| 23 Views
Historis Daulah Fathimiyah dan Daulah Ayubbiyah
Oleh: Agustina
Dinasti Fatimiyah adalah dinasti yang muncul pada awal abad pertengahan (909 M) yang memiliki klaim keturunan dari Fatimah binti Muhammad dan menganut aliran Syiah Ismailiyah. Dinasti ini mengklaim garis keturunan langsung dari Fatimah, putri Nabi Muhammad SAW dan istri Ali bin Abi Thalib. Mereka menganut paham Syiah Ismailiyah yang memiliki doktrin-doktrin khusus mencakup berbagai dimensi seperti politik, agama, filsafat, dan sosial. Para pengikutnya memiliki kepercayaan kuat terhadap kedatangan Al-Mahdi.
Pendiri Dinasti Fathimiyah adalah Ubaidillah yang datang dari afrika utara, mendapatkan dukungan dari kaum bar-bar, pertama depat mengalahkan gubernur Aghlabiyah di Ifriqia. Dalam bersaing dengan pemerintahan Abbasiyah, Fatimiyah memindahkan ibukotanya dari al-Mahdi ke Kairo. Dan Juga memberi gelar kepada Khalifah-Khalifah Fatimiyah sebagai Khalifah sejati. Begitu juga dia menyebarkan dai-dainya keluar Mesir yang mereka itu lulusan dari Universitas al-Azhar. Pada masa pemerintahan Fatimiyah timbul perang Salib dan muncul gerakan-gerakan Syi’ah yang ekstrim yang disebut Druze yang dipimpin oleh Darazi.
Fathimiyah adalah Dinasti Syi’ah yang dipimpin oleh 14 Khalifah atau Imam di Afrika dan Mesir tahun 909–1171 M, selama lebih kurang 262 tahun. Para khalifah tersebut adalah :
- ‘Ubaidillah al-Mahdi (909-924 M)
- Al–Qa’im (924-946 M)
- Al–Manshur (946-953 M)
- Al–Mu’izz (953-975 M)
- Al–‘Aziz (975-996 M)
- Al–Hakim (996-1021 M)
- Azh–Zhahir (1021-1036 M)
- Al–Musthansir (1036-1094 M)
- Al-Musta’li (1094-1101 M)
- Al–Amir (1101-1131 M)
- Al–Hafizh (1131-1149 M)
- Azh–Zhafir (1149-1154 M)
- Al–Faiz (1154-1160 M)
- Al–‘Adhid (1160–1171 M).
Berdirinya Dinasti ini bermula menjelang abad X, ketika kekuasaan Bani Abbasiyah di Baghdad mulai melemah dan wilayah kekuasaannya yang luas tidak terkordinir lagi. Kondisi seperti inilah yang telah membuka peluang bagi munculnya Dinasti-dinasti kecil di daerah-daerah, terutama di daerah yang Gubernur dan Sultannya memiliki tentara sendiri. Kondisi ini telah menyulut pemberontakan-pemberontakan dari kelompok-kelompok yang selama ini merasa tertindas serta memberi kesempatan bagi kelompok Syi’ah, Khawarij, dan kaum Mawali untuk melakukan kegiatan politik.
Keberhasilan pemerintahan Fatimiyah ini ditandai dengan pindahnya pusat pemerintahan ke Kairo. Hampir seluruh daerah Afrika Utara bagian Barat dapat dikuasai Fatimiyah, terutama setelah menaklukan wilayah Maghrib yang dipimpin Jawhar asy-Siqilli (969 M) dan menaklukkan Dinasti terakhir di Fusthath Ikhsyidiyyah. Di sana juga mulai membangun ibu kota baru di Mesir, yaitu al-Qohirah (970 M) serta Masjid al-Azhar sebagai pusat pendidikan para da’i, dan Khalifah al Muizz pindah ke ibu kota baru tahun (973 M).
Dari sini Dinasti Fatimiyah diakhiri oleh serangan Sahadin (Shalahudin), keponakan yang cakap sebagai pengganti Syirkuh yang menguasai Mesir (1173 M) di bawah pemerintahan Nuruddin putra Zangi dari Dinasti Ayyubiyah. Sekitar tahun 1171 M, Dinasti Fatimiyah ini berakhir. Dinasti ini banyak mencapai kemajuan peradaban dan peningkatan ekonomi, dan penyebab kemunduran dan kehancuran Fatimiyah disebabkan karena perpecahan di antara para khalifahnya.
Peninggalan Bersejarah Dinasti Fathimiyah.
Di antara peninggalan Dinasti Fathimiyah, ada dua bangunan yang amat bersejarah dan keberadaannya hingga kini masih bisa dirasakan, bahkan mengalami perkembangan pesat. Peninggalan-peninggalan itu adalah:
Universitas Al-Azhar yang semula adalah Masjid sebagai pusat kajian. Masjid ini didirikan oleh al-Saqili pada tanggal 17 Ramadlan (970 M). Nama Al-Azhar diambil dari al-Zahra, julukan Fatimah, putri Nabi SAW dan istri Ali bin Abi Thalib, Imam pertama Syi’ah
Dar al-Hikmah (Hall of Science), yang terinspirasi dari lembaga yang sama, didirikan oleh al-Ma’mun di Baghdad
Ayyubiyah adalah sebuah Dinasti Sunni yang berkuasa di Dyar Bakir hingga tahun 1429 M. Dinasti ini didirikan oleh Salahuddin alAyyubi, wafat tahun 1193 M.14 Ia berasal dari suku Kurdi Hadzbani, putra Najawddin Ayyub, yang menjadi abdi dari putra Zangi bernama Nuruddin. Keberhasilannya dalam perang Salib, membuat para tentara mengakuinya sebagai pengganti dari pamannya, Syirkuh yang telah meninggal setelah menguasai Mesir tahun 1169 M. Ia tetap mempertahankan lembaga–lembaga ilmiah yang didirikan oleh Dinasti Fathimiyah tetapi mengubah orientasi keagamaannya dari Syiah menjadi Sunni.15 Penaklukan atas Mesir oleh Salahuddin pada 1171 M, membuka jalan bagi pembentukan Madzhab-madzhab hukum Sunni di Mesir. Madzhab Syafi’i tetap bertahan di bawah pemerintahan Fathimiyah, sebaliknya Salahuddin memberlakukan madzhab-madzhab Hanafi.16 Keberhasilannya di Mesir tersebut mendorongnya untuk menjadi penguasa otonom di Mesir.
Shalahuddin memasuki Jerusalem pada hari Jumat 27 Rajab 583 H / 2 Oktober 1187, kota tersebut kembali ke pangkuan umat Islam setelah selama 88 tahun dikuasai oleh orang-orang Nasrani. Kemudian ia mengeluarkan salib-salib yang terdapat di Masjid al-Aqsha, membersihkannya dari segala najis dan kotoran, dan mengembalikan kehormatan masjid tersebut.
Sebagaimana manusia sebelumnya, baik dari kalangan nabi, rasul, ulama, panglima perang dan yang lainnya, Shalahuddin pun wafat meninggalkan dunia yang fana ini. Ia wafat pada usia 55 tahun, pada 16 Shafar 589 H bertepatan dengan 21 Febuari 1193 di Kota Damaskus. Ia meninggal karena mengalami sakit demam selama 12 hari. Orang-orang ramai menyalati jenazahnya, anak-anaknya Ali, Utsman, dan Ghazi turut hadir menghantarkan sang ayah ke peristirahatannya.