| 125 Views
Pembebasan Palestina Terhalang Sekat Nasionalisme dan Konsep Negara Bangsa
Oleh : Mila Ummu Azzam
Pembantaian terus terjadi, kelaparan parah masih dirasakan rakyat Palestina tapi hingga kini dunia tetap menutup mata. Tak ada akses bantuan kemanusiaan yang masuk. Warga Gaza tengah mengalami krisis kemanusiaan akibat blokade berkepanjangan dari Israel.
Sebagai respon tragedi kemanusiaan ini, ribuan orang dari berbagai negara melakukan Gerakan Global March to Gaza yang sedang berlangsung dari Al-Arish menuju Gerbang Rafah. Gerakan Global March to Gaza bertujuan untuk menekan pihak-pihak terkait agar membuka blokade Gaza yang digempur Israel sejak Oktober 2023. Aksi yang menjadi sorotan dunia merupakan bentuk keyakinan bahwa isu kemanusiaan di Palestina tak bisa terus ditunda.
Mereka yang datang bukanlah seorang diplomat resmi melainkan dari berbagai golongan dengan latar belakang yang berbeda karena hati nurani mereka menolak diam atas tragedi di Gaza. Mereka tak tahan lagi melihat berita dari Gaza dan ingin berbuat sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.
Ini menunjukan kemarahan umat yang sangat besar. Nilai kebaikan dan kebenaran haruslah diperjuangkan secara terus menerus oleh seluruh elemen masyarakat karena merupakan tanggung jawab bersama. Kita tak bisa lagi berharap pada lembaga internasional dan penguasa hari ini.
Buktinya, pemerintah mesir yang alih-alih membantu dan melancarkan gerakan kemanusiaan untuk mencapai tujuan, malah menahan aktivis dan menyerang, serta mendeportasi puluhan aktivis dengan alasan tidak mengantongi izin yang diperlukan. Alasan klise yang tidak bisa menutupi keberpihakan dan ketakutannya atas ancaman dari Israel. Bahkan, mesir melakukan pembungkaman kepada pembangkang dan aktivis yang mengkritik hubungan ekonomi dan politik Mesir-Israel. Begitupun dengan negara Arab lainnya yang hanya bisa diam demi menjaga dan melanggengkan kursi kekuasaannya.
Tertahannya para aktivis di pintu Raffah menunjukan bahwa gerakan kemanusiaan apapun tidak bisa menyelesaikan masalah Gaza karena terbenteng dengan pintu yang dibangun oleh penjajah di negeri-negeri muslim, yaitu nasionalisme dan konsep negara bangsa. Konsep negara bangsa mengikat tangan dan kaki penguasa negeri muslim dengan perjanjian dan racun nasionalisme yang membuat mereka lebih mementingkan negaranya.
Tertutupnya hati nurani sehingga tega dan rela melihat saudara muslimnya dibantai didepan mata bahkan menjaga kepentingan penjajah demi meraih persetujuan kerjasama dengan negara adidaya. Penguasa negeri muslim kini tak lagi mengindahkan perintah agama tentang menolong saudara seakidah dan menghilangkan kezaliman.
Untuk itu, umat Islam harus sadar bahwa paham nasionalisme dan konsep negara bangsa sangatlah berbahaya dilihat dari isi pemikiran dan sejarahnya. Paham ini telah menghancurkan persaudaraan hakiki umat Islam yang telah terjalin di bawah satu kepemimpinan yaitu khilafah selama lebih dari 13 abad lamanya.
Menyelesaikan masalah Palestina tidak bisa hanya mengandalkan gerakan dan semangat kemanusiaan semata, tapi harus didukung dengan satu kepemimpinan yang bisa menggerakan dan memberikan komando kepada tentara dan senjata untuk jihad fi sabilillah, yaitu sistem khilafah islam.
Sistem Islam akan menghancurkan sekat-sekat nasionalisme dan negara bangsa menjadi satu kepemimpinan di atas dunia. Sistem Islam juga akan mengembalikan kehormatan Islam yang selama ini di injak-injak oleh penjajah dan menjadikannya negara adidaya.
Saat ini banyak umat yang telah termakan propaganda Barat bahkan alergi terhadap sistem Islam. Maka dari itu, diperlukan persatuan umat untuk mengembalikan terwujudnya sistem Islam. Menyadarkan umat bahwa sistem Islam tidaklah utopis untuk ditegakkan, karena itu merupakan janji Allah Swt. yang dikabarkan melalui Rasulallah Saw.
Wallahu'alam bishawab.