| 39 Views
Kampung Narkoba Ancam Generasi, Bukti Kelalaian Negara
Badan Narkotika Nasional (BNN) mengobrak-abrik kampung narkoba di kampung Berlan Jakarta Timur kemarin (Foto : Dok BNN)
Oleh: Ika Kusuma
Badan narkotik Nasional (BNNP) Provinsi Jatim dalam razia pemeriksaan mendapati 15 siswa SMP di daerah Kunti Surabaya positif narkoba. Fakta yang lebih mengejutkan, Jalan Kunti yang berada di wilayah Kecamatan Semampir, Surabaya, sudah dikenal sebagai "kampung narkoba." Bahkan pada 20 November 2024, polisi berhasil menemukan bunker di salah satu rumah warga. (kumparan.com, 14 November 2025).
Sungguh miris, keberadaan kampung narkoba serta peredarannya telah merambah ke usia remaja. Ini adalah ancaman nyata bagi keberlangsungan generasi kita. Generasi kita saat ini lahir dan tumbuh dalam sistem yang bisa dikatakan toksik. Mereka tumbuh tanpa fondasi keimanan yang kuat di tengah tekanan kehidupan yang makin menghimpit. Akibatnya, mereka mudah terjerat narkoba yang menawarkan kebahagian palsu. Sementara itu, peredaran narkoba sangatlah sistematik dan merajalela, terbukti dengan keberadaan kampung narkoba. Hal ini sekaligus membuktikan lemahnya kontrol negara dan juga lingkungan.
Usaha pemberantasan narkoba selama ini jauh dari kata memuaskan. Bahkan peredaran narkoba juga terjadi dilingkungan lapas, yang makin memperjelas lemahnya pengawasan serta penegakan hukum. Pemberantasan narkoba hingga tuntas sepertinya mustahil dilakukan dalam sistem kapitalisme sekular saat ini. Budaya korup hingga jual beli hukum adalah keniscayaan dalam sistem ini. Kapitalisme menilai semua hal berdasar asas manfaat. Selama satu hal masih mendatangkan keuntungan maka keberadaanya akan tetap terjaga. Kapitalisme juga tak ragu menjadikan manusia sebagai objek kapitalis yang mendatangkan keuntungan. Dan hal ini menjadi sangat relevan ketika bisnis narkoba terus eksis sebab menjanjikan keuntungan besar dan melibatkan oknum penguasa yang seolah kebal hukum.
Sementara itu, kehidupan sekuler telah membentuk masyarakat individualis, tak lagi peduli sekitar ataupun sesama hingga kontrol masyarakat tak lagi berjalan. Pendidikan dalam sistem sekuler turut mengikis nilai moral dan agama.
Hal ini sangat jauh berbeda ketika sistem Islam yang mengatur kehidupan. Peradaban Islam dimulai dari pembentukan individu yang berkarakter Islam. Pembentukan awal karakter dimulai dari keluarga. Orang tua mengajarkan tentang dasar dasar keimanan sedangkan negara menerapkan sistem pendidikan yang berkarakter Islam.
Dalam kitab Nidhamul Islam, Syekh Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan bahwa kurikulum pendidikan wajib berlandaskan akidah Islam, yang bertujuan membentuk kepribadian Islam, mencakup pola pikir dan pola sikap islami. Dengan mekanisme ini, anak terbiasa menghadapi masalah dengan cara pandangan Islam. Mereka berpedoman pada nilai Islam dalam menentukan segala hal, termasuk definisi kebahagian yang hakiki sehingga timbul kontrol diri dari hal-hal yang membahayakan ataupun bertentangan dengan syariat, seperti narkoba misalnya.
Sementara itu, fungsi negara juga jelas sebagai pemelihara (raa'in) dan juga pelindung (junnah) bagi rakyatnya. Negara akan menjamin keberlangsungan hidup warganya aman dan sejahtera, terutama generasinya.nKeberadaan narkoba dan para gembongnya akan diberantas tuntas sebagai bentuk perlindungan terhadap warganya. Demikian pula kontrol terhadap media sangat ketat sehingga menutup rapat kemungkinan menampilkan konten konten berbahaya.
Penerapan hukum dalam Islam khas dan tegas yang mampu menghadirkan efek jera serta menjamin keadilan bagi semua. Tak ada hukum tumpul ke atas ataupun jual beli hukum. Sistem ekonomi Islam juga menjamin kesejahteraan individu per individu. Hal ini tentu berimbas pada terlaksananya fungsi keluarga dengan baik, anak tak akan kekurangan kasih sayang dan peran dari kedua orangtuanya. Penanaman keimanan yang kuat sejak dini juga akan mengubah pola pikir dan tujuan hidup semata meraih rida Allah. Jadi, tak ada alasan mencari pelampiasan kasih sayang dengan cara yang salah.
Sistem Islam mengatur semua hubungan manusia, baik dengan Tuhannya, dengan diri sediri, juga kehidupan sosial. Masyarakat yang berkepribadian Islam paham betul dengan kewajiban amar makruf nahi mungkar, sehingga lahirlah kontrol masyarakat yang baik. Lingkungan yang aman dan kondusif untuk tumbuh kembang generasi juga otomatis akan terbentuk.
Itulah gambaran ketika sistem Islam kafah diterapkan. Hal ini sangat jauh berbeda dengan keadaan umat hari ini yang penuh problematika. Masalah hidup yang tumpang tindih tak kunjung menemukan solusi tuntas karena memang akar masalahnya adalah penerapan sistem yang salah dan problematik. Lalu mengapa kita masih berpikir untuk menerapkan sistem buatan manusia yang jelas terbatas dan banyak celah sementara Allah telah menyiapkan sistem yang terperinci dan sempurna mengatur kehidupan manusia yakni sistem Islam kafah.
Wallahualam bishawwab.