| 37 Views
Ada Kampung Narkoba di Negara Mayoritas Muslim, Kok, Bisa?
Kerahkan unit K-9, Polda NTB gerebek kampung narkoba dan Amankan 29,72 Gram Sabu
Oleh: Aktif Suhartini, S.Pd.I.,
Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Astaqfirullah, ada kampung narkoba di negara mayoritas Muslim, kok, bisa? Sungguh, keberadaan kampung narkoba di negara mayoritas Muslim menjadi keprihatinan besar. Kasus yang terjadi di kawasan Jalan Kunti, Surabaya, sudah lama dikenal sebagai wilayah rawan narkoba, menunjukkan masalah tersebut bukan kesalahan satu pihak saja, melainkan tanggung jawab bersama.
Jalan Kunti dipenuhi bangunan semi permanen dan bedeng-bedeng kecil yang kerap digunakan untuk transaksi hingga pesta sabu. Peredaran narkoba berlangsung sistemik dan terbuka, menjadi bukti lemahnya pengawasan negara dan masyarakat. Jika dibiarkan, wilayah seperti ini akan terus menjadi ancaman bagi remaja.
Hal tersebut terbukti ketika Kepala BNNP Jatim Brigjen Pol Budi Mulyanto melakukan tes urine pada 13 November 2025, dari 50 siswa SMP, 15 di antaranya positif sebagai pengguna aktif narkotika. Kabid Pemberantasan dan Intelijen BNNP Jatim, Kombes Pol M. Suhanda pun menyatakan pihaknya masih menelusuri asal barang tersebut (jatim.viva.co.id, 14/11/2025). Temuan ini sangat memprihatinkan, terlebih karena mereka masih usia Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Fenomena anak SMP terjerumus narkoba menunjukkan adanya kekosongan nilai, lemahnya keimanan, dan hilangnya arah hidup pada sebagian remaja. Padahal, di negeri mayoritas Muslim, generasi muda seharusnya mendapatkan pembinaan moral, lingkungan yang bersih, dan sistem yang melindungi mereka dari kemaksiatan. Sayangnya, keberadaan kampung narkoba yang dibiarkan bertahun-tahun justru menunjukkan peredaran narkoba sudah sangat terstruktur dan seolah mendapat ruang hidup.
Padahal, Islam menegaskan negara wajib menutup sarang narkoba, memberantas jaringan bandar hingga ke akarnya, dan memastikan remaja tumbuh dalam lingkungan yang sehat. Keluarga, masyarakat, dan negara harus bergerak bersama dengan memperkuat keimanan, saling menjaga, serta menegakkan ketertiban tanpa kompromi terhadap kemungkaran. Remaja pun membutuhkan pendidikan yang membina kepribadian Islam, teladan moral yang nyata, dan sistem yang menjamin kesejahteraan keluarga.
Sungguh mengherankan apabila kaum Muslim yang pernah merasakan kegemilangan syariat Islam ketika diterapkan masih ragu untuk kembali kepada aturan yang terbukti mampu menjaga generasi dan peradaban.