| 2 Views

AI untuk Riset Pemasaran dan Strategi: Dari “Tebak-tebakan” Jadi Keputusan yang Lebih Tertata di 2026

Oleh : Risky Irawan
Praktisi Pemasaran dan Penjualan - Penulis Buku Best Seller 

Di banyak bisnis—terutama UMKM dan brand yang sedang tumbuh—riset pemasaran sering terasa seperti kemewahan. Waktu habis untuk operasional, budget terbatas untuk riset formal, akhirnya keputusan marketing dibuat dengan cara yang paling manusiawi: feeling.

Masalahnya, di 2026, kompetitor sudah bergerak dengan data. Mereka tahu konten apa yang menang, segmen mana yang paling responsif, dan pesan mana yang paling efektif. Di titik inilah AI jadi penolong yang nyata: AI membuat riset pemasaran lebih murah, lebih cepat, dan lebih rutin, lalu mengubahnya menjadi strategi yang bisa dieksekusi.

OpenAI merangkum bahwa AI seperti ChatGPT makin dipakai di tempat kerja untuk membantu pekerjaan pengetahuan: merangkum, menulis, membuat rencana, hingga analisis cepat—yang sangat relevan untuk marketing. (openai.com)

1) AI dalam Riset Pemasaran: Apa saja yang bisa dikerjakan?

A. Riset audiens: “siapa yang paling mungkin beli?”

Dengan AI, Anda bisa membuat peta audiens lebih jelas:

  • persona (usia, pekerjaan, gaya hidup, motivasi),

  • pain point (masalah nyata yang mereka alami),

  • trigger beli (kapan mereka siap membeli),

  • channel favorit (IG, TikTok, WA, marketplace, komunitas).

Cara kerja AI di sini: Anda memasukkan bahan mentah (produk, target area, harga, tipe pelanggan yang pernah beli), lalu AI menyusun persona + kebutuhan + pesan yang cocok.

B. Riset kompetitor: cepat, rapi, bisa diulang

AI membantu membedah kompetitor dari sisi:

  • positioning mereka,

  • gaya konten,

  • penawaran/bonus,

  • keunggulan yang mereka klaim,

  • kelemahan yang bisa Anda serang secara elegan.

Riset kompetitor yang biasanya memakan waktu berhari-hari bisa dipadatkan jadi “sesi” 30–60 menit—asal Anda punya data dasarnya (link IG, website, katalog, iklan mereka).

C. Riset tren dan kata kunci: biar konten Anda tidak asal posting

AI membantu mengubah pertanyaan “lagi tren apa?” menjadi:

  • daftar topik konten yang relevan,

  • angle yang sedang ramai,

  • kata kunci yang orang cari,

  • ide headline yang paling mungkin diklik.

OpenAI juga mempublikasikan use case untuk marketing yang mencakup perencanaan kampanye, brainstorming, dan penyusunan timeline. 

D. Riset suara pelanggan: dari chat, komentar, review

Ini yang sering paling “menghasilkan uang”.

AI bisa merangkum:

  • keluhan paling sering,

  • pertanyaan paling sering,

  • alasan orang batal beli,

  • alasan orang repeat order,

  • kalimat pelanggan yang bisa jadi copywriting.

Hasilnya: Anda tidak lagi menebak. Anda menulis iklan dari “bahasa customer”.

2) AI dalam Strategi Pemasaran: Mengubah riset jadi rencana yang bisa dijalankan

A. Menentukan positioning dan pesan utama (value proposition)

Begitu riset audiens + kompetitor ada, AI membantu merumuskan:

  • “kita ini siapa” (positioning),

  • “kenapa harus beli dari kita” (reason to believe),

  • “pesan inti” (message house).

Inilah fondasi branding dan iklan.

B. Membuat strategi funnel lengkap (Awareness → Consideration → Conversion)

AI bisa menyusun strategi funnel dengan format rapi:

  • konten edukasi (awareness),

  • konten pembuktian (consideration: testimoni, before-after, demo),

  • konten penawaran (conversion: promo, bundling, limited offer),

  • retensi (repeat: membership, komunitas, upsell).

C. Menyusun kalender konten 30–90 hari berdasarkan tujuan

Bukan sekadar “posting tiap hari”, tapi posting dengan tujuan:

  • minggu 1: bangun trust,

  • minggu 2: bangun kebutuhan,

  • minggu 3: dorong trial,

  • minggu 4: closing + retargeting.

D. Strategi iklan: A/B testing kreatif dan copy

AI membantu menyiapkan banyak versi:

  • 10 headline,

  • 10 hook video,

  • 10 CTA,

  • 5 format penawaran.

Lalu Anda uji di iklan dan lihat pemenangnya.

3) Tools AI yang paling relevan untuk riset dan strategi marketing

1) ChatGPT (strategi, analisis, copy, rencana kampanye)

Paling kuat untuk:

  • analisis persona,

  • strategi funnel,

  • ide konten,

  • naskah iklan dan follow-up.

2) AI spreadsheet/analytics (untuk angka dan insight)

Kalau Anda punya data leads/iklan:

  • AI bisa membantu membaca pola CPL, CTR, conversion,

  • memprediksi target sederhana,

  • dan memberi rekomendasi eksperimen.

3) Social listening tools (jika brand sudah cukup besar)

Untuk brand yang sudah ramai komentar/mention, social listening membantu riset opini publik. Namun untuk UMKM, sering cukup dengan “dump data review + ringkas pakai AI”.

4) Cara kerja praktis (workflow) yang bisa langsung dipakai

Berikut alur sederhana yang bisa Anda jalankan tiap bulan:

  1. Ambil data mentah (1 jam)

    • 20 chat pelanggan,

    • 20 komentar,

    • 20 review,

    • 5 kompetitor utama (link).

  2. Ringkas dengan AI (30 menit)

    • top 10 pain point,

    • top 10 pertanyaan,

    • top 5 keberatan harga,

    • alasan repeat.

  3. Bangun strategi (1 jam)

    • positioning,

    • 3 campaign utama bulan ini,

    • konten 30 hari,

    • rencana follow-up.

  4. Eksekusi + evaluasi (mingguan)

    • cek konten mana yang paling responsif,

    • perbaiki angle,

    • ulang siklus.


AI membuat riset pemasaran dan strategi marketing menjadi lebih “terjangkau” dan rutin. Di 2026, bisnis yang menang bukan yang paling banyak posting, tetapi yang paling cepat belajar dari data pelanggan—lalu mengubahnya jadi strategi yang rapi. Dan AI adalah alat tercepat untuk melakukan itu.


Share this article via

1 Shares

0 Comment