| 10 Views
Akibat Sistem Pendidikan Sekuler, dibawah Guru direndahkan
Oleh: Inang
Pegiat Literasi
Di kejutkan kembali dengan peristiwa menyedihkan di dunia pendidikan, pada sebuah video yang viral di media sosial penampilkan sekelompok siswa menunjukan perilaku yang tidak senonoh dan tidak sepantasnya seorang anak didik melakukan hal tersebut terhadap guru kelas nya. (Kompas.com 02/05/2026)
Peristiwa seperti ini sudah sering terjadi dalam bidang pendidikan yang tak kunjung usai, setelah problematik terkait dengan polemik MBG, berita PHK PPPK atas dalih efesien anggaran. Dan kini, kembalikn terjadi pelajaran menengah atas menjadi sorotan. Terlihat masalah demi masalah yang terus bermunculan dan tidak adanya pencaharian apa yang menjadi penyebab utama nya hal itu bisa terjadi? Arrahmah Id. Saptu 02/05/2026
Tindakan tersebut bukan sekedar pelanggaran disiplin, melainkan cerminan krisis yang lebih dalam pudarnya adap dan rasa hormat terhadap guru sebagai pendidik . Dalam video tersebut, para siswa tampak jelas mengejek dan melakukan gerakan tangan yang hina terhadap gurunya, peristiwa ini terjadi di sekolah menengah atas SMAN 1 Purwakarta. Perilaku yang dilakukan oleh siswa siswa tersebut banyak mendapat kan komentar yang kritis karna di anggap krisis nilai dan penghormatan terhadap guru yang ada dilingkungan pendidikan.
Perilaku yang dilakukan oleh siswa tersebut seringkali digunakan untuk konten agar mereka cepat viral di media sosial atau bahkan di jadikan bahan lelucon di kalangan siswa. Vitalitas menjadi tujuan, sementara nilai moral dikesampingkan. Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran orientasi pendidikan dari pendidikan berbasis nilai menjadi pendidik yang terjebak dalam budaya popularitas.
Keberanian yang di miliki siswa melecehkan guru nampak pada melemahnya wibawah pendidik. Guru tidak lagi dipandang sebagai figur yang harus di hormati, melainkan sekedar fasilitator pembelajaran yang dapat dilakukan semena-mena. Di lain hal juga banyak guru yang dilematis, ketika mereka bersikap tegas berdampak resiko dianggap melanggar aturan atau akan dihadapkan dengan tuntutan. Namun, jika mereka terlalu lunak, maka otoritas mereka justru melemah. Dan dampaknya, hubungan antara guru dan siswa mengalami hilang nya keseimbangan yang baik.
Dari pihak sekolah telah memang telah melakukan hukum skorsing selama 19 hari kepada siswa. Namun, pertanyaan mendasar apakah dengan sanksi itu mampu menyentuh akar masalah atau hanya menjadi solusi jangka pendek yang tidak menyentuh pembentukan karakter peserta didik.
Perilaku yang telah di lakukan siswa tersebut terhadap guru kelas nya dengan menunjukkan jari tengah, hal itu masuk dalam kategori perundang dan pelanggaran norma. Namun federasi serikat guru Indonesia menyatakan bahwa penting agar hukuman atau sanksi yang di berikan tidak berdampak terhadap masa depan siswa. Hal yang seperti ini tidak bisa di pisahkan dengan sistem pendidikan saat ini yang di anut oleh negara ini. Perlu disadari bahwa kurikulum pendidikan yang di pakai saat ini adalah kapitalisme sekuler yang telah banyak membuktikan tidak berhasil sistem ini melahirkan generasi yang berkualitas, baik dalam segi karakter maupun akademik.
Sistem kapitalisme sekuler yang ada saat ini sangat berpengaruh terhadap seluruh aspek kehidupan. Dasar nya yang rapuh tampak seperti bom waktu yang siap menghancurkan peradaban kapan pun. Kerusakan yang terjadi membuktikan dengan nyata bahwa kegagalan sistem ini.
Pada dasarnya pendidikan sekuler telah mengaburkan nilai-nilai Islam seperti etika, menghormati guru dan mengembangkan spiritual. Tentunya dalam sistem ini, Islam tidak menjadi landasan, tetapi hanya dianggap sebagai tambahan atau bahkan dihilangkan. Ini adalah penyebab pendidikan hilang esensinya.
Dalam pendidikan Islam, Tenaga pendidik memiliki kedudukan yang sangat amat mulia, bahkan disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muhammad At-Tirmidzi; bahwa Allah, malaikat serta penghuni langit dan bumi mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia. Jauh berbeda dengan pandangan pendidikan modern yang cuma berorientasi pada pencapaian akademik. Islam memandang bahwa pendidikan bukan hanya melahirkan anak yang cerdas, akan tetapi juga membentuk kepribadian yang berdasarkan pada akidah dan akhlak.
Di dalam pendidikan Islam, kurikulum yang dibangun harus berdasarkan akidah Islam. Agar mampu membentuk syakhshiyah Islamiyyah pada peserta didik. Hal ini dilakukan agar siswa tidak hanya memahami ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki pola pikir dan sikap yang sejalan dengan syariat, termasuk adap terhadap guru.
Dalam membentuk kepribadian Islam pada diri generasi muda membutuhkan peran negara untuk ikut serta dalam memantau perkembangan zaman dan teknologi, negara harus mampu menyaring konten digital yang merusak moral seperti, tayangan yang mencontoh membangkang, kekerasan dan pelecehan.
Serta melaksanakan penerapan sanksi Islam yang tegas dapat memberikan efek jerah, namun tetap adil sesuai syariat. Sanksi berfungsi sebagai penebus jawabir dosa bagi pelaku dan pencegahan jawazir bagi orang lain agar tidak melakukan hal serupa. Karena sanksi haru bersifat adil, profesional dan mendidik.
Kasus yang terjadi di purwakarta bukan sekedar insiden biasa, melainkan sinyal kuat bahwa sistem pendidikan harus melakukan evaluasi mendasar. Tanpa adanya perbaikan yang menyentuh akar masala, maka besar kemungkinan hal ini akan terus terulang.
Wallahualam bissawab