| 33 Views
Wahai Wakil Rakyat dimana Nuranimu?
Oleh: EnyRf
Bogor
Fantastis, ditengah penderitaan masyarakat akibat beban hidup yang berat, harga-harga kebutuhan yang melambung, biaya kesehatan, pendidikan dan tetek bengek pengeluaran yang harus dipenuhi, bisa-bisanya anggota DPR mendapatkan gaji berikut tunjangan sebesar lebih dari 100jt per bulan, atau kurang lebih 3juta an perhari, sepadan dengan UMR sebulan. Luar biasa betapa mencolok perbedaannya.
Mereka para wakil rakyat dengan mudahnya mendapatkan fasilitas tersebut tidak sepadan dengan kinerja mereka sedangkan rakyat berjibaku dengan sulitnya perekonomian, banting tulang untuk bisa bertahan hidup dengan pendapatan yang pas-pasan bahkan kurang. Sangat miris. Dan yang lebih memprihatinkan mereka anggota dewan yang terhormat merayakannya dengan bersuka cita dengan berjoget ria, diluar sana rakyat sangat menderita untuk memenuhi kebutuhan hidup apalagi dengan pungutan pajak disemua lini, apakah anggota dewan tidak merasakan penderitaan mereka?Dimana letak nuraninya? Sudah hilang rasa empatinya, sudah mati rasakah?
Sebuah keniscayaan ketika berada dalam sistem demokrasi kapitalisme. Anggota dewan yang notabene dipilih oleh rakyat hanya materi tujuannya. Tugas mereka tidak jelas dalam mewakili suara rakyat. Apa yang mereka perjuangkan? Sudah mewakili aspirasi rakyatkah?
Berbeda halnya dengan sistem islam tugas para wakil rakyat atau yang disebut majelis umat adalah mewakili aspirasi rakyat dalam mengontrol dan mengoreksi para pejabat pemerintahan dan menjadi tempat rujukan dan meminta masukan dalam berbagai persoalan
Anggota Majelis Umat tidak digaji, karena mereka bukanlah pegawai negara,tetapi wakil rakyat yang berjuang atas dasar iman dan kesadaran. Namun, mereka berhak mendapatkan tunjangan atau santunan secukupnya dari negara (baitulmal) agar dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Motivasinya adalah murni untuk mewakili umat dan amanah di hadapan Allah, bukan untuk menikmati fasilitas negara atau memperkaya diri.
Beda dengan DPR pada sistem demokrasi yang berhak mendapatkan tunjangan dan fasilitas yang jumlahnya sangat fantastis selain gaji yang di terima. Dan mereka bisa menentukan sendiri nominalnya.
Sesungguhnya setiap jabatan yang diemban kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah, termasuk amanah sebagai anggota dewan. Jabatan tidak akan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi atau memperkaya diri sendiri. Keimanan akan menjadi penjaga untuk selalu terikat pada aturan Ilahi yaitu syariatNya.
Itulah enaknya berada dalam sistem islam maka sudah sepatutnya dan selayaknya beralih dari sistem demokrasi kapitalisme ke sistem islam sehingga kesejahteraan akan dirasakan.
Wallahu'alam bishowab.