| 56 Views
Saat Santri Menjaga Moral, Negara Harus Menjaga Syariat
Oleh: Rohimah
Aktivis Muslimah
Peringatan Hari Santri Nasional selalu menjadi momen reflektif bagi bangsa ini. Presiden Prabowo Subianto menyebut santri sebagai penjaga moral dan pelopor kemajuan bangsa. Youtube Sekretariat Presiden, pada Jumat (24/10/2025).
Namun, di balik sanjungan itu, ada pertanyaan mendasar yang perlu diajukan, mengapa moral bangsa terus merosot, meski negeri ini memiliki jutaan santri dan ribuan pesantren?
Akar masalahnya terletak pada sistem sekuler yang memisahkan nilai-nilai Islam dari pengaturan kehidupan publik dan negara.
Santri memang dididik dalam keilmuan agama, tapi ketika keluar dari pesantren, mereka menghadapi realitas sosial, politik, dan ekonomi yang diatur bukan oleh syariat Islam, melainkan oleh hukum buatan manusia.
Akibatnya, agama hanya menjadi urusan pribadi, bukan dasar dalam mengelola negara, ekonomi, pendidikan, dan politik. Maka tak heran jika korupsi, ketimpangan sosial, dan kerusakan moral terus berulang, meskipun lembaga-lembaga pendidikan Islam semakin banyak.
Pemerintah berencana membentuk Direktorat Jenderal Pesantren di bawah Kementerian Agama langkah yang tampak positif. Namun, di sisi lain, kebijakan ini juga menandakan semakin kuatnya kontrol negara terhadap pesantren.
Jika arah kebijakannya mengikuti paradigma sekuler, maka pesantren bisa kehilangan ruh perjuangannya yang seharusnya melahirkan pejuang Islam yang berilmu dan berani menegakkan kebenaran.
Santri masa kini memang harus menguasai ilmu dunia, tapi tanpa fondasi sistem Islam yang menata seluruh aspek kehidupan, ilmu dunia itu akan diarahkan untuk melanggengkan sistem kapitalistik yang menindas, bukan untuk menegakkan keadilan yang hakiki.
Islam tidak hanya agama yang mengatur ibadah ritual, tetapi sebuah sistem kehidupan yang paripurna (syamil wa mutakamil). Dalam sejarah, lembaga khilafah telah membuktikan bahwa moral, ilmu, dan kemajuan bisa berjalan seiring di bawah kepemimpinan yang bertakwa.
Dalam sistem khilafah, pendidikan disusun untuk membentuk kepribadian Islam yang kuat dan mencetak ulama, ilmuwan, serta pemimpin berakhlak mulia.
Negara berperan menjaga aqidah dan moral masyarakat, bukan menyingkirkannya dari ruang publik.
Ekonomi dijalankan berdasarkan prinsip keadilan, bukan keuntungan segelintir elit.
Santri bukan hanya penjaga moral bangsa, tapi penegak peradaban Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Pujian Presiden terhadap santri hendaknya tidak berhenti pada tataran simbolik. Santri sejati adalah mereka yang meneladani perjuangan KH. Hasyim Asy’ari dan para ulama terdahulu bukan sekadar memperjuangkan kemerdekaan politik, tapi kemerdekaan sejati dari sistem kufur dan penjajahan ideologis.
Kebangkitan moral bangsa hanya akan terwujud bila Islam diterapkan secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Dan itu hanya mungkin melalui tegaknya sistem khilafah, sebagai warisan kepemimpinan Rasulullah ﷺ yang menjaga umat dari kehancuran moral dan perpecahan.