| 1 Views
Olimpiade 2026 (Milano–Cortina) Menariknya Apa? Kenapa Terasa “Kehilangan Pamor”?
Kalau Anda merasa Olimpiade 2026 seperti tidak se-“wah” dulu, Anda tidak sendirian. Banyak orang merasakan hype-nya lebih tipis—padahal Olimpiade Musim Dingin 2026 di Milano–Cortina punya paket yang sebenarnya sangat menarik: venue ikonik di Italia, olahraga salju kelas dunia, dan debut cabang baru.
Yang berubah bukan cuma Olimpiadenya—tapi cara kita mengonsumsi olahraga, plus isu biaya dan lingkungan yang membuat euforia sering tertutup perdebatan.
Pertama, yang (masih) menarik dari Olimpiade 2026
1) Italia jadi “panggung sinema”: kota mode + pegunungan Dolomites
Milano–Cortina memakai banyak venue yang tersebar—Milan untuk seremoni dan sejumlah cabang es, lalu area pegunungan seperti Cortina, Bormio/Livigno, Val di Fiemme untuk cabang salju. Formatnya seperti “road trip” olahraga di Italia.
2) Ada cabang baru: Ski Mountaineering (Skimo) debut di Olimpiade
Skimo (kombinasi naik-turun gunung dengan ski, transisi cepat, sprint & relay) jadi olahraga baru di Olimpiade Musim Dingin 2026. Buat penonton, ini cabang yang “fresh” dan sangat intens.
3) Penonton tetap tinggi—tiket laku besar
Di balik kesan “sepi pamor”, angka penjualan tiket justru menunjukkan minat yang kuat. Reuters melaporkan penjualan tiket sudah melewati 1,3 juta pada pertengahan Februari 2026.
IOC juga sebelumnya menyebut hampir 70% dari sekitar 1,4 juta tiket sudah terjual (catatan: penjualan Paralympics lebih menantang).
Jadi, “kurang pamor” lebih sering soal persepsi dan framing, bukan berarti tak ada penonton.
Lalu, kenapa terasa kehilangan pamor?
1) Olimpiade sekarang bersaing dengan “ledakan event” dan FYP
Dulu Olimpiade adalah “acara terbesar” yang semua orang tonton serentak di TV. Sekarang, perhatian terpecah oleh liga-liga yang tayang tiap pekan, konten pendek, highlights instan, dan streaming. Akibatnya, hype terasa tidak terkonsentrasi—meski sebenarnya engagement online bisa sangat besar. IOC bahkan menyorot lonjakan engagement digital selama Milano–Cortina 2026.
2) Isu biaya & kontroversi venue menutupi cerita olahraga
Milano–Cortina tidak lepas dari kontroversi, terutama soal lintasan sliding (bobsleigh/skeleton/luge) yang mahal dan dinilai bertentangan dengan narasi “lebih berkelanjutan”. Le Monde menulis kritik tentang keputusan membangun lintasan baru dengan biaya besar dan dampak lingkungan.
Guardian juga mengangkat kritik soal dampak lingkungan dan klaim sustainability yang dinilai tidak selalu sejalan dengan praktik di lapangan.
Saat berita utama yang viral adalah “biaya & lingkungan”, cerita atlet sering kalah panggung.
3) Winter Olympics memang lebih niche dibanding Summer Olympics
Secara global, olahraga musim dingin tidak sepopuler atletik/bola basket/renang. Banyak negara tropis menonton hanya saat ada atlet favorit atau momen viral. Jadi wajar “gaungnya” terasa lebih kecil.
4) Venue yang sangat tersebar bikin atmosfer “satu kota” kurang terasa
Milano–Cortina adalah salah satu Olimpiade Musim Dingin yang paling tersebar lokasi venue-nya. Ini bagus untuk memanfaatkan venue yang sudah ada, tapi sisi lain: rasa “festival raksasa di satu tempat” jadi berkurang.
Olimpiade 2026 sebetulnya bukan kehilangan pamor semata, karena tidak menarik—justru masih menarik untuk segelintir kalangan, dengan venue Italia yang ikonik, debut Skimo, dan penjualan tiket yang masih sangat kuat.
Yang terasa amat sangat berubah adalah ekosistemnya: perhatian publik terpecah, berita olahraga tertutup isu biaya/lingkungan, dan Winter Olympics memang lebih punya niche market sendiri.