| 5 Views
Menjelang Lebaran, Jepara “Mengamankan Dapur”: 19.600 Tabung Elpiji Tambahan Disalurkan, Operasi Pasar Digelar di 15 Kecamatan
CendekiaPos - JEPARA — Di banyak rumah di Jepara, Ramadan selalu punya tanda-tanda yang sama. Panci lebih sering berbunyi, wajan lebih sering panas, dan dapur seolah tidak pernah benar-benar istirahat. Menjelang Lebaran, ritme itu makin padat: masak untuk buka puasa, sahur, kirim makanan ke tetangga, sampai persiapan kue-kue hari raya.
Di saat kebutuhan meningkat seperti ini, satu hal paling ditakuti warga adalah yang sederhana, tetapi dampaknya besar: gas habis, elpiji langka.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Jepara bergerak cepat. Untuk mengantisipasi kelangkaan gas jelang Lebaran, sebanyak 19.600 tabung elpiji tambahan disalurkan ke masyarakat.
Dua Tahap Penyaluran: “Fakultatif” untuk Meredam Kekhawatiran
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bagian Perekonomian dan SDA Setda Jepara, Mukti Nurwijayanti, menjelaskan tabung tambahan disalurkan dalam dua tahap.
“Penyaluran fakultatif dua kali, kemarin sebanyak 7.280 tabung kemudian hari ini sebanyak 12.320 tabung,” ujar Mukti di Jepara, Selasa (3/3/2026).
Angka itu bukan hanya data di atas kertas. Ia adalah “nafas” dapur ribuan keluarga—karena elpiji, bagi banyak rumah tangga, adalah urat nadi kegiatan sehari-hari.
Operasi Pasar 3–4 Maret: 15 Titik, 15 Kecamatan, 250 Tabung Tiap Lokasi
Selain penyaluran tambahan, Pemkab Jepara juga menggelar operasi pasar elpiji pada 3 dan 4 Maret 2026.
Operasi pasar ini berlangsung di 15 titik yang tersebar di 15 kecamatan se-Jepara. Setiap titik menyalurkan 250 tabung. Skema ini dibuat agar distribusi lebih merata—tidak menumpuk hanya di pusat kota, tetapi menjangkau wilayah yang membutuhkan.
Di lapangan, operasi pasar biasanya menjadi momen yang cukup “emosional”: warga datang lebih awal, antre rapi, berharap pulang membawa tabung yang bisa menyelamatkan kebutuhan rumah tangga hari itu.
Kenapa Ramadan Selalu Menaikkan Permintaan?
Menurut Mukti, langkah penyaluran tambahan dan operasi pasar dilakukan untuk menjaga ketersediaan pasokan, karena kebutuhan masyarakat memang meningkat selama Ramadan.
Di bulan ini, bukan hanya konsumsi rumah tangga yang naik. UMKM kuliner juga menggeliat: penjual gorengan, warung makan, katering buka puasa, pedagang takjil di pinggir jalan, semua membutuhkan gas lebih banyak dari hari-hari biasa.
“Harapannya distribusi tambahan dan operasi pasar dapat menjaga stabilitas pasokan di tingkat konsumen,” kata Mukti.
Dapur, Ramadan, dan Ketahanan Kecil yang Sering Diabaikan
Kelangkaan elpiji sering terlihat seperti masalah sederhana. Padahal ketika gas langka, yang terdampak bukan hanya kenyamanan, tapi juga aktivitas ekonomi warga kecil.
Di rumah, ibu-ibu akan pusing menyiapkan sahur.
Di warung, pedagang kehilangan omzet.
Di pasar, harga makanan bisa ikut naik karena biaya memasak dan distribusi meningkat.
Karena itu, penyaluran tambahan 19.600 tabung dan operasi pasar di 15 kecamatan ini bukan hanya soal “tabung gas”. Ini soal menjaga stabilitas kehidupan harian masyarakat Jepara di bulan yang paling padat aktivitas.
Ramadan dan Lebaran selalu mengajarkan arti kebersamaan—dari berbagi makanan hingga saling membantu tetangga. Namun agar semua itu bisa berjalan, ada kebutuhan yang sangat dasar yang tidak boleh terputus: dapur harus tetap menyala.
Dengan penyaluran 19.600 tabung elpiji tambahan dan operasi pasar pada 3–4 Maret 2026, Jepara berusaha memastikan satu hal penting menjelang Lebaran: pasokan aman, warga tenang, dan aktivitas ekonomi tetap berjalan.