| 5 Views

Panic Buying BBM Melanda, Kedaulatan Energi Solusi Nyata

Ilustrasi, Panic Buying BBM Menggila? Ini Fakta Sebenarnya, Penyebab, dan Imbauan Resmi Pertamina. (foto:gemini/mistar)

Oleh: Yeni Ummu Alvin
Aktivis Muslimah

Masyarakat di berbagai negara saat ini tengah mengalami fenomena panic buying bahan bakar minyak (BBM). Hal ini terjadi sebagai buntut dari konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak setelah penutupan Selat Hormuz membuat masyarakat berbondong-bondong memenuhi tangki kendaraan mereka. Antrean panjang di SPBU pun tidak terelakkan.

Beberapa negara yang warganya mengalami kepanikan hingga menyebabkan antrean panjang di sejumlah SPBU di antaranya Korea Selatan, Sri Lanka, Australia, Jerman, dan Inggris. Sementara itu, di Indonesia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memastikan ketahanan BBM nasional dalam kondisi aman. Stok BBM saat ini cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 20 hari.

Meskipun demikian, antrean kendaraan untuk mengisi bahan bakar tetap terjadi di berbagai wilayah di Indonesia sehingga menyebabkan kemacetan lalu lintas. Di ruas Jalan Merak Jingga, misalnya, kemacetan parah terjadi akibat antrean yang meluber hingga menutup badan jalan. Beberapa SPBU juga diketahui kehabisan stok BBM.

Kekhawatiran yang dirasakan masyarakat saat ini merupakan hal yang wajar karena BBM merupakan komoditas strategis yang dapat memengaruhi kegiatan perekonomian. Kelangkaan BBM dapat menimbulkan gejolak ekonomi, sosial, dan politik. Oleh karena itu, kedaulatan energi menjadi faktor penting bagi stabilitas politik dan ekonomi suatu negara.

Dari fakta di atas, dapat diketahui bahwa sebuah negara harus memiliki kedaulatan energi. Jika sebuah negara tidak memiliki kedaulatan energi, maka negara tersebut akan menjadi lemah dan mudah terdampak krisis. Persoalan ini tidak lepas dari penerapan sistem ekonomi saat ini, di mana dalam sistem ekonomi kapitalis, sumber daya alam bebas dieksploitasi dan dikuasai oleh individu, kapitalis, dan korporasi.

Negara yang notabene kaya akan sumber daya alam seperti minyak dan gas bumi justru hanya dijadikan sebagai pasar yang menyediakan bahan mentah. Sementara itu, negara-negara industri yang menikmati keuntungannya. Kapitalisme global mengeksploitasi sumber daya energi dari negara-negara yang lemah untuk meraup keuntungan ekonomi serta menciptakan ketergantungan energi sebagai alat penjajahan ekonomi.

Di sinilah urgensi penerapan sistem yang sahih, yakni sistem Islam, yang di dalamnya terdapat pengaturan yang jelas tentang pengelolaan sumber daya alam. Dalam pandangan syariat Islam, sumber daya alam yang menyangkut hajat hidup orang banyak tidak boleh dikuasai oleh individu, kapitalis, maupun korporasi. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara, yaitu air, api, dan padang rumput.” (HR Abu Dawud dan Ahmad)

Dengan demikian, jelas bahwa sumber energi seperti minyak, gas, dan tambang merupakan kebutuhan publik yang termasuk dalam kepemilikan umum, sehingga pengelolaannya harus dilakukan oleh negara demi kemaslahatan rakyat.

Islam juga melarang dengan tegas agar harta kekayaan tidak berputar atau terkonsentrasi pada segelintir orang. Hal ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. Al-Hasyr ayat 7, yang artinya:

“Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”

Demikianlah Islam telah menetapkan bahwa negara memiliki kewajiban untuk mengelola sumber daya alam strategis secara langsung, seperti tambang minyak, gas, batu bara, dan sumber energi lainnya yang termasuk dalam kepemilikan umum. Dengan pengelolaan sumber daya alam yang sesuai dengan syariat Islam, akan terwujud kedaulatan energi. Dengan demikian, kekayaan negeri-negeri Muslim tidak lagi menjadi objek eksploitasi kapitalisme global.

Pengelolaan yang sesuai dengan syariat Islam akan menjadikan sumber daya alam sebagai sarana untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemaslahatan bagi umat manusia.

Untuk itu, umat Islam harus menyadari bahwa Islam bukan sekadar agama yang mengatur ibadah, tetapi juga merupakan aturan yang memberikan solusi komprehensif untuk mengatasi seluruh problematika kehidupan, termasuk dalam pengelolaan ekonomi dan sumber daya alam, demi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan di muka bumi.

Fenomena panic buying BBM merupakan bukti rapuhnya sistem energi global saat ini. Inilah saatnya untuk meninggalkan sistem yang rusak tersebut dan menggantinya dengan sistem Islam secara kaffah.


Share this article via

0 Shares

0 Comment