| 10 Views
Obat untuk kejiwaan hanyalah Aqidah Islam
Oleh: Nora Bunda Umar
Pemerhati Generasi
Perhatian ibu kepada anak itu adalah alamiah. Dan perhatian tersebut biasanya tulus dan memang lahir dari kasih sayang mereka kepada anak sebagai ciptaan Allah.
Pemerintah ibarat seorang ibu bagi rakyatnya. Rakyat adalah anak yang mutlak diasuh, dibesarkan, dan dididik sepenuh hati tanpa timbal balik materi.
Namun, masih ada sesuatu yang mengganjal. Apakah langkah tegas pemerintah dalam menangani krisis kesehatan jiwa anak di Indonesia merupakan bentuk perhatian yang tepat?
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, bersama delapan pimpinan kementerian/lembaga (K/L) lainnya resmi menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak. (kemenpppa.go.id, 06/03/2026)
Penyebab dibentuknya SKB menurut mereka adalah untuk bisa mengatasi gangguan kesehatan jiwa anak akibat bullyan lingkungan, kasus pelecehan seksual, dan kriminalisasi pembunuhan yang sering menimpa anak.
Dari itulah ada upaya dari Menteri Kesehatan dan Pemberdayaan Anak dan Perempuan membentuk kebijakan terkait kesehatan jiwa anak.
Maka langkah ke depannya, pemerintah menghimbau untuk di keluarga lebih memperhatikan keadaan mental remaja ketika di rumah. Dan ketika di sekolah, ada himbauan konseling untuk memecahkan problem kejiwaan siswa, seperti pengadaan tempat untuk sharing masalah di sekolah.
Terlihat memang baik dari berbagai langkah yang ditetapkan pada persoalan kesehatan remaja. Namun, masih belum sempurna untuk benar-benar menyelesaikan persoalan tersebut.
Sistem Kapitalisme Tidak Menyentuh Persoalan Utama
Kapitalisme hanya menyentuh persoalan permukaan dan bukan mendasar. Bermasalahnya kejiwaan pada anak bukan hanya karena anak tidak ada tempat untuk bercerita. Kapitalisme mengaitkan hal tersebut sehingga pemecahannya adalah dengan lebih perhatian pada anak, memberikan konseling, dan penyuluhan.
Hak anak memang salah satunya adalah untuk didengar, tetapi tidak cukup. Kita perlu mendalami apa yang menjadi dasar anak bisa terkena bullying, pelecehan seksual, maupun kriminalitas anak.
Peran manusia lain juga menjamin hak anak tercukupkan.
Aqidah Islam adalah Jawaban Persoalan Anak
Ketika menjalankan pengasuhan, sebenarnya secara mendasar mutlak memerlukan peran keluarga, sekolah, dan lingkungan. Yang ditanamkan dari ketiga pihak tersebut hanyalah aqidah semata, bukan hal lain. Terkait teknis untuk memahamkannya sesuai perkembangan zaman.
Sangat baik sekali kalau yang kita pahamkan sebagai teladan adalah Rasulullah, sahabat, dan pemimpin adil setelahnya. Sehingga seolah kita mengunggulkan mereka dibanding pahlawan khayalan yang beredar di media.
Ayah dan ibu mendidik anak, misal sholat untuk selalu dijalankan tepat waktu dan di mana saja. Maka ketika berada di lingkungan masyarakat, tetangga misalnya, ketika azan mengajak anak-anak yang sedang bermain untuk bersegera sholat.
Pun halnya di sekolah yang punya kurikulum aqidah Islam, membiasakan anak-anak sesibuk apa pun ketika bermain dan belajar.
Ketika ada panggilan Allah, tidak menunda-nunda.
Walhasil, pendidikan satu orang anak saja banyak pihak yang bertanggung jawab. Apalagi jika ada kasus bully, kriminal pada anak, jiwa kepedulian masyarakat akan bangkit.
Seorang guru juga tidak harus selalu menghukum anak kalau dia berbuat salah, bisa dengan memberikan nasihat terkait aqidahnya kembali. Orang tua di rumah juga tidak bisa seutuhnya menjadi pihak yang paling disalahkan. Karena meskipun keluarga adalah tempat pendidikan pertama dan utama, peran masyarakat dan sekolah yang dibantu oleh negara juga sangat penting.
Maka untuk mewujudkan generasi yang sehat fisik dan mental, semua pihak bertanggung jawab. Bukan sekadar untuk memberikan penyuluhan, namun berperan sejak dini aqidah anak dikuatkan agar sadar Allah ada untuk mereka. Allah punya aturan terbaik untuk manusia, terlepas apa pun masalah hidupnya.
Dan tak kalah penting, selalu tiga pihak tadi memberikan teladan sesuai Rasulullah dalam kehidupan. Karena anak bukan hanya butuh teori, tetapi juga aplikasi teori yang benar.