| 7 Views

Konflik Antara Guru Dan Siswa, Buah Pahit Pendidikan Sekuler Kapitalis

Oleh : Yeni Ummu Alvin 
Aktivis Muslimah 

Viral di media sosial kasus seorang guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi yang bernama Agus Saputra sedang adu jotos dengan siswanya, video yang berdurasi selama 58 detik tersebut, menuai komentar dan kecaman dari publik.Menurut pengakuan ,"Peneguran siswa di kelas di saat belajar ada guru, dia (siswa) menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan kepada saya, dengan meneriakkan kata yang tidak pantas kepada saya saat belajar", kata Agus, Rabu (14/1/2026), dilansir dari detikSumbangsel. Sedangkan menurut siswa, guru tersebut "sering ngomong kasar, menghina siswa dan orang tua, bilang bodoh dan miskin,"ujar MUF.

Adapun menurut Koordinator Nasional JPPl, Ubay Matraji, peristiwa tersebut merupakan pelanggaran hak asasi anak untuk mendapatkan perlindungan dan pendidikan yang aman, bebas dari rasa takut dan kekerasan, sebagaimana dijamin dalam Konstitusi dan Undang-undang Perlindungan Anak.

Kasus guru dikeroyok murid bukan sekedar konflik personal ataupun emosi sesaat, ini adalah masalah yang serius dari dunia pendidikan yang sedang tidak baik-baik saja. Hubungan yang terjalin antara guru dan murid yang seharusnya dibangun atas dasar penghormatan dan keteladanan saat ini justru berubah menjadi hubungan yang penuh dengan ketegangan bahkan dihiasi dengan kekerasan fisik bahkan mental. Di satu sisi murid bertindak tidak sopan, kasar dan kehilangan batas adab. Di sisi lain tidak dapat dimungkiri ada pula guru yang kerap menghina, merendahkan atau melabeli murid dengan kata-kata yang melukai psikologis. Hingga akhirnya antara guru dan murid terjebak dalam lingkaran konflik yang berujung pada kekerasan.

Kasus penganiayaan dan kekerasan antara guru dan murid bukan kali ini saja terjadi, sebelumnya juga telah terjadi aksi mogok yang dilakukan oleh murid karena memprotes tindakan gurunya yang menampar muridnya karena kepergok merokok, guru di kriminalisasi karena menjalankan fungsinya dalam membina anak didiknya, hal ini menegaskan bahwasanya dunia pendidikan sedang mengalami krisis moral yang sistemik, bukan sekedar kegagalan individu.

Inilah buah pendidikan sistem sekuler kapitalis yang menjauhkan Islam, pemisahan agama dari kehidupan termasuk juga dalam pendidikan, menjadikan agama dipinggirkan dan hanya dijadikan sebagai pelengkap mata pelajaran, sistem pendidikan kapitalisme terbukti telah gagal membentuk generasi yang bermoral dan beradab, generasi saat ini sangat mudah tersulut emosi, tidak terima apabila ditegur bahkan tidak segan-segan untuk berlaku kasar kepada orang tua ataupun guru. Teguran dan nasehat yang diberi oleh guru tidak lagi dianggap sebagai tuntunan melainkan sebagai gangguan kebebasan. 

Sementara itu sistem hukum yang lahir dari paradigma sekuler, semakin memperparah keadaan, berbagai aturan yang mengatasnamakan perlindungan anak seringkali bertentangan dengan tujuan pendidikan, guru berada dalam posisi yang serba salah, apabila bersikap tegas dalam mendidik maka akan beresiko di kriminalisasi, ketika memilih diam dan membiarkan, maka guru akan dituduh lalai. Negara gagal hadir sebagai pelindung guru sekaligus penjaga arah pendidikan. Inilah buah pahit pendidikan sekuler kapitalis, generasi  cerdas secara intelektual tetapi minim adab, lantang dalam menuntut haknya namun abai terhadap kewajiban.

Selain itu pendidikan sekuler kapitalis hanya berorientasi pada capaian prestasi akademik dan siap kerja, orientasi inilah yang menghasilkan lingkungan belajar yang minim dari penanaman adab dan pembentuk kepribadian, apalagi pendidikan agama tidak lagi difungsikan sebagai asas pendidikan, guru menjadikan murid sebagai objek penilaian, dan murid menjadikan orientasi bekerja sebagai tujuan, di sinilah guru dan murid kehilangan fitrah dan akhirnya tidak mampu dalam mengendalikan stimulus negatif yang diberikan lingkungan. 

Berulangnya kasus guru dan murid, membutuhkan solusi yang nyata untuk memutus rantai problematika pendidikan. Terbukti sistem kapitalis telah gagal dalam membentuk manusia beriman, beradab dan bertanggung jawab, sistem pendidikan kapitalis hanya dirancang untuk memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja, bukan sarana dalam membentuk kepribadian dan penjaga nilai peradaban. Karena itu solusi tidak mungkin lahir dari sistem yang rusak ini, sistem Islam menawarkan paradigma yang menyentuh akar persoalan. 

Islam memandang pendidikan bukan sekedar mencetak orang pintar, tetapi membentuk manusia beradab. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, bahwa tujuan utama diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak. Dalam sistem pendidikan Islam adab didahulukan sebelum ilmu. Murid dididik untuk memuliakan guru, sementara guru diwajibkan untuk mendidik muridnya dengan kasih sayang bukan dengan hinaan ataupun cacian. Guru juga merupakan figur teladan bukan sekedar pengajar. Pendidikan Islam menjadikan akidah sebagai pondasi, sehingga ilmu yang dihasilkan melahirkan ketundukan bukan kesombongan.

Islam memposisikan guru dengan kedudukan yang sangat mulia, menghormati guru bukan hanya sekedar etika sosial melainkan kewajiban moral dan spiritual, kekerasan terhadap guru bukan hanya pelanggaran hukum tapi juga pelanggaran terhadap nilai keimanan.Negara juga menjadikan pendidikan sebagai tanggung jawab bukan komoditas pasar. Negara Islam menyelenggarakan pendidikan secara gratis dan merata, dengan kurikulum yang berbasis akidah Islam yang melahirkan generasi berilmu sekaligus beradab.

Dengan adanya Islam maka pelajar dididik untuk menghormati guru dan ilmu, adab terhadap guru harus dijaga sedemikian rupa, ketegasan guru dalam mendidik dipahami sebagai bentuk tanggung jawab bukan ancaman, dan negara akan melindungi guru serta memastikan kesejahteraannya dan menjaga wibawanya di tengah masyarakat. 

Dengan penerapan sistem Islam maka tidak akan lagi ditemukan kasus murid menganiaya guru, karena iman yang menjadi pengendali perilaku dan adab menjadi pakaian jiwa. Pendidikan Islam membentuk generasi yang cerdas secara intelektual sekaligus mulia dalam adab dan akhlak, bukan manusia yang bebas nilai dan tidak sadar batasan, tidak pula melahirkan generasi yang tempramental tetapi melahirkan generasi yang menjadi pemimpin peradaban.

Wallahu a'lam bishowab.


Share this article via

0 Shares

0 Comment