| 78 Views
Global March to Gaza : Perjalanan Menentang Blokade Israel
Oleh: Irma Oktaviana
Pegiat Literasi
Dikutip dari Kompas.tv, 12/06/2025, aksi Global March to Gaza telah digelar beberapa waktu yang lalu. Aksi ini bertujuan untuk menekan pihak-pihak terkait agar membuka blokade Gaza yang digempur Israel sejak Oktober 2023. Para Aktivis hingga relawan lainnya berdatangan dari 80 negara lebih. Diantaranya Tunisia, Libya, Maroko, Amerika, Eropa, Asia, termasuk Indonesia. Mereka adalah pensiunan, dokter perawat, jurnalis, pegiat HAM, hingga anak muda biasa. Mereka tak tahan lagi melihat berita dari Gaza. Gelombang nuranilah yang menuntun langkah mereka.
Kehadiran mereka adalah pesan simbolik masyarakat dari beberapa negara bahwa keberpihakan terhadap Palestina bukan hanya wacana, tetapi tindakan nyata. Aksi pawai global ini menjadi sorotan dunia internasional. Aksi ini adalah bentuk penolakan atas krisis kemanusiaan yang terus menerus berlangsung di Palestina.
Konvoi ini melibatkan ribuan orang dari berbagai negara. Mereka hadir sebagai representasi moral dan kemanusiaan. Keikutsertaan mereka menjadi pesan simbolik dari masyarakat, bahwa bangsa ini telah lama berdiri bersama Palestina. Tidak hanya dengan pernyataan, tapi juga dengan kehadiran fisik dan keberanian bersuara untuk membawa keadilan bagi warga Palestina.
Sayangnya Pemerintah Mesir menghadang aksi ini dengan mendeportasi lebih dari 30 para aktivis saat berada di hotel dan bandara Internasional Kairo. Pejabat di sana menyebutkan bahwa para aktivis dideportasi karena "tidak mengantongi izin yang diperlukan." Ironis, ternyata Pemerintah Mesir secara terbuka menentang blokade Israel di Gaza dan mendesak agar pemerintah Israel segera mengadakan gencatan senjata. Selain itu, Kairo selalu membungkam para aktivis yang mengkritik hubungan ekonomi dan politik antara Mesir-Israel.
Hal ini dikarenakan ada beberapa hubungan yang merupakan isu sensitif di Mesir. Dengan begitu, pemerintah pun tetap menjaga hubungan dengan Israel. Walaupun secara luas publik sangat bersimpati dengan keadaan masyarakat Palestina.
Kementerian Luar Negeri Mesir menyatakan bahwa peserta Global March to Gaza seharusnya mengantongi izin terlebih dulu. Pihak Kementerian mengaku telah menerima sangat banyak permintaan untuk bisa masuk menuju perbatasan Mesir-Gaza. Namun, menurutnya, Mesir berhak melakukan beberapa tindakan yang sangat diperlukan untuk menjaga keamanan nasional, termasuk meregulasi keluar-masuk dan pergerakan individu di wilayahnya, khususnya di daerah perbatasan (Associated Press, 11/06/2025).
Diketahui dari para aktivis dan advokat yang berencana mengikuti Global March to Gaza bahwa pemerintah Mesir, memulai proses razia dan deportasi pada Rabu (11/6) tanpa mengungkapkan beberapa alasan. Penyelenggara Global March to Gaza melaporkan sekitar 170 peserta aksi telah ditahan atau dihambat di Kairo. Padahal penyelenggara mengaku telah mengikuti protokol yang ditetapkan pemerintah Mesir sehingga bisa memperoleh izin akses untuk masuk. Selain itu, sudah memastikan agar longmarch ini bisa berlanjut dengan damai sampai perbatasan Rafah seperti yang direncanakan.
Atas beberapa pernyataan yang dikatakan oleh pemerintah Mesir terkait akses jalan menuju perbatasan antara mesir-gaza tanpa mengatakan alasan yang jelas bahwa sebenarnya pihak terkait tidak ingin pihak mana pun untuk melalui jalur perbatasan ini. Ternyata pihak terkait pun sudah kehilangan rasa empati juga rasa kemanusiaannya hanya karena dasar hubungan bisnis dan politik mereka.
Andai saja ada ketegasan dari pihak bersangkutan yang memiliki kerjasama dengan Israel mungkin saja para aktivis dan relawan lainnya yang sudah meluangkan waktunya untuk membela Palestina tidak akan terhambat hanya karena atas ijin yang alasannya tidak jelas.
Sekuat apapun kekuasaan yang mereka miliki jika yang didahului hanya sekedar beralasan materi, suatu saat jika materi yang mereka punya habis maka kekuasaan pun akan hilang juga. Karena jika semua tujuan awal yang mereka targetkan sudah mereka kuasai, maka mereka tinggal menghempaskan lawan yang sudah mereka bantu. Pada dasarnya, karena sistem yang mereka anut adalah sistem yang rakus akan kekuasaan, maka jangan harap mereka bisa memiliki rasa kemanusiaan walaupun sebenarnya mereka tau yang mereka bantai ialah sesama manusia. Mereka tidak pernah melihat siapa lawannya yang mereka inginkan hanyalah kekuasaan yang abadi.
Tak peduli meski gencatan senjata, serangan mereka terus membabi buta menghancurkan, rumah, sekolah seakan-akan perang belum berakhir. Padahal sebagian besar wilayah Palestina telah mereka hancurkan dengan bom. Nyawa pun sudah tak terhitung jumlahnya saking banyaknya korban yang sudah mereka bantai. Masa depan yang sudah tertata kini hanya tinggal hayalan bahkan sebagian besar rakyat Palestina sudah wafat di jalan jihad. Wajah yang penuh keikhlasan tanpa raut dosa pun ikut jadi korban pembantaian mereka. Nyawa pun seolah sudah tidak ada lagi harganya. Sebagian kepala sudah menjadi saksi atas pembantaian kaum Yahudi Israel.
Kini tinggal tindakan dari kaum musliminn semua yang masih hidup bagaimana pertanggungjawabannya atas kematian saudara muslim kita di Palestina. Tindakan apa yang sudah kita lakukan untuk membela saudara kita disana. Sudah seharusnya kita ikut berjuang walau dengan cara apapun yang kita bisa karena apapun kelak akan dipertanggungjawabkan diakhirat.
Sementara kita akan ikut berdosa jika kita hanya terdiam saja ketika melihat saudara muslim kita dibantai. Apa pantas kita hanya terdiam selamanya? Sudahkah kita siap akan pertanggungjawabannya? Maka dari itu lakukanlah walaupun dari hal terkecil maka Allah akan bantu kita di mana pun kita berada.
Maka lakukanlah dengan sebaik mungkin agar ada hujjah kita dihapan Allah. Tingkatkan ketakwaan kita. Istiqomahkan di jalan yang sesuai syariat-Nya, jauhi segala yang sudah Allah larang. Perbanyak rasa syukur karena masih banyak orang di luar sana yang nasibnya di dunia ini tidak beruntung walaupun jihad yang sudah mereka lalui hadiahnya adalah surga tanpa hisab.