| 44 Views
Seremonial Hari Santri Yang Tiada Arti
Oleh: Anisa Anggraeni
Hari Santri Nasional menjadi salah satu hari penting yang lumrah dirayakan oleh masyarakat terutama kaum muslim. Pada hari itu, kaum muslim melakukan banyak sekali seremonial mulai dari upacara, pawai obor, baca kitab, bahkan sampai mengadakan festival sinema. "Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia." menjadi tema tahun ini. Presiden Republik Indonesia mengajak para santri menjadi penjaga moral dan pejuang kemajuan. Beliau menyinggung soal Resolusi Jihad, fatwa yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy'ari pada tanggal 22 Oktober 1945 yang menetapkan bahwa membela tanah air dari serangan penjajah adalah kewajiban agama (fardhu 'ain) bagi setiap muslim di Indonesia. Resolusi ini merupakan respons terhadap agresi tentara Belanda pasca-kemerdekaan dan menjadi dasar semangat perlawanan rakyat dalam pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.
Peringatan hari santri ini terbukti hanya sebatas ajang seremonial saja. Para santri tidak menunjukkan sosok yang faqih fiddin. Sejatinya, santri bisa dijadikan sebagai agen perubahan karena mereka memiliki peran penting dalam membawa perubahan positif di masyarakat. Mendakwahkan ilmu agama, ilmu umum, serta menerapkan norma dan moral sesuai hukum syara.
Semboyan agen perubahan serta jihad melawan penjajah ternyata tidak sejalan dengan kebijakan dan program yang menyangkut santri dan pesantren di masa kini. Justru santri malah dimanfaatkan untuk dijadikan agen moderasi beragama, agen pemberdayaan ekonomi, sampai agen politikus. Santri tidak diarahkan untuk mempunyai visi dan misi jihad dengan gaya baru masa kini serta menjaga umat dan syariat. Peran santri dan pesantren justru dimanfaatkan untuk kepentingan pengokohan sistem sekuler kapitalisme.
Santri memiliki peran strategis dalam menjaga umat dan mewujudkan peradaban islam cemerlang. Yaitu dengan menjadi santri yang memiliki pemahaman mendalam tentang agama dan segala hal yang berkaitan dengannya (faqih fiddin) dan menjadi agen perubahan menegakkan syariat islam, bersinergi dalam mewujudkan penerapan syariat islam.
Selain menjadi tugas santri, ternyata negara pun harus turut andil. Negara menjadi penanggung jawab nomor satu untuk mewujudkan eksistensi pesantren dengan visi dan misi mulia mencetak para santri yang siap berdiri di garda paling depan melawan penjajah dan kezaliman. Hanya dengan negara islam umat bisa mewujudkan merdekanya sebuah peradaban.
Wallahu alam bishshowab.