| 670 Views

Ibarat Tubuh Tanpa Kepala

Oleh: Umi Hanifah
Aktivis Muslimah Jember 

Fakta umat lslam hari ini seperti tubuh tanpa kepala, hina dan lemah tak berdaya meski secara jumlah mereka sangat banyak. Kondisi umat lslam menjijikkan tak lebih dari seonggok daging yang tidak berharga hingga kondisinya terlunta-lunta. Bahkan dimanapun mereka tidak di anggap manusia, penindasan, pengusiran hingga pembunuhan tanpa alasan terus terjadi.

Muslim Rohingnya, Uighur, Suriah, Khasmir, Gaza adalah gambaran betapa pilu kondisi umat lslam. Yang lebih menyedihkan tidak ada pembelaan sama sekali dari para pemimpin negeri-negeri muslim yang punya kekuatan untuk menolong mereka. Sebagaimana Mesir yang berbatasan dengan Gaza sengaja diam tidak menolong padahal pembantaian sudah puluhan tahun di depan matanya. Turki hanya mengecam tanpa ada aksi nyata, Arab Saudi justru berpesta pora di saat yang sama banyak saudaranya meregang nyawa.

Padahal 1300 tahun lalu umat lslam pernah mencapai puncak kejayaannya saat mereka punya negara. Di bawah institusi Khilafah mereka hidup berdampingan dengan berbagai suku, agama, warna kulit dan bahasa. Hingga di Spanyol abad ke 8-15 kala itu pernah hidup rukun dengan tiga agama yaitu lslam, Yahudi dan Nasrani. Di Gaza sebelum pendudukan Zionis penjajah 1948 kehidupan tenang dengan berbagai agama dan budaya.

Saat itupun ilmu pengetahuan berkembang pesat di negeri-negeri lslam, sebagaimana di ketahui ada banyak ilmuwan muslim yang lahir dari peradaban emas lslam. Ada lbnu Sina atau Avicenna (370 H) bapak kedokteran, lbnu Batutah (1304-1369 M) sang penjelajah dunia sebelum Coloumbus, Abbas lbnu Firnas (810 M) penemu cikal bakal pesawat terbang, Al Jazari ahli robotik (1136 M), Al-khawarizmi penemu angka nol dan bapak matematika (370-980 M), dan masih banyak lagi para ilmuwan yang hingga hari ini pun dunia banyak berhutang pada mereka.

Nasionalisme Penghalang Persatuan.

Atas nama nasionalisme, satu negeri dengan yang lain tidak bisa membantu penderitaan saudara seiman dengan alasan bukan urusan mereka. Padahal nasionalisme ini termasuk ta’ashub/fanatik yang di larang dalam lslam.
dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah Saw telah bersabda: “Barangsiapa berjuang di bawah bendera kefanatikan, bermusuhan karena kesukuan dan menyeru kepada kesukuan, serta tolong menolong atas dasar kesukuan maka bila dia terbunuh dan mati, matinya seperti jahiliyah”. (HR. Muslim).

Sejatinya umat lslam adalah bersaudara  sebagaimana terdapat dalam surat Al Hujurat ayat 10 meskipun berbeda negerinya, Allah telah mempersaudarakan mereka karena aqidah. Sehingga wajib menolong jika ada saudaranya yang di zalimi, mereka meminta atau tidak. Inilah pangkal tercerai berainya umat lslam meski jumlah mereka mencapai milyaran, namun tak berdaya sama sekali karena tidak bersatu hingga mudah di pecah belah. 

Umat lslam wajib meninggalkan nasionalisme karena terlarang dan berbahaya, hal itu di sadari oleh musuh-musuh umat lslam untuk  terus melemahkan  kekuatan dari dalam dengan tidak perlu ikut campur urusan negeri orang lain. Akibatnya umat lslam tidak sadar bahwa nasionalisme adalah musuh, sebaliknya saudara seiman karena terpisah jarak dianggap tidak memiliki makna.

Wajib Bersatu Dalam Satu Kepemimpinan.

Untuk mengembalikan lagi kekuatan dan kewibawaan umat lslam tidak ada jalan lain kecuali harus bersatu dalam satu kepemimpinan. Hal itu bisa terwujud ketika umat lslam kembali dalam satu negara yang di contohkan Rosulullah SAW dan di lanjutkan oleh para Khalifah yang banyak, yaitu institusi Khilafah lslamiyah.

Negara lslam akan berdiri kokoh karena landasan ruhiyah, serta terpancarlah darinya peraturan yang pasti cocok dengan kondisi apapun dan kapan pun karena sistem ini berasal dari Allah Sang Pencipta. 
Khalifah sebagai pemimpin dalam sistem Khilafah ibarat kepala, maka tubuh akan berfungsi dengan baik karena bagian terpentingnya terwujud sehat. Khalifah akan menjadi pelindung bagi umat lslam, sehingga musuh segan dan tidak berani menganggu mereka. 

Teraniayanya seorang muslimah sudah cukup menjadikan sang pemimpin mengusir musuh dari tempat tinggalnya dengan hina. Hal tersebut pernah terjadi pada Yahudi Bani Qonuiqa yang melecehkan muslimah di pasar, yaitu mengaitkan ujung pakaiannya ke bagian baju atasnya dari belakang hingga ketika ia berdiri tesingkaplah auratnya. Saat itu juga Rosulullah mengusir Yahudi Qonuiqa untuk keluar dari Madinah sebagai bentuk hukuman karena gangguannya terhadap seorang perempuan.

“Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/adzab karenanya.” [Hr. Bukhari dan Muslim].

Begitulah sikap kesatria seorang pemimpin yang sigap melindungi kehormatan rakyatnya ketika mendapat perlakuan buruk. Mereka paham bahwa kepemimpinannya kelak akan ada pertanggung jawabannya.

Maka, umat harus segera berjuang bersama-sama untuk mengembalikan lagi kepemimpinan di bawah satu komando seorang Khalifah agar rahmat tersebar ke seluruh penjuru dunia. Tanpa Khalifah, umat lslam terpuruk dan hidup sengsara.
Allahu a’lam


Share this article via

199 Shares

0 Comment