| 282 Views

Harga Rumah Melambung, Gaji Stagnan, Masa Depan Gen Z Muram ?

Oleh : Ummu Alvin
Aktivis Muslimah

Saat ini kita dihadapkan dengan berbagai problematika hidup, dari mulai biaya hidup yang tidak murah alias tinggi, sulitnya mencari pekerjaan, ditambah lagi gaji yang tidak sesuai, atau cenderung di bawah UMR, sementara kebutuhan hidup kita tetap harus dipenuhi, dari mulai sandang pangan dan juga papan, yakni berupa tempat tinggal untuk berlindung dari panas dan hujan, juga tempat kita beristirahat menghilangkan lelah setelah aktivitas yang dilakukan setiap harinya.

Hal inilah yang dialami Gen Z saat ini, kesulitan yang dialami oleh Gen Z cukup besar, Hal ini dikarenakan harga properti tinggi, sementara penghasilan rendah, ditambah lagi dengan inflasi dan biaya hidup yang terus meningkat sehingga mengurangi daya beli dari para Gen Z. Ditambah lagi saat ini banyak para Gen Z yang harus menghidupi keluarganya sekaligus membantu orang tua atau keluarga atau disebut juga dengan "Generasi Sandwich"

Saat ini, setidaknya ada 41 juta orang di Indonesia yang masuk dalam Generasi Sandwich atau 26 persen dari  Gen Z. Sungguh beban yang tidak ringan yang dihadapi para Gen Z ini, di tengah berbagai kesulitan yang dialami ditambah lagi dengan harga tanah dan properti yang semakin melambung, harapan untuk memiliki rumah sepertinya semakin jauh dari harapan.

Menurut penelitian, persentasi Generasi Z yang memiliki rumah pada usia 25-34 tahun lebih rendah dibandingkan dengan generasi sebelumnya pada usia yang sama. Pada usia ini, generasi sebelumnya seperti Baby Boomers dan Generasi X, memiliki tingkat kepemilikan rumah yang lebih tinggi, Hal ini dikarenakan harga properti yang lebih terjangkau dan lebih sedikit beban hutang saat memulai karir mereka dibandingkan dengan Gen Z. Di sisi lain realitas ekonomi yang dihadapi juga berbeda dengan pasar kerja yang lebih kompetitif, pertumbuhan upah yang lambat dan ketidakpastian ekonomi yang lebih besar.

Beberapa faktor ini menunjukkan bahwa generasi Z menghadapi tantangan yang unik dan lebih berat dalam mencapai kepemilikan rumah dengan generasi yang sebelumnya. Ini bukan hanya masalah preferensi atau gaya hidup tetapi juga masalah struktural yang memerlukan solusi yang komprehensif dan inovatif.

Sejatinya semua permasalahan yang terjadi bersumber pada hal yang satu yaitu penerapan sistem kapitalisme, program yang dibuat pemerintah dengan program sejuta rumah program subsidi, tidak mampu menyelesaikan permasalahan yang ada, seperti biasa solusi dalam sistem kapitalis hanyalah solusi yang parsial yang tidak mampu menyelesaikan masalah dari akarnya, ini juga telah membuktikan lepas tangannya negara dari tanggung jawabnya dalam mengurusi urusan rakyatnya.

Dalam Islam sudah menjadi tanggung jawab negara untuk bisa menjamin kesejahteraan bagi rakyatnya, terpenuhinya setiap individu baik sandang, pangan maupun papan/perumahan. Penguasa adalah raa'in yang akan melayani dan menjamin setiap masyarakat untuk mendapatkan perumahan yang layak dan berkualitas baik secara langsung ataupun tidak langsung.

Di masa kegemilangan Islam, kehidupan rakyat dalam kondisi sejahtera, tentunya kesejahteraan itu dibarengi dengan terpenuhinya semua kebutuhan pokok, termasuk kebutuhan rumah yang layak huni bagi setiap individunya. Dengan kebutuhan pokok yang terpenuhi maka manusia akan berkembang dan menjelma menjadi generasi yang mampu meraih prestasi dan karya peradaban yang lebih besar sehingga peradaban masyarakat Islam akan kembali kepada kemuliaannya, generasi Islam akan menjadi generasi yang terbaik yang akan menjalani seluruh kehidupannya dengan penuh ketaatan kepada Sang Pencipta.

Hanya dengan penerapan syariat Islam secara kaffah di bawah naungan daulah Khilafah, maka seluruh rakyat akan dapat merasakan kesejahteraan secara nyata dalam setiap aspek kehidupan dan senantiasa akan Allah ta'ala turunkan segala keberkahan.

Wallahu a'lam bishowab.


Share this article via

119 Shares

0 Comment