| 5 Views

Harga Plastik Naik Drastis

Harga plastik di pasar tradisional terus melonjak setiap harinya. Senin, (6/4/2026).(KOMPAS.com/ SHINTA DWI AYU)

Oleh: Rara
Kota Banjar

Di lansir dari Harapanrakyat.com (04-04-2026) harga kantong plastik berbagai jenis dan ukuran dalam tiga hari terakhir  mengalami kenaikan cukup signifikan. Kenaikan harga plastik ini dikeluhkan para pelaku UMKM di Desa Ciakar, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, karena berdampak langsung pada biaya produksi.

Engamat ekonomi di Kecamatan Cipaku, menilai kenaikan harga plastik dipengaruhi oleh faktor global dan domestic. Ia menjelaskan, konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah berpotensi mengganggu distribusi energi, termasuk minyak bumi sebagai bahan baku utama plastic. Selain faktor global, ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku plastik juga menjadi salah satu penyebab kenaikan.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman mei 2026 naik lebih dari 3% dan di tutup pada USD 97,87 per barel.  Harga minyak mentah Brent patokan harga minyak global naik lebih dari 1% dan ditutup pada USD 95,92 untuk pengiriman Juni 2026, sedangkan harga Avtur Domestik melonjak tajam per 1 April 2026 mencapai sekitar 70% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Dibandara Sukarno Hatta Maret 2026 harga Avtur Domestik naik dari Rp 13.65651 per liter, sedangkan pada bulan April 2026 menjadi Rp 23,551,08 per liter, atau melonjak menjadi 72,45%. Rute Internasional harga naik 80,32% dari U550,95 menjadi U$$1,72 per liter. 

Konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Zionis, dan Iran telah memicu lonjakan signifikan pada harga komoditas energi global, khususnya minyak dunia, avtur, serta bahan baku industri seperti bijih plastik. Kondisi ini diproyeksikan mampu membuat ekonomi negara importir rentan hingga menyebabkan ekonomi masyarakat melemah

Bahan baku plastik, yaitu nafta (senyawa hidrokarbon hasil turunan minyak bumi) naik hampir 45 persen dalam satu bulan terakhir menyebabkan harga plastik naik di pasaran 30 hingga 70%. Plastik bukan sekedar barang pelengkap dalam kehidupan saat ini sebab hampir seluruh rantai produksi dan konsumsi masyarakat berbahan dasar plastik dari mulai kebutuhan, rumah tangga, logistik, bidang kedokteran maupun transportasi sehingga plastik menjadi penting dalam aktivitas ekonomi.

Plastik dianggap sebagai komoditas dagang yang wajib mengikuti hukum permintaan, penawaran serta untung rugi bagi kapitalisme
Persoalan plastik mengungkap kenyataan bahwa kebutuhan  hidup masyarakat tunduk pada mekanisme pasar global yang cenderung spekulatif berorientasi pada keuntungan. Kenyataan pahit lainnya plastik menyisakan sejumlah problem kehidupan yang menyebabkan kerusakan besar pada lingkungan. Sebuah forum Ekonomi Dunia di Swis tahun 2016 memperkirakan bahwa ada lebih 150 juta ton plastik di lautan dengan tambahan 8 juta ton setiap tahunnya.

Dowdupont, Exxonmobil, shell, chevron, BP, Sinopec merupakan perusahaan-Perusahaan  terintegrasi yang memproduksi bahan bakar fosil dan plastik. Ketergantungan pada bahan baku impor menunjukan struktur ekonomi sebuah negara masih lemah sehingga tidak memiliki kemandirian dalam sektor ekonomi. 

Ekonomi global yang dibangun atas dasar kapitalisme gagal menciptakan kedamaian dan kesejahteraan umat di dunia.

Solusi Hakiki

Dalam pandangan Islam, negara harus memiliki kemandirian ekonomi tidak begantung pada negara lain sehingga mampu maksimal dalam mengurus urusan umat. 

Negara memiliki mekanisme pengaturan dalam mengelola SDA termasuk minyak bumi atas dasar hukum syariah Islam demi kemaslahatan umat dan lingkungan. 

Sistem ekonomi Islam memastikan distribusi barang dan jasa sampai kepada umat melalui mekanisme berbasis keadilan, moralitas dan larangan praktik eksploitasi seperti riba dan penimbunan atau pencegahan supaya kekayaan tidak bertumpuk pada segelintir orang

Saatnya umat sadar terhadap kebutuhan sistem yang mampu mewujudkan ekonomi yang adil menciptakan kedamaian dan kesejahteraan dunia;

Upaya penyadaran umat harus terus dilakukan melalui dakwah karena satu-satunya yang mampu menyelesaikan problem global dunia harus beralih kepada Islam dalam naungan khilafah.

Wallahu alam


Share this article via

0 Shares

0 Comment