| 80 Views

MBG: Janji Manis Berujung Dramatis, Miris!

Oleh: Mia Mulyati
Mahasiswi dan Pegiat Literasi

"Jangan sampai nasi menjadi bubur, apalagi bubur beracun." Pepatah ini kini menemukan relevansinya. Program Makanan Bergizi Gratis (MBG), yang sejak awal digadang-gadang sebagai solusi gizi anak bangsa, justru berulang kali menelan korban. Alih-alih menghadirkan harapan, namun kini berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan generasi bangsa.

Data kasus terbaru cukup mengejutkan. Ratusan anak di Kabupaten Lebong, Bengkulu (427 anak), mengalami keracunan massal usai mengonsumsi MBG. Di Lampung Timur, puluhan santri (20 anak) jatuh sakit karena makanan serupa (Kompas, 29/8/2025). Tak berhenti di situ, sebanyak 135 siswa SMP 3 Berbah Sleman juga tumbang setelah menyantap menu MBG (tirto.id, 27/08/2025). Sebelumnya, mengutip sumber yang berbeda dari cnnindonesia.com (Rabu, 13/08/2025), terdapat kasus serupa menimpa siswa di Sragen sebanyak 196 siswa dan guru dikabarkan mengalami keracunan setelah menyantap MBG hasil distribusi Dapur SPPG Mitra Mandiri Gemolong. Hasil uji laboratorium menunjukkan sanitasi lingkungan yang buruk sebagai penyebab utamanya.

Fakta terbaru muncul kembali dengan kasus serupa yaitu keracunan akibat menyantap makanan dari MBG. Sebanyak 27 siswa di SMP Negeri 1 Kramatwatu kabupaten Serang mengalami keracunan. Hal ini dikabarkan melalui Wakil Kepala sekolah SMP Negeri 1 Kramatwatu, Faidul Ulum bahwa pihak sekolah sempat mencurigai kualitas dari menu MBG karena terdapat aroma yang tak sedap dari telur yang dibagikan (banten.idntimes.com, 04/09/2025)

Menilik fakta yang bertebaran di berbagai wilayah, kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pun akhirnya menginstruksikan penghentian sementara operasional Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG). Langkah penyelesaian ini hanya bersifat tambal sulam. Sekadar menjeda sementara kemudian terulang lagi kasus serupa.

Perlu diingat, MBG ini merupakan janji kampanye Presiden saat melakukan kampanye untuk mencalonkan sebagai pemimpin negara. Tujuan program ini yaitu untuk mengatasi malnutrisi, mencegah stunting, meningkatkan kualitas SDM, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal. Narasi yang indah ini ternyata tidak diiringi persiapan matang. Sehingga pada praktiknya banyak yang menjadi korban.

Keracunan massal yang berulang adalah bukti nyata dari kelalaian negara. Pertama, negara tidak menyiapkan SOP yang ketat dalam hal sanitasi, pengolahan, dan distribusi makanan kepada target program. Kedua, lemahnya pengawasan membuat standar mutu tidak terjamin. Hasilnya, kesehatan bahkan nyawa siswa menjadi taruhan. Semua elemen dikorbankan. Guru ditambah pekerjaan tanpa diberi imbalan dan siswa menjadi korban.

Lebih jauh, pendekatan MBG sejatinya tidak menyentuh akar masalah stunting. Memberi makanan gratis sesaat tidak otomatis meningkatkan status gizi anak. Masalah stunting ini bukan sekadar memberikan makan 1 kali dalam sehari di sekolah, namun berkaitan erat juga dengan kondisi sosial-ekonomi, pola asuh, sanitasi, dan akses pangan yang sehat. Jika akar masalah ini diabaikan, stunting tetap akan berulang meski makanan gratis terus digelontorkan.

Islam Menawarkan Solusi Sistemik

Berbeda dengan pendekatan tambal sulam ala kapitalisme yang setiap yang dilahirkan dari sistem ini akan membuahkan kerusakan dalam tatanan masyarakatnya, membebankan rakyat hingga menindas rakyat miskin yang tidak ada power untuk berkomentar dan bersuara. Ditindas dalam segala lini kehidupannya Berbeda dengan Islam yang menawarkan solusi yang komperhensif. Dalam Islam, negara wajib hadir sebagai ra’in (pengurus) dan mas’ul (penanggung jawab) bagi rakyatnya. Rasulullah SAW., bersabda:

“Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Negara tidak boleh melempar tanggung jawab kesehatan rakyat pada proyek populis sesaat. Yang hanya bisa dinikmati rakyat hanya sebentar saja tanpa mengulik hingga ke akar. Karena sejatinya seorang kepala negara memang berkewajiban untuk mengurusi rakyatnya dari semua elemen masyarakatnya. Bukan hanya terfokus kepada beberapa golongan saja. Islam mewajibkan negara memenuhi kebutuhan pokok rakyat, termasuk pangan sehat dan bergizi, secara berkelanjutan bukan cuman parsial.

Allah Swt., juga menegaskan dalam Al-Qur’an:

“…Dan Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjaganya. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…” (QS. Al-Maidah: 48).

Ayat ini menegaskan bahwa penyelesaian masalah harus berpijak pada syariat, bukan hawa nafsu politik atau janji populis saja. Karena kebijakan yang lahir dari hawa nafsu akan timpang dan tidak akan bisa melahirkan kesejahteraan.

Bagaimana Islam Mencegah Stunting?

Dalam Islam, pemenuhan gizi dan kesehatan dilakukan dengan mekanisme yang jelas dan terintegrasi karena ini bentuk permasalahan yang serius untuk ditangani. Pertama, wajib untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyat. Negara menjamin setiap individu mendapat akses pangan bergizi, air bersih, dan layanan kesehatan. Rasulullah Saw. bersabda:

“Siapa saja yang bangun di pagi hari dalam keadaan aman di lingkungannya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia telah diberikan kepadanya.” (HR. at-Tirmidzi).

Hadist tersebut adalah remainder untuk kepala negara ketika menjabat sebagai pemimpin umat untuk bisa selalu mengingat kebutuhan rakyatnya hingga merasa aman rakyatnya tanpa kekurangan apa pun.

Kedua, negara harus menyediakan layanan kesehatan gratis dan berkualitas. Dalam sejarah Islam, Khalifah Umar bin Khattab pernah menunjuk dokter bagi rakyatnya serta menanggung biaya pengobatan dari Baitul Maal tidak membebankan kepada rakyat. Ini bukti bahwa layanan kesehatan adalah hak rakyat yang ditanggung negara. Sehingga perlu jelas dan transparan mengenai pemasukan negara dan faktor distribusinya sesuai dengan syariat Islam.

Ketiga, harus ada edukasi gizi dan sanitasi kepada masyarakat. Bukankah mencegah lebih utama daripada mengobati. Jika ada edukasi terlebih dahulu, permasalahan atau dampak buruk bisa ditangani dan dicegah dengan baik. Bahkan dalam hal ini, Islam senantiasa mendorong masyarakat untuk menjaga kebersihan dan pola hidup sehat. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.,:

“Kebersihan adalah sebagian dari iman.” (HR. Muslim).

Keempat, pembiayaan yang kuat dan mandiri oleh negara. Sistem ekonomi Islam memastikan Baitul Maal memiliki pemasukan dari pengelolaan yang jelas seperti dari kepemilikan umum yang harus dikelola dengan baik, dari  fa’i, jizyah, dan kharaj. Semua ini dipakai untuk kepentingan rakyat, bukan proyek pencitraan politik.

Keracunan MBG adalah alarm keras bagi negara bahwa proyek populis yang terburu-buru justru melahirkan bahaya. Program ini bukan solusi struktural untuk masalah gizi dan stunting, bahkan berisiko membahayakan nyawa generasi bangsa. Bukan hanya untuk mewujudkan kampanye janji manisnya tapi abai terhadap keselamatan rakyatnya. Janji manis berujung dramatis, sungguh miris.

Islam menawarkan jalan keluar yang jauh lebih kokoh yaitu sistem pemerintahan yang benar-benar bertanggung jawab, yakni Khilafah. Dalam sistem ini, negara tidak sekadar memberi makanan gratis sesaat, melainkan menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat, menjaga kesehatan mereka, serta mendidik masyarakat agar memahami pentingnya gizi dan sanitasi.

Dengan penerapan syariat Islam secara kaffah, rakyat tidak lagi menjadi korban proyek politik sesaat. Generasi yang sehat, kuat, dan cerdas hanya bisa lahir dari sistem yang benar-benar menjadikan mereka prioritas bukan  menjadi korban.

Wallahu alam bish-showwab.


Share this article via

66 Shares

0 Comment