| 416 Views

Sistem Zonasi Solusi Paling Tepatkah?

Oleh : Nurpiani, S. Kom
Pengajar di Karawang

Setiap kali mendengar kata kelulusan menjadi momen yang mendebarkan bagi para siswa, baik siswa yang lulus SD naik ke SMP, siswa SMP yang naik ke SMA dan seterusnya. Setelah selesai pengumuman kelulusan dan siswa dinyatakan lulus begitu amat bahagianya siswa dan tentunya kedua orangtua mereka, bangga anaknya bisa lulus. 
Momen mendebarkanpun datang lagi dikala para siswa dan orangtua menanti pengumuman kelulusan PPDB.

Sudah beberapa tahun ini pemerintah menetapkan sistem Zonasi. Siswa sudah tidak bisa memilih dimana mereka mau bersekolah karena sistem zonasi ini. Sekalipun siswa itu siswa yang cerdas, akan sulit sekali masuk ke sekolah yang mereka mau dan mereka minati karena sistem Zonasi ini. Sehingga mengakibatkan siswa merasa tidak puas dan berkecil hati.

Jadi apakah Sistem Zonasi ini sudah tepat? Ataukah hanya sekedar kebijakan tanpa Solusi?

Dilansir dari tribunsjabar.id, Subang, Minggu 30 Juni 2024 bahwa ada puluhan siswa ditolak oleh SMPN 2 PAMANUKAN karena sistem Zonasi. Para orangtua mempertanyakan kebijakan Zonasi yang padahal jarak rumah dengan sekolah hanya 500 meter? 

Sistem Zonasi yang pemerintah tetapkan demi mewujudkan pemerataan Pendidikan dan tidak adanya penumpukan sumber daya manusia berkualitas hanya disatu titik ini malah menjadi kekhawatiran bagi siswa dan orangtua. Alih-alih untuk pemerataan Pendidikan tapi menjadi momok untuk Pendidikan itu sendiri.

Kelemahan Sistem Zonasi ini sudah terlihat, selain Salah satunya yang paling mencolok yaitu pembatasan akses siswa ke sekolah-sekolah unggulan. Karena sistem zonasi, siswa hanya dapat mendaftar di sekolah yang berada di zona geografis tertentu. Sistem Zonasi yang mengutamakan 'kedekatan jarak' dan memanfaatkan aplikasi peta Google ini sering kali muncul ketidak akuratan dalam titik koordinatnya sehingga menyebabkan calon murid gagal mengikuti PPDB.

Demi terciptanya pemerataan dalam pendidikan ini pemerintah lebih jeli lagi melihat faktor utama dari apa sebenarnya penyebab ketidak merataan dalam pendidikan ini? Dan kenapa adanya penumpukan sumber daya manusia berkualitas hanya di satu titik. 

Seharusnya Pemerintah lebih meningkatkan lagi dalam tarap pendidikannya, seperti memenuhi infrastruktur pada setiap sekolah-sekolah dan sumber daya guru yang berkualitas.

Kurangnya infrastruktur yang memadai menjadikan salah satu penyebab adanya ketidak pemerataan dan penumpukan sumber daya manusia berkualitas hanya disatu titik. Kurangnya fasilitas dan tidak memadainya infrastruktur di beberapa sekolah membuat siswa dan orangtua mencari sekolah yang lebih bagus dan lebih memadai fasilitasnya inilah yang menjadi penumpukan sumber daya manusia berkualitas hanya disatu titik.

Sumber daya guru yang berkualitas pun menjadi salah satu fasilitas yang pemerintah harus benahi pula. Bagaimana cara menghasilkan guru yang berkompeten sesuai bidangnya dan memberikan penggajian yang sesuai sebagai suatu penghargaan dan pensejahteraan untuk guru dan tidak ada pembedaan signifikan yang menyebabkan kecemburuan.

Sistem Pendidikan Islam yang bersumber pada Al Qur’an dan Hadits membentuk manusia memiliki kepribadian penuh ketaatan dan berkarakter Islami. Al-Qur'an dan Hadits inilah yang menjadi landasan utama dalam Pendidikan Islam.

Seorang pemimpim atau kepala negara bertanggung jawab untuk menyelenggarakan pendidikan bagi semua warga negara. Hal ini karena Islam telah memandatkan kepada negara berupa tanggung jawab mengurus seluruh urusan umat. Sebagaimana dalam hadits dinyatakan:
 
“Seorang imam (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rakyatnya.” (HR. Al-Bukhari). 
 
Dengan peran utama inilah, kepala negara bertanggung jawab untuk memberikan sarana prasarana, baik gedung sekolah beserta seluruh kelengkapannya, guru kompeten, kurikulum sahih, maupun konsep tata kelola sekolahnya.
 
Kepala negara juga harus memastikan setiap warga negara dapat memenuhi kebutuhan pendidikan secara mudah dan sesuai kemampuannya.
 
Semoga pemerintahan lebih bisa bijak lagi dalam mengambil keputusan dan kebijakan, serta betul-betul jeli lagi mencari dan melihat faktor utama dari setiap permasalahan. Dan kita kembali tegak bersama ke khalifahan yang berlandaskan Al Qur'an dan Hadits. 

Wallohu'alam.


Share this article via

92 Shares

0 Comment