| 333 Views

Toleransi Kebablasan Jelang Nataru

Oleh : Rifdatul Anam

Sebentar lagi tiba saat di penghujung tahun, banyak kita dapati fenomena perayaan nataru (natal dan tahun baru) diberbagai tempat. Perayaan ini merupakan bagian dari ritual agama Nasrani yang mereka percayai. Lalu bagaimana seharusnya kita sebagai umat muslim menyikapi hal ini? Jangan sampai demi mengatasnamakan kerukunan, sikap toleransi ini menjadi kebablasan.

Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga keharmonisan antarumat beragama menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2024/2025. Ia mengungkapkan, pentingnya memelihara hubungan baik sebagai bangsa yang hidup dalam keberagama dan harus saling mendukung serta menghormati dalam merayakan hari besar keagamaan masing-masing. Ia mengajak masyarakat untuk memanfaatkan momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) sebagai waktu untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan. (Radarsampit.Jawapos, 15-12-2024)

Di samping itu, Pemkot Surabaya memastikan kesiapan menyambut perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024/2025, dengan fokus utama pada pengamanan tempat ibadah dan menjaga kerukunan umat beragama. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan pentingnya kerja sama semua pihak untuk memastikan keamanan dan kenyamanan warga, terutama umat Kristiani yang merayakan Natal.

Berbagai kebijakan berkaitan dengan moment nataru ini selalu digaungkan pemerintah kota dan daerah untuk membuka jalan ide moderasi beragama, dimana umat Islam seharusnya lebih moderat dalam beragama, mengikuti arus zaman serta tidak ekstrim dan fanatik terhadap agama. Seolah-olah dengan begitu akan memberikan kebaikan bagi umat Islam di negeri ini. Seperti ucapan selamat natal dan tahun baru kepada umat Nasrani, memakai atribut serta menghadiri ritual perayaan natal sengaja ditanamkan ditengah masyarakat, sehingga hal itu biasa dan lumrah jika dilakukan oleh umat Islam yang mengaku sangat bertoleransi kepada umat lain.

Seruan toleransi beragama oleh Menteri Agama, kepala daerah dan pejabat lainnya  yang terus berulang ini tentunya bertentangan dengan ajaran Islam. Umat Islam yang ikut-ikutan merayakan nataru jelas membawa kekhawatiran. Toleransi yang salah kaprah bisa saja mengikis akidah dan menjadikan makna toleransi itu kebablasan, yang seharusnya kita membiarkan mereka merayakan hari kebesaran mereka dan tidak menganggu, tapi kita malah ikut-ikutan. Buktinya, banyak kita dapati di kantor-kantor, pusat perbelanjaan, dan tempat lainnya yang ikut memasang atribut-atribut perayaan nataru.

Turutnya umat islam yang ikut berpartisipasi dalam perayaan agama lain menggambarkan bahwa pemahaman-pemahaman tentang ajaran Islam belum sepenuhnya dimiliki umat, sehingga mengakibatkan mudahnya umat termakan oleh propaganda moderasi beragama yang sekilas terkesan baik namun sejatinya mendorong umat islam untuk menjauhi dan menanggalkan ajaran Islam sedikit demi sedikit.

Hal ini terjadi karena sistem sekulerisme demokrasi yang diterapkan ditengah-tengah kita, yang mana sistem ini menjauhkan kita dari pengaturan agama, memisahkan agama dari kehidupan. Negara tidak berperan aktif sebagai pelindung rakyat, juga tidak ada pemahaman akan tugas penguasa dan pejabat negara dalam menjaga urusan umat termasuk dalam penjagaan atas akidah umat. Ditambah masifnya kampanye moderasi beragama yang menjadikan hak asasi manusia (HAM) sebagai pijakan, membuat umat makin jauh dari pemahaman yang lurus.

Toleransi yang kebablasan ini merupakan senjata ampuh moderasi beragama untuk menyebarkan pemikirannya agar mudah diterima umat, karena seolah-olah sesuai dengan Islam. Moderasi beragama yang menganggap semua agama benar dan semua agama sama, jelas bertentangan dengan Islam. Kita mengetahui dengan jelas bahwa agama yang diridhoi Allah Swt hanyalah Islam.
Allah Swt berfirman,
"Sesungguhnya agama yang (diridhoi) disisi Allah hanyalah islam." (QS. Ali Imran 19)

Sesungguhnya, Islam sangat menjunjung tinggi nilai toleransi. Banyaknya keberagaman suku, agama dan bahasa dalam pandangan Islam adalah suatu keniscayaan. Islam sangat menghargai perbedaan dan menghormati antar umat beragama tanpa ikut campur di didalamnya. Sikap toleransi telah diajarkan dan dipraktekkan oleh Rasulullah saw dengan sangat baik. Rasulallah saw. banyak memberikan teladan bagaimana bermuamalah dan memperlakukan non muslim tanpa melakukan toleransi yang salah kaprah dan kebablasan. Islam tidak melarang umat muslim bertransaksi dan berjual beli dengan non muslim, Islam memberi ruang bagi non muslim merayakan hari kebesarannya tanpa diganggu, itu sebagai bentuk toleransi Islam kepada umat selain Islam.

Allah Swt berfirman,
"Katakanlah (Muhammad), Wahai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku." (QS. Al Kafirun 1-6)

Prinsip toleransi dalam Islam telah menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat selama ini ketika Islam diterapkan secara kafah. Aturan-aturan Islam yang sempurna mampu menjaga umat manusia hidup berdampingan tanpa mencampuradukan ajaran Islam dengan ajaran lain. Fakta ini telah terbukti selama berabad-abad lamanya dengan penerapan sistem Islam.

Dengan penerapan sistem Islam secara kaffah (menyeluruh) oleh negara, umat akan terjaga akidahnya, sehingga umat tidak bersikap toleransi kebablasan dan umat tetap dalam ketaatan kepada Allah Swt. Dengan adanya tameng oleh negara, umat tidak akan mudah terpengaruh oleh pemikiran dan ide yang menyimpang jika negara berfungsi sebagai penjaga umat. Praktek toleransi yang bertentangan dengan Islam tidak akan dibiarkan oleh negara.
Wallahu'alam bishawab.


Share this article via

168 Shares

0 Comment