| 90 Views

#KaburAjaDulu: Antara Kekecewaan Generasi dan Kesenjangan Ekonomi Dunia

Oleh : Sherly Agustina, M.Ag.
Penulis dan Pemerhati Kebijakan Publik

Baru-baru ini ramai warganet menyerukan tagar #KaburAjaDulu di sejumlah media sosial, termasuk X (twitter). Bahkan seruan ini sempat menjadi trending topik di Indonesia dalam media sosial X. Mengapa tagar tersebut kian ramai? Apakah pertanda bahwa generasi sudah terlalu lelah menghadapi kesenjangan kehidupan yang kian menganga saat ini?

Fenomena ini bermula ketika warga negara  Indonesia yang bekerja di luar negeri membagikan informasi tentang kehidupan, lowongan pekerjaan, dan pengalamannya di media sosial. Tagar tersebut akhirnya digunakan untuk mengungkapkan rasa kekecewaan dan kecemasan generasi muda terhadap isu sosial hingga politik yang terjadi di negeri ini. Munculnya tagar #KaburAjaDulu berkaitan dengan fenomena brain drain yang telah lama terjadi di Indonesia dan negara-negara berkembang sejak lama. 

Brain drain atau human capital flight adalah fenomena ketika orang pintar dan berpotensi memilih  bekerja di luar negeri. Brain drain sering terjadi di negara-negara berkembang. Banyak orang dengan profesi seperti dokter, ilmuwan, hingga insinyur  memilih  berkarir di luar negeri. Hal ini terjadi terjadi untuk mencari keuntungan yang lebih tinggi di negara lain, standar dan kehidupan yang lebih baik karena belum bisa didapatkan di negaranya sendiri. 

Di Indonesia, fenomena brain drain terjadi sejak tahun 1960-an. Merangkum dari Portal Berita Universitas Pendidikan Indonesia, banyak mahasiswa yang tengah menimba ilmu di Rusia memilih tidak pulang ke Indonesia. Pada tahun 1980-an ketika Menristek BJ Habibie mengirim banyak remaja untuk belajar ke luar negeri, mereka juga memilih untuk bekerja di banyak perusahaan Amerika Serikat. (beautynesia.id, 05-02-2025)

Diberitakan Kompas.id (4/12/2024), lebih dari 100.000 orang tercatat mengikuti acara Study and Work Abroad Festival Juli-Agustus 2024 yang memberi informasi beasiswa ke luar negeri. Di sisi lain, data Direktorat Jenderal Imigrasi Kemenkumham menunjukkan, sebanyak 3.912 WNI usia 25-35 tahun memilih menjadi warga negara Singapura pada 2019 hingga 2022. (Kompas.com, 05-02-2025)

Fenomena Brain Drain

Di tengah arus digitalisasi, banyak warga negara Indonesia yang membagikan informasi seputar lowongan pekerjaan, beasiswa,  les bahasa, pengalaman berkarir, dan kisah hidup mereka di luar negeri lewat media sosial yang dimiliki. Mereka menceritakan tentang kebahagiaan dan kesejahteraan yang mudah didapat di luar negeri. Hal tersebut memicu warga negara Indonesia ingin kabur dari tekanan pekerjaan, pendidikan, maupun masalah sehari-hari di Indonesia. 

Sementara kualitas pendidikan yang rendah di dalam negeri bertemu dengan banyaknya tawaran beasiswa ke luar negeri di negara maju semakin memberikan peluang untuk "kabur". Selain itu, sulitnya mencari pekerjaan bertemu dengan banyaknya tawaran kerja  di luar negeri baik pekerja terampil maupun kasar dengan gaji yang lebih tinggi di negara maju. Kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari fenomena brain drain yang menjadi isu krusial dalam konteks globalisasi/liberalisasi ekonomi  yang semakin menguat, dan makin memperlebar kesenjangan antara negara maju dan berkembang. Sehingga menciptakan ketidakadilan dalam akses terhadap sumber daya dan kesempatan. 

Tak sedikit warga negara Indonesia yang memiliki potensi hebat dan luar biasa di berbagai bidang. Namun sayang, pemerintah kurang memperhatikan mereka padahal jika mereka diberdayakan bisa membangun dan membawa negeri ini ke arah yang lebih baik. Gayung bersambut, ketika anak bangsa yang memiliki potensi ini diterima dengan baik di negara luar dan mendapatkan kesejahteraan yang selama ini mereka impikan. 

Pemerintah terbelenggu kapitalisme yaitu terbelenggu para pemilik modal di mana semua kebijakan harus di  bawah kendali mereka termasuk tidak menggunakan potensi anak bangsa yang luar biasa melainkan menggunakan potensi asing dengan dalih investasi. Karena jika menggunakan potensi anak bangsa yang hebat, akan mengganggu eksistensi dan 'penjajahan' asing di negeri ini. Mereka tahu jika anak bangsa yang dipakai untuk membangun negeri, bangsa ini tak akan lagi bergantung pada asing. Kebergantungan negara pada mereka adalah hal yang diharapkan untuk menancapkan hegemoni mereka di negeri-negeri kaum muslim termasuk Indonesia.

Dampak brain drain, negeri ini kekurangan sumber daya hebat yang berkualitas yang sebenarnya sangat dibutuhkan di dalam negeri. Namun, pemerintah menutup mata terhadap realitas tersebut. Jadi sebenarnya negeri ini punya banyak sumber daya manusia yang hebat namun mereka lebih memilih hidup, berkarir, dan mengembangkan potensinya di negara luar yang bisa menghargai mereka. Apabila kondisi terus seperti ini, sumber daya manusia yang berkualitas dan hebat akan terus berkurang di negeri ini. 

Hal ini menggambarkan kegagalan kebijakan politik ekonomi dalam negeri memberikan kehidupan sejahtera. Sistem Kapitalisme yang dijadikan sebagai asas negeri ini adalah akar masalah kondisi ini.  Kesenjangan ekonomi tidak saja terjadi di dalam negeri, namun juga di tingkat dunia yaitu antara negara berkembang dan negara maju. Di mana negara berkembang dikondisikan agar tidak menjadi negara maju. Negara maju hanya menjadi milik negara tertentu, selain mereka akan terus dikondisikan menjadi negara berkembang santapan mereka. 
 
Islam Menjamin Kesejahteraan

Lalu bagaimana pandangan Islam? Islam mewajibkan negara menjamin kesejahteraan rakyat dan memenuhi kebutuhan asasi setiap warga negara individu per individu. Ada banyak mekanisme yanag harus dilakukan negara termasuk  diwajibkan menyediakan lapangan kerja bagi setiap laki-laki baligh. Baik di sektor pertanian, perdagangan, industri, dan jasa dengan pengelolaan SDA yang Allah limpahkan kepada kaum muslimin. Negara juga menjamin kebutuhan kolektif warga negara berupa pendidikan, kesehatan, dan keamanan. 

Oleh karena itu dalam Islam, pendidikan dan kesehatan gratis dan sangat mudah diakses bagi setiap warga negara. Pendidikan bukan hanya sekadar gratis namun juga berkualitas. Strategi pendidikan Khilafah mampu menyiapkan SDM yang beriman dan siap membangun negara. Negara pun peduli dan menjamin kehidupan mereka sebagai warga negara. Tak heran jika Islam pernah memimpin dua pertiga dunia selama berabad-abad. Bahkan, Khilafah sebagai  sistem pemerintahan Islam pernah menjadi mercusuar dunia.

Lahir dari rahim peradaban Islam sumber daya manusia unggul, menguasai agama dan sains. Lahir ulama plus ilmuwan yang dikenal dunia dan dikenang sepanjang masa. Bahkan ilmu mereka menjadi rujukan dunia hingga saat ini. Warga negara Khilafah hidup dengan kenyamanan dan kesejahteraan karena negara menjamin semua itu. Warga di luar Khilafah pun ingin menikmati semua itu karena cahaya rahmatnya menerangi dunia. 

Dalam literasi sejarah, di masa kekhilafahan Abbasiyah Baghdad dikenal sebagai pusat peradaban Islam baik dalam bidang sains, budaya, dan sastra. Kemajuan peradaban ini menghadirkan Baghdad sebagai kota para intelektual, tidak hanya orang arab yang hadir, bangsa Eropa, Persia, Cina, India serta Afrika turut hadir mengisi atmosfer pengetahuan di dalam Khilafah. Masa kekhalifahan Abbasiyah ini lah yang dikenal berkembang pesatnya pengetahuan. Pada masa ini banyak sekali bermunculan intelektual-intelektual muslim baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun ilmu agama. Dalam masa kekhalifahan Abbasiyah keadaaan sosial ekonomi pun berkembang dengan baik. Seperti halnya dalam bidang pertanian maupun perdagangan. 

Masyarakat pada masa itu mampu mengatur tatanan kehidupannya dengan baik, hingga dikenal sebagai negeri masyhur dan makmur. Pada masa Abbasiyah kekuasaan Islam bertambah luas. Masyarakat dibagi atas dua kelompok yaitu kelompok khusus dan kelompok umum, kelompok umum terdiri dari seniman, ulama, fuqoha, pujangga, saudagar, pengusaha kaum buruh, dan para petani sedangkan kelompok khusus terdiri dari khalifah, keluarga khalifah, para bangsawan, dan petugas-petugas negara. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, para khalifah banyak mendukung perkembangan tersebut, terlihat dari banyaknya buku-buku bahasa asing yang diterjemahkan kedalam bahasa arab, dan lahirnya para kaum intelektual. (Repository.uinsu.ac.id)

Khatimah

Nyata, tegaknya Khilafah akan menjadi rahmat bagi seluruh alam, dan mewujudkan dunia yang adil dan sejahtera. Tidak seperti kapitalisme yang telah membuat kesenjangan semakin menganga dan ketidakadilan di mana-mana. Fakta sejarah sudah membuktikan, tugas kita melanjutkan perjuangan  agar Islam kembali menguasai dunia menebar rahmat. Wahai umat Islam, bersiaplah!. Allahua'lam bishawab.


Share this article via

114 Shares

0 Comment