| 5 Views

Idul Fitri Meraih Perjuangan dan Kemenangan Umat Islam yang Hakiki

tirto/tf subarkah

Oleh : Dewi Yuliani 
Aktivis dakwah 

Ramadan tidak hanya bulan latihan menahan diri dari lapar, dahaga, hawa nafsu semata, tapi juga bulan perjuangan bagi umat Islam menuju kemenangan dalam mengembalikan kehidupan Islam yang saat ini belum diterapkan. Perlu kita ketahui bahwa untuk mengembalikan kehidupan Islam butuh yang namanya usaha serta perjuangan melalui dakwah untuk meraih kemenangan yang hakiki.

Sebagaimana halnya perlu kita ketahui begitu banyak perbedaan penentuan awal puasa bulan Ramadhan, dan awal Syawal (hari raya Idul Fitri) yang terjadi pula, yang dimana  hampir sering terjadi setiap tahunnya.

Itu semua disebabkan bukan semata-mata karena khilafiyah atau perbedaan pendapat dan perbedaan pandangan fiqih belaka. Perbedaan pendapat dan pandangan fiqih itu sendiri sebenarnya adalah perkara klasik yang sering terjadi. Sejak dahulu kala yaitu sejak era zaman salafush shalih hingga di era kita di zaman modern saat ini. Dan bukan pula, semata-mata karena perbedaan wilayah geografis, dan juga bukan semata-mata karena perbedaan zona waktu belaka.

Namun sesungguhnya penyebab utama seringnya terjadi perbedaan dalam penentuan awal puasa bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal atau hari raya Idul Fitri, khususnya pula penentuan awal bulan Dzulhijjah, puasa Arafah dan hari raya Idul Adha, di era modern kita saat ini adalah masalah politik dan ideologis. Yaitu ashobiyah firqah (fanatisme kelompok) dan puncaknya karena ketiadaan kepemimpinan politik tunggal bagi seluruh umat Islam sedunia. Yakni akar masalahnya adalah ketiadaan khilafah pemersatu umat sejak runtuhnya khilafah pada 3 Maret tahun 1924 Masehi yang telah diruntuhkan oleh Inggris dan sekutunya, melalui agennya seorang Yahudi yang bernama Mustafa Kemal Atatürk laknatullahi 'alaihim.

Ini juga termasuk  politik dan ideologi yang kufur, yaitu bercokolnya sistem kufur kapitalisme-sekulerisme dan rezim boneka Barat. Beserta sistem politik demokrasinya dan paham kufur nasionalisme, dan batas-batas nation state (negara bangsa). Serta hukum-hukum internasional buatan dan warisan kaum kuffar Barat penjajah yang telah menyekat-nyekat umat Islam secara de facto dan de jure, maupun juga sekat-sekat secara pemikiran, perasaan, peraturan dan ideologi.

Sehingga kita umat Islam terpecah belah menjadi lebih dari 60 negara bangsa (nation state), dengan paham kufur nasionalismenya. Dan juga banyaknya bermunculan firqah (kelompok) di dalam umat Islam yang terkadang tersandera sikap ashobiyah firqah (fanatisme kelompok secara berlebihan dan ekstrem).

Prioritas dakwah membangun kesadaran politik ideologi umat dengan Islam kafah. Urgen membangun kesadaran akan kebutuhan adanya persatuan hakiki di bawah institusi khilafah yang harus serius diperjuangkan bersama hizb yg tulus berjuang demi izzul islam wal muslimin, bukan hizb semu yang justru berjuang di jalan yang menjauhkan umat dr kebangkitan hakiki.  Ramadan dan idul fitri semestinya jd starting point untuk mengonsolidasi dan memobilisasi kekuatan dan kesatuan umat Islam.

Wallahu alam bishawab


Share this article via

0 Shares

0 Comment