| 11 Views

Perayaan Idulfitri Dipenuhi Lilitan Utang, Butuh Penerapan Sistem Islam Segera

(Freepik/jcomp)

Oleh: Kiki Puspita 

Dilansir dari Inilah.com Ekonom UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat (ANH) mengatakan bahwa ada ritual menjelang lebaran, rakyat Justru malah dihimpit masalah hidup yakni barang makin mahal. Padahal pemerintah berkali-kali menerapkan program diskon, bansos atau bantuan sosial dan pasar murah, yang anggarannya juga sangat cukup besar. Namun fenomena tahunan ini, tak terelakkan dalam ekonomi rumah tangga masyarakat di Indonesia.

Biaya tol mungkin turun pada hari tertentu, namun biaya makan, di perjalanan,  bahan bakar, angkutan lanjutan dan harga kebutuhan di kampung tetap naik. ''Diskon yang terlalu sempit akhirnya seperti payung kecil di tengah hujan lebat. Ia ada, tetapi tidak cukup melindungi,'' katanya Achmad Nur.

Momen Idul Fitri Harusnya bisa menjadikan masyarakat merasakan bahagia. Namun banyak keluarga justru merasa semakin terpuruk, ditambah lagi inflasi tabungan pada Februari 2026 saja tercatat 4,76%.  Jauh di atas sasaran inflasi Bank Indonesia (BI), sedangkan nilai tukar (kurs) JISDOR pada 10 Maret 2026 menyentuh level Rp16.879 per dollar AS. Dua angka ini sudah memberikan pesan yang jelas bahwa harga kebutuhan hidup sedang melonjak sementara pendapatan ekonomi rumah tangga justru banyak yang berkurang. Belum ditambah lagi badai PHK yang menyebabkan banyaknya masyarakat  mengalami pengangguran sehingga menjadikan masyarakat banyak yang mengalami keterpurukan pada saat momen lebaran malah justru terlilit hutang.

Fenomena ini, merupakan dampak dari sistem kapitalisme sekuler yang saat ini diemban. Momen Ramadan dan lebaran Justru malah memberikan tekanan sosial dan beban ekonomi bagi keluarga. Masyarakat muslim dalam sistem kapitalis saat ini, menjadikan mereka hidup hedonis. Menstandarkan capaian materi sebesar-besarnya dan membentuk manusia bergaya hidup materialistis. Momen lebaran yang harusnya menjadi ajang untuk kegembiraan, namun karena sistem ini menjadikan masyarakat tak memahami tujuan utama silaturahmi dan fenomena flexing menjadikan keluarga islam bergantung pada utang ribawi guna untuk memenuhi kebutuhan.

Saat ini, masyarakat butuh sistem ekonomi yang menjamin kesejahteraan bagi mereka. Bukan sekadar narasi ekonomi inklusif yang katanya menjamin kesejahteraan rakyat, namun pada faktanya dilapangan rakyat  justru hidup dalam keterpurukan.

Inilah bukti dari gagalnya peran Negara yang telah melegakan riba untuk masyarakat. Bukannya melarang pinjaman tersebut mala justru praktik ribawi dibiarkan merajalela. Dalam syariat Islam, baik pinjol legal maupun ilegal adalah riba yang telah diharamkan oleh Allah Swt. Dalam Al-Qur’an  Allah swt berfirman ''padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.''(QS Al Baqarah ayat 275).

Dari ayat ini sudah sangatlah jelas apapun  kondisi kita sebagai masyarakat Islam harusnya tidak boleh tampil dengan bentuk yang berlebih-lebihan yang akhirnya menjadikannya terjebak pada pinjol ribawi.

Fenomena kepungan utang ini bukan sekadar masalah gaya hidup individu, melainkan kegagalan sistemis dalam mendistribusikan kekayaan. Masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan sekadar imbauan hidup hemat. Keluarga membutuhkan sistem yang mampu menyejahterakan secara nyata. Kita juga butuh agar negara kembali pada fungsi aslinya sebagai pelindung dan penjamin kesejahteraan. Kita butuh sistem yang memiliki mata uang stabil agar upah tidak tergerus inflasi. Kita juga butuh sistem yang menghapus riba agar keluarga tidak tercekik bunga, serta kita butuh sistem yang mengelola sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan publik. 

Namun, sistem ekonomi yang adil ini tidak mungkin tegak dalam sistem kapitalisme liberal. Ia membutuhkan kedaulatan politik yang menempatkan pemimpin sebagai raa’in (pengurus rakyat). Dalam pandangan Islam, fungsi pengurusan ini hanya bisa terwujud jika negara menerapkan syariat kafah dalam institusi politik Islam (Khilafah).

Penerapan Islam kafah di seluruh aspek kehidupan akan membentuk dan meningkatkan ketakwaan individu sehingga mencetak kepribadian Islam yang tangguh di tiap keluarga muslim serta di masyarakat secara umum sehingga Ramadan dan lebaran bukan sekadar momen baju baru dan hidangan hari raya semata, tetapi meningkatnya ketakwaan

Untuk menerapkan sistem Islam, dibutuhkan kekuatan politik Islam yang terbebas dari hegemoni global. Negara harus berdaulat penuh untuk menerapkan syariat Islam yang mengembalikan esensi Ramadan dan Idulfitri sebagai momentum ketakwaan sistemis, bukan sekadar selebrasi konsumtif.

Sudah saatnya kita menyadari bahwa kesejahteraan keluarga hanya akan terwujud ketika aturan Sang Pencipta diterapkan secara utuh. Hanya dengan sistem Islam, Idulfitri akan benar-benar menjadi hari kemenangan bagi setiap keluarga yang beriman dan bertakwa, tanpa bayang-bayang penagih utang. 

Fenomena kepungan utang ini bukan sekadar masalah gaya hidup individu, melainkan kegagalan sistemis dalam mendistribusikan kekayaan. Masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan sekadar imbauan hidup hemat. Keluarga membutuhkan sistem yang mampu menyejahterakan secara nyata. Kita juga butuh agar negara kembali pada fungsi aslinya sebagai pelindung dan penjamin kesejahteraan. Kita butuh sistem yang; pertama, memiliki mata uang stabil agar upah tidak tergerus inflasi; kedua, menghapus riba agar keluarga tidak tercekik bunga; dan ketiga, mengelola sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan publik. Kriteria sistemis inilah yang secara inheren melekat pada sistem ekonomi Islam.

Namun, sistem ekonomi yang adil ini tidak mungkin tegak dalam sistem kapitalisme liberal. Ia membutuhkan kedaulatan politik yang menempatkan pemimpin sebagai raa’in (pengurus rakyat). Dalam pandangan Islam, fungsi pengurusan ini hanya bisa terwujud jika negara menerapkan syariat kafah dalam institusi politik Islam (Khilafah).

Penerapan Islam kafah di seluruh aspek kehidupan akan membentuk dan meningkatkan ketakwaan individu sehingga mencetak kepribadian Islam yang tangguh di tiap keluarga muslim serta di masyarakat secara umum sehingga Ramadan dan lebaran bukan sekadar momen baju baru dan hidangan hari raya semata, tetapi meningkatnya ketakwaan.

Untuk menerapkan sistem Islam, dibutuhkan kekuatan politik Islam yang terbebas dari hegemoni global. Negara harus berdaulat penuh untuk menerapkan syariat Islam yang mengembalikan esensi Ramadan dan Idulfitri sebagai momentum ketakwaan sistemis, bukan sekadar selebrasi konsumtif.

Sudah saatnya kita menyadari bahwa kesejahteraan keluarga hanya akan terwujud ketika aturan Sang Pencipta diterapkan secara utuh. Hanya dengan sistem Islam, Idulfitri akan benar-benar menjadi hari kemenangan bagi setiap keluarga yang beriman dan bertakwa, tanpa bayang-bayang penagih utang. 

Wallahualam bi ash-shawaab.


Share this article via

0 Shares

0 Comment