi)

Kata sunnah pada hadis di atas bermakna jalan hidup Rasul atau manhaj kenabian. Rumah Rasulullah mencakup semua ajarannya, mulai perkara ibadah hingga perkara politik dan pemerintahan.

Rasulullah SAW bahkan berwasiat, bahwa sistem pemerintahan yang harus dijalankan adalah yang mengikuti sunnah Rasulullah SAW., dan sunnah Khulafaur Rasyidin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun kalian dipimpin seorang budak. Sungguh, orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan Sunnah khulafaur rosyidin al-mahdiyyin (yang mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan amal). Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah setiap perkara yang diada-adakan, karena setiap bidah adalah sesat.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia berkata bahwa hadits ini hasan sahih). [HR. Abu Daud, no. 4607 dan Tirmidzi, no. 2676. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih].

Hal di atas adalah hadist politik yang sangat penting dan agung. Di dalamnya Rasulullah SAW berwasiat beberapa hal:

1. Bertaqwa kepada Allah.
2. Perintah tunduk patuh dan taat kepada pemimpin pada pemerintahan Islam, bagaimanapun kondisinya.
3. Setelah seruan kenabian akan banyak perselisihan
4. Perintah mengikuti sunnah Nabi Muhammad dan sunnah Khulafa Rasyidin yang dapat petunjuk dalam hal penyelenggaraan pemerintah
5. Perintah untuk berpegang teguh pada as-sunnah seperti menggigit sesuatu dengan gigi geraham.
6. Larangan atas perilaku bid’ah adalah kesesatan.
7. Menjauhi perkara bid’ah.

Rasulullah SAW memerintahkan kaum muslim untuk mentaati para pemimpin karena di dalamnya maslahat yang besar selama para pemimpin itu berpegang teguh pada sistem islam menyeru kitabullah. Jika tampak dari mereka kemungkaran, maka mereka diperingatkan dan di ingatkan. Selanjutnya ada penjelasan agar kita mengikuti sunnah khulafaur rasidin. Khilafah jelas identik dengan kepemipinan politik istilah sunnah adalah menunjukan adanya sunnah pada khilafah di kalangan sahabat berkaitan dengan kepemimpinan yang diperjelas dalam hadis lainnya. Selanjutkan akan ada kembali kekhilafahan yang mengikuti manhaj kenabian. Khalifah umra bin abdul aziz menegaskan Rasulullah SAW dan para ulil amri (khulafaur rasyidin) telah menggariskan adanya sunnah yakni sikap berpegang teguh kepada kitabullah dan menyampaikan ketaatan kepada Allah menegakkan kekuatan di atas agama Allah tidak boleh seorangpun dari mahluknya yang mengubahnya. Tak boleh pula mengggantikan dengan sunnah lainnya.

Siapa saja yang mengambil putusan jika darinya akan tersesat, siapa saja yang mencari kemenangan akan binasa. Kemenangan siapa saja yang meninggalkan syari’ah dengan anggapan selain jalan yang benar, sesungguhnya Allah akan menyesatkan ke dirinya pada apa-apa yang ia cari tempat bergantung dan menyeretnya ke dalam jahannam. Ia adalah seburuk-buruk tempat kembali. (Asy-Syura: 44)

Penutup

Inilah makna mencintai Nabi SAW, yakni mencintai syari’ahnya secara keseluruhan. Mencintai syari’ahnya terwujud dengan menegakkan sunnahnya, dengan menegakkan Islam secara total dalam kehidupan. Kecintaan itulah yang menuntut setiap seorang Muslim berada di barisan pejuang yang memperjuangkan tegaknya kehidupan Islam. Nilai apapun posisinya, mengikuti jalan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hakikatnya adalah jalan lurus. Selain syari’ah Allah itu adalah jalan kesesatan, kehancuran dan kebinasaan.

Wallahu’alam bishhowab


Share this article via

34 Shares

0 Comment