| 7 Views

Di Makkah dan Madinah, Iftar Bersama Bukan Sekadar Tradisi: Ini “Bahasa Cinta” yang Hidup di Tanah Suci

MAKKAH/MADINAH — Menjelang maghrib, udara di Tanah Suci terasa berbeda. Di Makkah dan Madinah, orang-orang seperti bergerak dalam ritme yang sama: langkah dipercepat, sajadah dibentangkan, botol air zamzam dan kurma disusun rapi. Tetapi yang paling menyentuh bukan hanya suasana ibadahnya—melainkan satu pemandangan yang terus berulang dan tidak pernah terasa biasa: berbagi iftar bersama.

Di pelataran Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi, jamaah umrah dan warga setempat terbiasa membagikan makanan buka puasa—kurma, roti, yoghurt, nasi boks, sampai teh hangat. Tak jarang, orang yang memberi tidak menanyakan siapa yang menerima. Tidak peduli asal negara, warna kulit, atau bahasa. Semua duduk sejajar, menunggu satu adzan yang sama.

Dan di situlah kita mengerti: ini bukan sekadar tradisi. Ini adalah cara hidup.

Satu Barisan, Satu Kurma, Satu Adzan

Di waktu-waktu terakhir sebelum maghrib, barisan makan sering terlihat rapi memanjang—seperti “meja makan” yang dibentangkan di lantai masjid. Ada yang datang membawa kardus besar, ada yang hanya membawa satu kantong kurma, tetapi wajah mereka sama: wajah yang ingin mengambil bagian dalam kebaikan.

Lalu ketika adzan berkumandang, semuanya serentak membuka kurma pertama. Hening sesaat—bukan hening kosong, melainkan hening yang penuh syukur. Setelah itu, makanan dibagi lagi, air dioper ke kanan dan kiri, dan senyum kecil muncul tanpa perlu alasan.

Di tengah jutaan orang, semua terasa seperti keluarga.

Kenapa ini bukan sekadar tradisi?

1) Ini ibadah yang sangat dianjurkan: memberi makan orang berbuka

Dalam Islam, memberi makan orang yang berpuasa bukan hanya kebaikan sosial—tetapi ibadah yang pahalanya besar. Nabi ﷺ bersabda:

“Barang siapa memberi makan orang berpuasa untuk berbuka, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.”
(HR. Tirmidzi)

Karena itu, di Tanah Suci, orang tidak memberi iftar untuk dipuji. Mereka memberi karena yakin: pahalanya mengalir seperti sungai.

Di Makkah dan Madinah, keyakinan itu seperti menjadi “budaya” yang hidup: semakin banyak orang datang, semakin banyak pula yang ingin memberi.

2) Ini latihan “ukhuwah” yang nyata, bukan wacana

Ukhuwah sering kita dengar sebagai kata-kata. Tapi di pelataran masjid, ukhuwah menjadi tindakan:

  • orang kaya duduk bersama orang sederhana,

  • orang lokal duduk bersama jamaah dari Afrika, Asia, Eropa,

  • semuanya berbagi makanan yang sama.

Tidak ada ruang untuk gengsi. Yang ada hanya satu identitas: hamba Allah yang sama-sama lapar, sama-sama menunggu adzan.

3) Ini sekolah keikhlasan

Di tempat lain, memberi sering menunggu momen besar: kamera, panggung, program.
Di Tanah Suci, memberi itu sederhana:

  • taruh makanan,

  • bagi,

  • selesai.

Sering kali pemberi pergi sebelum adzan, supaya tidak dikenal. Seolah mereka ingin berkata: “Biarkan Allah saja yang tahu.”

Ini bukan tradisi—ini pendidikan hati.

4) Ini bagian dari “wajah peradaban Islam”

Kalau ada yang bertanya, seperti apa Islam ketika ia hidup dalam masyarakat?
Jawabannya ada pada pemandangan ini: orang berlomba memberi makan tanpa menunggu diminta.

Di Tanah Suci, iftar bersama menjadi bahasa peradaban: bahwa umat ini dibangun di atas kedermawanan, bukan egoisme.

“Buka Puasa di Masjid” Mengubah Cara Orang Memandang Hidup

Banyak jamaah umrah pulang membawa cerita yang sama: mereka terharu bukan hanya karena shalat di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, tetapi karena merasakan kemanusiaan yang begitu hangat.

Ada yang berkata, “Saya baru sadar, makan satu kurma di masjid bisa terasa lebih nikmat daripada makan mewah, karena dimakan bersama saudara-saudara seiman.”

Ada yang berkata, “Di sini saya benar-benar belajar bahwa rezeki itu bukan untuk ditahan, tapi untuk mengalir.”

Ada yang pulang bukan hanya membawa air zamzam, tetapi membawa “cara hidup”: ingin berbagi, ingin memberi, ingin lebih ringan dalam dunia.

Ini Warisan yang Harus Dibawa Pulang

Iftar bersama di Makkah dan Madinah mengajarkan satu hal yang sering hilang di banyak tempat: agama bukan hanya ritual—agama adalah rasa, akhlak, dan kepedulian.

Maka ketika jamaah pulang, seharusnya yang ikut pulang bukan hanya foto-foto dan oleh-oleh. Yang ikut pulang adalah kebiasaan baik itu:

  • memuliakan tamu,

  • memberi makan tetangga,

  • menyediakan iftar sederhana di masjid kampung,

  • menghidupkan “meja panjang” persaudaraan di lingkungan sendiri.

Karena iftar bersama di Tanah Suci bukan tradisi musiman. Ia adalah pesan abadi:

kebaikan itu paling indah ketika dibagi.


Share this article via

0 Shares

0 Comment