| 3 Views

Menanti Fajar Kebebasan di Balik Tragedi Laut Internasional

Global Sumud Flotilla (Instagram.com/globalsumudflotilla)

Oleh: Aisyah Farha 

Pendidik Generasi

Arogansi entitas Zionis di panggung dunia seolah tidak pernah menemui titik jenuh. Kali ini, mereka kembali mempertontonkan tindakan ilegal dengan menyita kapal-kapal kemanusiaan "Global Sumud Flotilla" yang tengah melintas di perairan internasional dekat Yunani. Merujuk pada laporan dari Inilah.com berjudul "Spanyol Kecam Israel Usai Tahan Aktivis Global Sumud Flotilla" (01/05/2026), insiden brutal ini berujung pada penangkapan 211 aktivis dan melukai sedikitnya 31 orang lainnya. Zionis mencoba berkelit dengan narasi bahwa misi tersebut berafiliasi dengan Hamas—sebuah dalih klasik yang selalu digunakan untuk mengkriminalisasi setiap upaya solidaritas global. Padahal, agresi yang terjadi selama dua tahun terakhir telah melenyapkan lebih dari 72.000 jiwa dan menghancurkan hampir seluruh infrastruktur sipil di Gaza. Bahkan, data OHCHR mengonfirmasi bahwa Gaza kini menjadi wilayah paling maut bagi jurnalis dengan angka kematian mencapai hampir 300 orang sejak Oktober 2023.

Tindakan premanisme di laut lepas ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa hukum internasional hanyalah alat tumpul di hadapan penjajah. Pelanggaran batas wilayah tersebut dilakukan secara sadar untuk melanggengkan blokade yang mencekik warga Gaza. Namun, sisi yang paling menyakitkan adalah realitas politik di dunia Muslim saat ini; tidak ada satu pun kekuatan militer negeri-negeri sekitar yang bergerak untuk melindungi armada bantuan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa struktur negara-bangsa saat ini telah memandulkan fungsi kepemimpinan dalam membela umat, justru lebih condong pada pengamanan kepentingan global. Selama orientasi politik tidak berlandaskan pada akidah yang kuat, maka negeri-negeri Muslim hanya akan terus menjadi sasaran empuk penjajahan kapitalis yang zalim. Masalah utamanya bukan sekadar soal logistik, melainkan ketiadaan otoritas politik yang mampu menyatukan potensi kekuatan umat Islam.

Gaza bukanlah entitas asing, ia adalah bagian tak terpisahkan dari tubuh umat Islam yang haram untuk ditelantarkan di bawah cengkeraman musuh. Membiarkan pengepungan ini berlanjut tanpa langkah riil adalah kemungkaran yang sangat besar. Secara syariat, umat ini membutuhkan institusi yang mampu mengonsolidasikan kekuatan pertahanan demi melindungi jiwa manusia. Solusi hakiki atas penindasan ini adalah tegaknya kembali kepemimpinan politik yang satu di bawah naungan syariat. Sebagaimana pesan Rasulullah SAW: "Sesungguhnya Al-Imam (Khalifah) itu merupakan perisai, orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya" (HR. Muslim). Kerangka perubahan ini harus dibangun melalui kesadaran ideologis yang matang, bukan sekadar respons emosional sesaat. Maka, perjuangan mengembalikan kemuliaan Islam adalah jalan utama untuk mengakhiri nestapa di Palestina secara tuntas.

Kemarahan kita atas penyitaan kapal ini harus dikonversi menjadi energi dakwah yang sistematis. Sudah saatnya kita meninggalkan pola lama yang hanya bergantung pada kecaman dan doa tanpa adanya gerakan untuk mengubah keadaan secara mendasar. Mari kita perkuat komitmen untuk terus semangat mengkaji Islam secara kaffah agar kita mampu memahami peta masalah dan solusinya secara jernih. Kita butuh persatuan yang nyata, bukan sekadar simbolis, demi mengembalikan marwah umat dan membebaskan setiap jengkal tanah kaum Muslimin dari belenggu kezaliman.


Share this article via

0 Shares

0 Comment