| 175 Views

Drama Gencatan Senjata di Gaza

Oleh : Elly Waluyo
Anggota Aliansi Penulis Rindu Islam

Kemelut di daerah timur tengah telah terjadi puluhan tahun lalu hingga sekarang tak ada habisnya. Sebenarnya hal ini merupakan ekspansi barat terhadap negeri-negeri Islam. Demi menancapkan hegemoninya beserta faham-faham sekularismenya, tujuan serakah yang ditutupi dengan alasan memerangi teroris, senjata biologis, dan lain-lain. Solusi-solusi semu seolah indah dan menyelesaikan masalah diberikan oleh badan perdamaian dunia, namun sebenarnya solusi itu hanyalah untuk memuluskan tujuan busuk Zionis. Oleh karenanya solusi yang disuguhkan tak pernah bisa menyelesaikan masalah.

Drama gencatan senjata kembali dimainkan oleh negara penyokong negara penjajah Palestina, Amerika Serikat dan negara penjajah yang disokongnya, Israel. Drama aneh kali ini seolah Israel memberikan sambutan yang baik terhadap persetujuan gencatan senjata. Perdana Menteri Israel mengumumkan persetujuan gencatan senjata dan perjanjian pengembalian sandera, yang akan dimulai pada hari Minggu, tanggal 19 Januari 2025 dengan batas akhir persetujuan belum ada kepastian. Isaac Herzog Presiden Israel meminta kepada seluruh kabinetnya untuk segera melakukan tindakan menegaskan keputusan tersebut.

Cakupan perjanjian gencatan senjata meliputi jeda pertempuran selama 3 minggu untuk pembebasan ratusan sandera warga Palestina maupun puluhan sandera warga Israel. Warga Palestina juga dapat kembali ke puing-puing sisa rumah mereka bersamaan dengan aliran bantuan ke wilayah terkepung yang semakin meningkat karena pasukan Israel mundur ke pinggiran Gaza di fase awal. (https://tirto.id : 18 Januari 2025)

Angin segar drama gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang disetujui pada Rabu, 15 Januari 2025 tersebut menimbulkan uforia dikalangan warga Gaza, namun hanya selang beberapa jam saja warga Gaza kembali diserang oleh Zionis dengan serangan udara menggunakan pesawat tanpa awak yang mengakibatkan 82 orang warga Gaza tewas. Jumlah tersebut semakin meningkat sebagaimana yang dilansir Al Jazeera bahwa serangan tersebut menargetkan sebuah rumah di utara jalur Gaza, dekat gedung Serikat Insinyur di kota Gaza yang mengakibatkan 18 orang tewas. Pertahanan sipil Palestina melaporkan bahwa di lingkungan Sheikh Radwan ditemukan 12 jenazah dan 5 orang tewas didaerah Karaj, kamp Bureij, Gaza tengah. Warga Gaza pun khawatir situasi akan semakin buruk jelang dimulainya gencatan senjata pada hari Minggu. (https://www.viva.co.id : 16 Januari 2025)

Peristiwa yang terjadi di Gaza tersebut menunjukkan bahwa jangan pernah menyerahkan urusan pada musuh-musuh Allah. Beberapa negeri Islam di daerah timur tengah merupakan negeri yang dihuni oleh muslim yang memiliki keteguhan Iman hebat sehingga sulit dimasuki paham-paham sekularisme yang dihembuskan oleh negara barat melalui berbagai macam cara seperti mekanisme pemberian bantuan, pertukaran pelajar, kerja sama antar negara, dan lain-lain.

Hal ini tentu saja menyulitkan para Zionis untuk melakukan ekspansi dalam rangka menancapkan hegemoninya. Oleh karenanya Zionis mengambil jalan memerangi secara besar-besaran dengan alasan memberantas teroris. Ketika negeri-negeri yang diperangi tersebut berhasil dicaplok maka dipasanglah pemimpin-pemimpin negara boneka yang bisa disetir sehingga tujuan serakah mereka tercapai.

Gencatan senjata ini pun terjadi bukan karena negara Amerika Serikat menekan Israel namun lebih pada bergetarnya para Zionis  terhadap keteguhan warga Gaza yang meski digempur habis-habisan dengan bombardir dan diblokade bantuan pangannya hingga menyebabkan mereka kelaparan tidak kemudian menyurutkan keimanan dan menggetarkan semangat juang dalam mempertahankan tanahnya.

Semangat juang warga Gaza tersebut menunjukkan bahwa solusi hakiki kemelut di timur tengah hanyalah dengan jihad dibawah naungan Khilafah. Bangkitnya umat untuk bersatu di seluruh dunia yang meyakini kemenangan hanya milik umat Islam dan pujian hanya milik Allah akan memunculkan seorang khalifah yang mampu menerapkan syariat Islam dalam segala aspek kehidupan sehingga mampu menjadi perisai bagi umatnya.

Ketika jalan perjuangan sesuai dengan tuntunan Allah, maka pertolongan Allah akan datang untuk memenangkan umat. Untuk mewujudkan hal itu maka umat harus terus berjuang mewujudkan kembali tegaknya Khilafah.


Share this article via

144 Shares

0 Comment