TEHERAN — Hari keempat perang terasa seperti babak yang tidak memberi ruang jeda. Di Teheran, dentuman masih datang bergelombang—bukan lagi sebagai “kabar”, melainkan sebagai rutinitas yang menakutkan. Di langit Teluk, alarm pertahanan udara bergantian menyala. Dan di meja komando, pernyataan resmi berseliweran—sebagian mengklaim kemenangan besar, sebagian menahan data, sebagian lagi hanya menyebut satu kata yang paling ditakuti: eskalasi.
Pada Selasa (3/3/2026), militer Amerika Serikat melalui US Central Command (CENTCOM) mengklaim telah menghancurkan fasilitas komando dan kendali milik Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), serta instalasi pertahanan udara, termasuk lokasi peluncuran rudal dan drone. CENTCOM menyebut pihaknya akan terus mengambil “tindakan tegas” terhadap ancaman yang dinilai segera. Namun, klaim ini tidak disertai bukti dalam pernyataan publiknya.
“1.250 target” dan 11 kapal: klaim serangan berskala besar
Sebelumnya, pada Senin, CENTCOM juga mengklaim pasukan AS telah menyerang lebih dari 1.250 target di Iran dan menghancurkan 11 kapal Iran. Klaim ini kembali disampaikan tanpa rincian bukti yang bisa diverifikasi secara independen pada saat pernyataan dirilis.
Di saat AS mengumumkan klaim-klaim serangan tersebut, Israel melanjutkan serangan udara ke sejumlah titik di Iran, termasuk Teheran, menandai bahwa operasi gabungan AS–Israel belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
6 tentara AS tewas, Kuwait “salah tembak” jatuhkan 3 F-15E
Di pihak Amerika, CENTCOM mengonfirmasi enam personel militer AS tewas, seluruhnya dalam rangkaian serangan balasan Iran ke Kuwait selama akhir pekan.
Perang yang melebar juga memunculkan insiden yang memperlihatkan betapa kacaunya situasi tempur di kawasan: Kuwait keliru menembak jatuh tiga jet tempur AS jenis F-15E saat terjadi serangan Iran. Semua enam awak berhasil melontarkan diri dan dievakuasi dalam kondisi selamat.
Insiden “friendly fire” ini menjadi gambaran brutal: bahkan sekutu bisa salah identifikasi di tengah hujan rudal dan drone.
Data korban dari Bulan Sabit Merah Iran: 787 tewas, 153 wilayah terdampak
Sementara itu, Iranian Red Crescent menyampaikan angka korban yang makin mencemaskan: setidaknya 787 orang tewas sejak serangan dimulai pada Sabtu, dengan 153 wilayah terdampak dan lebih dari 1.039 serangan tercatat di berbagai penjuru Iran. Angka ini dilaporkan media internasional, meski tidak seluruhnya dapat diverifikasi independen secara segera di tengah perang.
Di lapangan, laporan juga menyebut korban dari kalangan militer Iran bertambah. Media Iran melaporkan 13 tentara Iran tewas akibat serangan ke pangkalan militer di Provinsi Kerman, sementara laporan lain menyebut lima anggota IRGC dari unsur udara dan laut tewas dalam serangan di kota Jam dan Dir di Provinsi Bushehr.
Bayang-bayang perang panjang: Trump sebut AS bisa bertahan “lebih lama”
Di Washington, nada pernyataan Presiden AS Donald Trump menambah kesan bahwa konflik ini belum dekat dengan akhir. Ia menyatakan operasi militer AS awalnya diproyeksikan empat hingga lima pekan, namun AS disebut punya kemampuan untuk melanjutkannya lebih lama jika diperlukan.
Kalimat itu, bagi banyak pihak, terdengar seperti penegasan bahwa “hari keempat” hanyalah awal dari fase yang lebih panjang—dan mungkin lebih mahal, baik secara politik maupun kemanusiaan.
Perang yang merembet, narasi yang berkejaran, warga yang menanggung paling dulu
Di atas kertas, ini perang teknologi: pusat komando, radar, pertahanan udara, rudal, drone. Tetapi di jalan-jalan Teheran dan kota-kota yang disebut “terdampak”, perang selalu punya wajah yang sama: warga sipil yang menghitung hari lewat sirene, bukan kalender.
AS menyampaikan klaim menghancurkan pusat komando IRGC dan instalasi pertahanan Iran—tanpa bukti yang dipublikasikan. Israel terus menggempur. Iran membalas di berbagai titik kawasan. Dan korban terus bertambah.
Satu hal yang paling terasa di hari keempat ini: jika perang sudah mulai memakan sekutu sendiri lewat salah tembak, dan jika angka korban makin membengkak, maka yang paling urgent bukan hanya “siapa menang”, tetapi bagaimana menghentikan spiral yang makin liar.