| 74 Views

Kelaparan dan Genosida di Gaza, Jihad Solusinya!

Oleh : Siti Zulaikha, S.Pd
Aktivis Muslimah dan Pegiat Literasi

Kantor kemanusiaan PBB yang dikenal sebagai OCHA (Office for the Coordination Humanitarian Affairs) mengatakan hampir lebih dari 2 juta penduduk Gaza sekarang bergantung pada dapur amal yang hanya dapat menyiapkan 1 juta makanan sehari. Makanan tersebut sebagian besar terdiri dari nasi atau pasta tanpa sayuran segar atau daging.

Program distribusi makanan lainnya telah ditutup karena kekurangan persediaan. Di pasar, satu-satunya tempat lain untuk menemukan makanan di Gaza, harga melonjak dan kekurangan persediaan, bahkan makanan segar hampir tidak ada. Akibatnya, bantuan kemanusiaan menjadi sumber makanan utama bagi 80% penduduk. Hani almadhoun salah satu pendiri Gaza Soup Kitchen mengatakan dapurnya masih memiliki persediaan makanan untuk sekitar 3 minggu lagi, saat ini 1 dari 5 orang yang datang ke dapurnya untuk mengambil makanan pulang dengan tangan hampa. Bahkan warga Palestina mulai memakan daging kura-kura untuk memenuhi kebutuhan protein mereka imbas krisis makanan akibat pengepungan dan genosida yang dilakukan Zionis. Salah satu warga Gaza Majida Qanan mmengatakan, nak-anak di Gaza harus dibujuk agar mau memakan daging kura-kura tersebut. Air juga semakin langka, dengan warga Palestina yang harus mengantri panjang untuk mengisi jerigen dari truk.

Omar Shatat, salah seorang pejabat Perusahaan Air setempat mengatakan warga hanya mendapatkan air 6 atau 7 liter per hari. Jumlah ini sangat jauh di bawah standar PBB dalam hal kebutuhan ideal atas air untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Berita ini menggambarkan kondisi Gaza semakin mengerikan, padahal solusi untuk Gaza sebenarnya sudah jelas yaitu jihad. Allah Ta'ala memerintahkan kaum muslimin untuk melawan penjajahan dengan jihad fisabilillah. Fisik harus dilawan dengan fisik, sebagaimana Firman-Nya dalam dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 190;

"Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu dan jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al-Baqarah: 190) 

Jadi kondisi yang amat mengerikan di Gaza tidak akan terjadi dan bisa dihentikan manakala penjajahan Zionis langsung di berangus dengan jihad dari awal. Para penguasa muslim mengirim tentara (jaisy) ke sana, mereka tidak melakukan hubungan diplomasi apapun dengan Zionis dan sekutunya. Seruan jihad untuk Gaza inilah yang mulai diserukan untuk kaum muslimin dan para ulama.

Namun alih-alih membantu dan menyambut seruan ulama yang mengerahkan tentara, para penguasa Arab khususnya Mesir malah rela menjadi juru bicara Zionis menawarkan proposal penghentian sementara permusuhan selama 45 hari, sebagai imbalan atas pengiriman bantuan kemanusiaan dan pembebasan sejumlah tawanan.

Tak hanya itu, Mesir juga malah rela menjadi Jubir Zionis untuk menawarkan gencatan senjata dan menuntut pelucutan senjata Hamas. Adapun penguasa lainnya, sedang sibuk menyelamatkan diri dari kebijakan Amerika terkait tarif dan hanya basa-basi bicara soal Gaza. Mereka hanya berkutat pada dukungan dan mengusulkan perlawanan penjajahan dengan diplomasi, solusi dua negara, boikot, atau pun donasi. Sebuah keputusan yang disukai barat tapi dibenci syariat.

Umat Islam semestinya segera melepaskan ikatan pada para penguasa buruk seperti ini dan segera mengangkat seorang khalifah yang siap mengomando mereka untuk berjihad melawan penjajah. Hanya Khilafah yang mampu mengeluarkan kaum Muslim di seluruh dunia dari penjajahan, keterpurukan ekonomi, kebodohan, kelaparan dan penderitaan-penderitaan lainnya.

Khilafah adalah raa'in (pengurus) dan junnah (perisai) bagi seluruh umat Islam. Sepanjang sejarah Palestina di bawah naungan Khilafah, Palestina dijaga dengan jiwa dan darah kaum muslimin. Umat Islam harus mengingat Salahuddin Al-Syyubi yang tidak bertemu dengan Paus untuk menetapkan solusi untuk Baitul Maqdis. Namun beliau bertemu dengan Pasukan Salib di Perang Hittin, mengalahkan dan mencabut kerajaan tentara Salib di semua Negeri muslim.

Salahuddin Al-Syyubi adalah sosok khalifah bagi umat Islam, beliau telah menjalankan perannya sebagai raa'in dan junnqh untuk kaum Muslimin. Jadi jika memang benar penguasa-penguasa muslim itu peduli dengan Palestina, seharusnya mereka tidak berkompromi dengan Zionis. Sebab berkompromi dengan Zionis adalah penghianatan dan bahkan sedikitpun tidak boleh terbersit mengambil jalan kompromi. Namun rasanya mustahil jika penguasa Muslim hari ini bisa setegas Salahuddin Al-Syyubi.

Penguasa di negeri Muslim hari ini adalah orang-orang yang takut kehilangan kekuasaan mereka. Mereka lebih memilih untuk tunduk dan patuh kepada pemegang ideologi Kapitalisme, Amerika Serikat (AS). Mereka lebih memilih menjadi pelindung Zionis dengan menjalankan perintah-perintah dari AS untuk bersikap atas masalah Gaza. Maka, sudah saatnya umat Islam memulihkan kedaulatan, kehendak dan keputusan politiknya di bawah naungan Khilafah.

Dibawah naungan Khilafah, umat Islam bisa menghilangkan penghalang persatuan, melepaskan rantai yang membelenggu umat dan menerapkan syariat Islam. Maka pada saat itu, pembebasan Palestina dari penjajahan Zionis hanya membutuhkan waktu 1 jam saja. Karena itu, terlibat dalam aktivitas memperjuangkan penegakan Khilafah adalah wajib bagi kaum muslim. Penegakan Khilafah adalah qadhiyah mashiriyah dan wajib menjadi agenda utama umat Islam yang mengaku peduli perjuangan Palestina.

Dalam hal ini, umat membutuhkan kelompok dakwah islam ideologi yang melakukan penyadaran dan pembinaan terhadap umat untuk berjuang bersama menegakkan Khilafah berdasarkan metode Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Kelompok tersebut melebur, menyadarkan dan membersamai umat untuk menegakkan Khilafah sebagai solusi tuntas atas persoalan Palestina dan persoalan-persoalan lainnya.

Wallahualam bissawab


Share this article via

80 Shares

0 Comment