| 6 Views

Sekolah Online? Bukan Solusi!

Oleh : Reni Susanti, S.A.P

Muslimah Riau

Ditengah tekanan global terhadap pasokan energi akibat konflik geopolitik yang berdampak pada harga minyak dunia, pemerintah tengah mengkaji opsi penerapan sekolah online mulai April 2026 usai libur lebaran sebagai bagian dari strategi nasional untuk penghematan konsumsi energi terkhusus Bahan Bakar Minyak (BBM). Pemerintah juga mempertimbangkan skema kerja fleksibel sperti Work From Anywhere (WFA) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan kebijakan efisiensi energi perlu dirumuskan secara responsif dan berbasis data, dengan tetap memastikan proses pembelajaran serta pelayanan publik tidak terganggu. (detikEdu,21/03/2026).

Kebijakan Kapitalistik

Jika wacana ini diberlakukan, maka pemerintah telah bertindak gegabah. Seharusnya Negara berupaya sedapat mungkin agar pendidikan tidak dikorbankan meski ada tantangan terkait energi. Apalagi negara sebenarnya memiliki kemampuan (sumber daya alam) mencukupi dan berlimpah. Terlebih jika hal ini diberlakukan di tengah berjalannya program mercusuar yang dampaknya tidak dirasakan signifikan bagi rakyat (seperti MBG, dll).

Inilah model kebijakan pemerintahan kapitalistik. Kebijakan yang dibuat tidak pernah menyentuh akar masalah. Padahal pendidikan merupakan kebutuhan dasar bagi rakyat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang tertera dalam pembukaan undang-undang.

Pendidikan dalam Islam

Dalam Islam, pendidikan menjadi kebutuhan pokok umat yang wajib diberikan secara baik oleh negara dengan memanfaatkan sumber daya yang ada dalam negara untuk memenuhi kebutuhan hidup rakyat termasuk pendidikan. Bukan dengan pajak.

Negara tidak akan gegabah dengan menjadikan pendidikan daring. Sebab faktanya metode trsebut mengantarkan kepada terabaikannya hak pendidikan yang seharusnya diterima dengan layak oleh rakyat.

Negara Islam merupakan negara yang mandiri, tidak bergantung kepada negara manapun terlebih negara kafir. Terbukti pada masa kekhalifahan Abbasiyah, Islam menjadi kiblat pendidikan dunia, bahkan orang-orang kafir juga ikut meraup ilmu yang berkembang sangat pesat saat itu. Hal ini karena negara tidak pernah mengabaikan pendidikan rakyatnya. Sehingga generasi yang dihasilkan mampu membuat peradaban begitu gemilang.

Kembali kepada sistem/negara Islam adalah satu-satunya harapan dan solusi masalah umat saat ini.

Allahu a’lam.


Share this article via

0 Shares

0 Comment