| 46 Views
Terhalangnya Perjuangan Pembebasan Palestina oleh Nasionalisme dan Sekat Negara Bangsa
Oleh : Siti Rodiah
Apa yang terjadi di Gaza Palestina masih menjadi sorotan dan keprihatinan dari dunia internasional. Sebagai bentuk dukungan dan demi menyelamatkan warga Gaza dari kebiadaban zionis Israel, masyarakat internasional bersatu dan bergerak menunjukkan aksi nyatanya berupa gerakan yang dinamakan "Gerakan Global March to Gaza".
Gerakan Global March to Gaza yang sedang berlangsung dari Al-Arish menuju Gerbang Rafah tersebut menjadi sorotan dunia internasional sebagai bentuk estafet nurani kolektif yang menolak diam atas krisis kemanusiaan di Palestina. Konvoi ini melibatkan ribuan orang dari berbagai negara. Mereka hadir bukan sebagai perwakilan diplomatik resmi, melainkan sebagai representasi moral dan kemanusiaan. (Republika.co.id, 14/6/2025)
Ribuan orang mewakili lintas etnis dan benua berhimpun, memulai langkah bersama dari Al-Arish menuju Gerbang Rafah. Mereka bukanlah diplomat. Tak ada mandat resmi dari negara. Yang mereka genggam dan bawa yaitu keyakinan bahwa isu kemanusiaan di Palestina tak bisa terus ditunda.
Mereka datang dari Tunisia, Libya, Maroko, Amerika, Eropa, Asia, termasuk Indonesia. Mereka berlatar belakang pensiunan, perawat, jurnalis, dokter, pegiat HAM, hingga anak muda biasa yang ingin berbuat sesuatu yang lebih dari kata-kata, mereka tak tahan lagi melihat berita dari Gaza. Gelombang nuranilah yang menuntun langkah mereka.
Munculnya gerakan Global March To Gaza (GMTA) sejatinya menunjukkan kemarahan umat yang sangat besar. Kemarahan tersebut tidak hanya datang dari umat Islam saja tapi juga masyarakat internasional. Umat dan masyarakat internasional sudah muak dengan para pemimpin di setiap negaranya masing-masing yang tiada menunjukkan aksi nyatanya berupa menerjunkan para tentara nya untuk menyelamatkan Palestina dari penjajahan Israel. Ditambah lagi dengan tidak becusnya lembaga-lembaga internasional menyelesaikan masalah yang ada di Palestina tersebut. Hal itu menandakan bahwa umat tidak bisa berharap kepada lembaga-lembaga internasional dan para penguasa hari ini.
Aksi Global March to Gaza tidak serta merta mulus dalam menjalankan aksi dukungan nya. Di negara Mesir para peserta gerakan tersebut mendapatkan hambatan dengan ditutup nya pintu Rafah yang merupakan perbatasan antara Mesir dan Gaza. Tertahannya mereka di pintu Raffah justru makin menunjukkan bahwa gerakan kemanusiaan apapun tidak akan pernah bisa menyolusi masalah Gaza karena ada pintu penghalang terbesar yang berhasil dibangun penjajah di negeri-negeri kaum muslimin, yakni nasionalisme dan konsep negara bangsa.
Paham ini telah memupus hati nurani para penguasa muslim dan tentara mereka, hingga rela membiarkan saudaranya dibantai di hadapan mata bahkan mereka juga ikut menjaga kepentingan pembantai hanya demi meraih keridhaan negara adidaya yang selama ini menjadi tumpuan kekuasaan mereka yakni Amerika Serikat.
Umat Islam harus paham betapa bahayanya paham nasionalisme dan konsep negara bangsa, baik dilihat dari sisi pemikiran maupun sejarahnya. Paham nasionalisme dan konsep negara bangsa hanya sibuk memikirkan kepentingan atau kemaslahatan negeri dan bangsanya masing-masing. Setiap negeri atau bangsa berhak untuk merdeka dan menentukan jalan hidupnya sendiri, walhasil umat islam menjadi terpecah belah dengan berbagai negara dan bendera yang berbeda-beda. Maka tak ayal paham nasionalisme dan konsep negara bangsa digunakan oleh musuh-musuh Islam sebagai senjata untuk meruntuhkan khilafah dan melanggengkan penjajahan di negeri-negeri islam.
"Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi, dan kasih-mengasihi, adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota badan sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakitnya dengan berjaga dan demam." (HR. Bukhari-Muslim)
Umat Islam juga harus paham bahwa arah pergerakan mereka untuk menyolusi konflik Palestina harus bersifat politik, yakni fokus membongkar sekat negara bangsa dan mewujudkan satu kepemimpinan politik Islam di dunia. Umat harus disadarkan bahwa umat Islam sekarang lemah akibat tidak bersatu karena sekat nasionalisme dan negara bangsa.
Untuk itu urgen untuk mendukung dan bergabung dengan gerakan politik ideologis yang berjuang tanpa kenal sekat dan terbukti konsisten memperjuangkan tegaknya kepemimpinan politik Islam tersebut di berbagai tempat. Gerakan politik ideologis yang sesuai dengan metode Rasullullah ketika berdakwah dulu, demi mewujudkan terealisasinya syariat Islam dalam kancah kehidupan dengan tegaknya daulah Islam.
Wallahu a'lam bisshawab