| 33 Views
Ketika Asap Sekuler Mencemari Lingkungan Sekolah, Para Murid pun Kehilangan Arah Moral
Oleh: Kursiyah Azis
Penulis dan Aktivis Muslimah
Insiden antara kepala sekolah dan murid karena persoalan merokok kembali mencuat di berbagai daerah. Perdebatan publik pun tak terelakkan: siapa yang salah, guru yang bertindak keras atau murid yang tak sopan? Namun, di balik hiruk-pikuk itu, ada persoalan yang jauh lebih mendasar, yaitu kehilangan arah moral dalam sistem pendidikan sekuler yang kini mendominasi negeri ini.
Melansir dari Detik.com, (15/10/2025) Seorang kepala sekolah SMAN 1 Cimarga, Dini Fitri menampar muridnya yang ketahuan merokok dalam lingkungan sekolah di Kabupaten Lebak, Banten. Buntut tindakan kepala sekolah tersebut sempat membuatnya dinonaktifkan dari jabatannya sebagai kepala sekolah karena seluruh murid melakukan aksi mogok sekolah sebagai wujud pembelaan mereka terhadap seorang siswa yang merokok tersebut.
Meskipun pada akhirnya mereka memutuskan berdamai usai menghebohkan jagat Maya, namun tetap saja insiden yang telah berulangkali terjadi itu patut dipertanyakan, sebab seringkali ketika guru di kriminalisasi akibat tindakannya dalam mendidik murid, tak sedikit para orang tua bertindak semborono. Tidak memberi ruang diskusi terhadap para tenaga pendidik terlebih dahulu, yang terjadi justru fokus membela anak-anaknya secara membabi buta.
Padahal guru disekolah adalah orang tua ke dua bagi anak-anak kita, semestinya mereka menjadi partner setiap orang tua murid dalam mendidik dan mengajarkan ilmu pengetahuan. Namun karena pengaruh sistem sekuler yang mengatur kehidupan manusia hari ini. Peran agama disingkirkan sejauh mungkin dari segala urusan, termasuk urusan pendidikan. Jika hal ini terus berlanjut, maka jangan heran jika generasi mendatang adalah mereka yang bermental rusak akibat tak punya akhlak baik dan tak ada moral.
Sistem Sekuler Melahirkan Pendidikan yang Terjebak Formalitas
Sekolah hari ini lebih banyak berfokus pada penilaian akademik, ranking, dan capaian kurikulum, ketimbang pembinaan akhlak. Murid diajarkan cara berpikir kritis, tapi tidak diajarkan mengapa harus taat kepada Allah. Minim akhlak dan bahkan seringkali menjadi pembangkang. Mereka tahu larangan merokok dari sisi kesehatan, tapi sayangnya mereka tidak memahami bahwa tubuh adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Sehingga wajar jika murid menentang, bahkan berani pada guru, tatkala aktivitas merokoknya di anggap pelanggaran oleh pihak sekolah sebab kesadaran moral mereka sama sekali tidak berakar pada iman.
Olehnya itu maka ketika persoalan ini terus berulang dalam lingkungan pendidikan secara tidak langsung akan membuat para guru kehilangan wibawa, dan kesempatan untuk mendidik anak-anak dengan akhlak yang mulia semakin sempit, selain itu murid-murid pun otomatis akan kehilangan adab terhadap gurunya.
Sebagaimana diketahui bahwa fenomena guru yang dimaki, dipukul, bahkan dilaporkan karena menegur murid, sudah sering terjadi. Sistem sekuler telah memisahkan pendidikan dari nilai-nilai ketundukan kepada Sang Pencipta. Guru tidak lagi dianggap sebagai pendidik ruhiyah, hanya sekadar pengajar materi. Sementara murid tumbuh dalam budaya liberal . Mereka merasa bebas mengekspresikan diri tanpa batas, bahkan kepada otoritas pendidik sekalipun mereka tak segan-segan melakukan kekerasan fisik jika merasa dihalangi kebebasannya.
Inilah buah dari sistem yang menjauhkan manusia dari fitrahnya. Dalam sistem sekuler, pendidikan hanya diarahkan untuk mencetak tenaga kerja, bukan membentuk insan bertakwa. Sehingga mereka yang telah selesai dalam pendidikannya kemudian masuk dalam dunia kerja, akan selalu berujung pada kekecauan. Pelanggaran yang sudah menjadi kebiasaan mereka di masa lalu akan lebih mudah merusak mental dan menjadikan mereka sebagai generasi pecundang akibatnya mereka akan semakin sulit mendapatkan kepercayaan dan peluang untuk mencapai kesuksesan.
Sekolah dalam Asap Sekulerisme
Kasus rokok hanyalah puncak gunung es. Banyak murid yang terjerumus pada rokok, miras, hingga seks bebas, karena lingkungan pendidikan tidak menanamkan pengawasan Allah (muraqabah). Sekolah menjadi tempat “belajar” yang kering nilai, tanpa ruh Islam. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Dengan demikian maka, jika pendidikan tidak lagi berorientasi pada misi ini, yang terjadi adalah lahirnya generasi yang tahu hukum, tapi tidak takut melanggar; tahu etika, tapi tak merasa bersalah terutama saat menghina guru. Hal tersebut disebabkan karena tidak adanya sanksi yang memberikan efek jera.
Kembali pada Sistem Pendidikan Islam
Islam memandang pendidikan sebagai proses pembentukan kepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyah), bukan sekadar transfer ilmu. Dalam sistem Islam, guru adalah sosok yang dimuliakan karena mengajarkan ketaatan kepada Allah. Murid diajarkan adab sebelum ilmu. Dan negara berkewajiban menjamin sistem pendidikan yang membentuk akidah, akhlak, dan pemikiran islami.
Selama pendidikan masih berpijak pada sistem sekuler, insiden seperti ini akan terus berulang, ini bukan sesuatu yang kebetulan, namun ia justru merupakan fenomena yang terstruktur oleh sistem yang diterapkan hari ini. karena akar masalahnya bukan pada perilaku individu semata, tapi pada ideologi yang menjadi fondasinya.
Asap yang menyesakkan di sekolah bukan hanya berasal dari rokok murid, tapi juga dari asap sekulerisme yang telah lama mencemari dunia pendidikan. Sudah saatnya kita membersihkan udara itu, dengan kembali kepada sistem pendidikan Islam, yang menanamkan iman, menumbuhkan adab, dan melahirkan generasi berkarakter mulia karena tunduk pada Rabb-nya.
Wallahu alam.