| 82 Views
Sekulerisme Biang Kerusakan Leberalisasi Pergaulan Bebas Hanya Islam Solusi Tuntas

Oleh : Dewi yuliani
Perlu kita ketahui bersama bahwasannya Sistem Sekularisme merupakan akar permasalahan kerusakan moral, sehingga pergaulan menjadi makin liberal penuh dengan kebebasan Tampa batasan, sebagai remaja banyak mengalami kebebasan dan kerusakan serta perjinahan dimana - mana akibat semakin jauhnya mereka dari tuntunan agama.
Bahkan semua usia menjadi rusak karena pergaulan yang makin bebas tanpa aturan dan bebas memuaskan hawa nafsunya sehingga membuat kerusakan moral di tengah-tengah masyarakat.
contohnya saja terjadi pada kasus di YOGYAKARTA, KOMPAS.com Permohonan dispensasi nikah oleh remaja di Kabupaten Sleman pada tahun 2024 tercatat sebanyak 98 kasus. Dari jumlah tersebut, alasan terbanyak untuk mengajukan permohonan dispensasi adalah karena hamil di luar nikah.
Kalau dispensasi nikah untuk tahun 2024 ada 98 yang masuk di PA (Pengadilan Agama) Sleman ujar Panitera Muda Permohonan Pengadilan Agama Kabupaten Sleman, Tri Wahyu saat dihubungi, Jumat (10/1/2025).
Disistem hari ini begitu banyak kasus lainnya yang serupa akibat tidak adanya kontrol orang tua,kontrol masyarakat, dan negara kepada pemuda saat ini dan begtu bebas dalam pergaulan inilah yang mengakibatkan terjadinya para pemuda yang hamil diluar nikah. Ditambah lagi rusaknya sistem yang hari ini masih menganut 4 kebebasan salah satunya kebebasan dalam bereksperesi yang mengakibatkan pergaulan bebas Tampa batas dalam kehidupan remaja dan masyarakat. Contohnya saja masih banyak masyarakat kususnya para pemuda yang Melihat konten-konten porno serta mengundang sahwat yang bertebaran disosial media dan begitu mudah untuk diakses, ini yang mengakibatkan terjadi banyaknya remaja hamil diluar nikah.
Kesalahan fatal saat ini adalah menyelesaikan masalah seks bebas dengan pendidikan seks ala Barat, padahal penyebab utama merebaknya perilaku seks bebas adalah pemikiran sekuler liberal itu sendiri. Adapun masalah-masalah yang muncul, itu adalah efek turunan akibat penerapan sekularisme liberal dalam kehidupan.
Liberalisasi pergaulan bermula dari sistem kehidupan sekuler yang menjauhkan manusia dari aturan agama (Islam). Sistem ini menjadikan manusia bebas mengatur kehidupan mereka sendiri dengan standar dan nilai manusia. Sistem ini juga menganggap kebebasan adalah hak setiap individu, di antaranya kebebasan berekspresi dan bertingkah laku yang melahirkan gaya hidup liberal, hedonis, dan permisif. Alhasil, generasi makin jauh dari hakikat dan tujuan ia diciptakan.
Ini semua adalah buah hasil dari penerapan sistem sekuler yang telah gagal dalam peran negara untuk memberantas setiap perilaku secara tegas. Negara seakan melegitimasi pergaulan bebas dengan memberikan kebebasan berperilaku pada individu. Paham sekuler liberal telah merusak sendi - sendi kehidupan, menghilangkan sensitivitas umat terhadap perilaku maksiat, serta mendangkalkan akidah umat. Mereka menganggap Islam hanya sebatas agama ritual yang mengatur masalah ibadah semata.
Negara dengan sistem kapitalisme sekuler justru melahirkan aturan yang melemahkan moral generasi. Negara hari ini justru memfasilitasi liberalisasi pergaulan, misalnya adanya aturan kontrasepsi untuk pelajar dan pendidikan kespro yang berasaskan peradaban Barat. Juga kebijakan kesetaraan gender dan semua turunannya yang berkiblat pada barat, seperti hak reproduksi dan bodily autonomi.
Berbeda halnya dengan sistem Islam yang menjaga kemuliaan manusia, dan memerintahkan negara menjaga nasab, dengan berbagai mekanisme, seperti menerapkan sistem pergaulan Islam, sistem pendidikan berbasis akidah Islam, sistem sanksi yang tegas dan menjerakan.
Negara juga akan menutup semua celah masuknya ide-ide liberal, media-media sekuler dan memberi sanksi tegas terhadap tindak maksiat yang dapat merusak moral generasi
Islam bukan hanya agama ritual, tetapi merupakan sistem kehidupan yang mampu menangkal generasi dari pemikiran berbahaya dan menyesatkan. Beginilah langkah Negara Islam untuk menciptakan lingkungan taat dan masyarakat tercegah dari perilaku maksiat dan perbuatan negatif lainnya.
Penerapan sistem Islam yang pertama adalah pendidikannya berbasis Islam bukan sekuler atau liberal. Sistem pendidikan merupakan cara melahirkan generasi berkepribadian Islam yang memiliki bekal ilmu yang diperlukan dalam kehidupan, baik ilmu Islam maupun ilmu terapan seperti sains dan teknologi. Negara menerapkan sistem pendidikan melalui kurikulum pendidikan Islam dan UU yang mendukung penerapan kurikulum tersebut.
Dalam menyusun kurikulum dan materi pelajaran, terdapat dua tujuan pokok pendidikan yang harus diperhatikan: (1). Membangun kepribadian islami, yaitu pola pikir (akliah) dan jiwa (nafsiah) islami bagi umat. Caranya dengan menanamkan tsaqafah Islam berupa akidah, pemikiran, dan perilaku islami ke dalam akal dan jiwa anak didik. Oleh karenanya, harus disusun dan dilaksanakan kurikulum Negara Khilafah untuk merealisasikan tujuan tersebut.
Yang kedua Negara Islam juga Mempersiapkan anak-anak kaum muslim agar di antara mereka menjadi ulama-ulama yang ahli di setiap aspek kehidupan, baik ilmu-ilmu keislaman atau ijtihad, fikih, peradilan dan lain-lain maupun ilmu-ilmu terapan seperti teknik, kimia, fisika, kedokteran dan lain-lain. Ulama-ulama yang mumpuni akan membawa negara Khilafah dan umat Islam melalui pundak mereka untuk menempati posisi puncak di antara bangsa-bangsa dan negara-negara lain di dunia, bukan sebagai pengekor maupun agen pemikiran dan ekonomi negara lain (Syekh Abu Yasin, Usus at-Ta’lim fi Daulah al-Khilafah, hlm. 12) Adapun sistem pendidikan nonformal dilaksanakan di luar pengaturan negara dalam hal pelaksanaannya, seperti pendidikan di rumah, masjid, pondok, dan berbagai forum seperti seminar, training, diskusi, kajian, dan sebagainya.Tak hanya itu saja negara Islam juga akan menindak tegas setiap lembaga atau sekolah yang mengajarkan ide-ide yang bertentangan dengan Islam, seperti sekularisme, liberalisme, pluralisme, feminisme, hedonisme, dan seluruh produk pemikiran asing lainnya yang menyalahi Islam.
Ketiga negara Islam juga menerapkan sistem pemerintahan dan politik ekonomi berdasarkan syariat Islam secara kaffah, bahkan kebijakan politik ekonomi terkait erat dengan pembentukan generasi berkualitas. Sebagai contoh, kebijakan politik dengan menyaring dan memblokir konten-konten porno atau muatan yang mengandung gaya hidup bebas dilakukan melalui departemen penerangan. Lembaga ini bertugas melakukan pengawasan terhadap kerja media, baik media massa maupun digital. Tujuannya, menjaga generasi dari pengaruh negatif media yang merusak.
Keempat negara Islam akan menerapkan sistem pergaulan Islam yang mencegah generasi bergaul tanpa batas. Di antaranya adalah larangan berkhalwat, wajibnya memisahkan kehidupan laki-laki dan perempuan, dan kebolehan ikhtilat hanya dalam perkara-perkara yang disyariatkan saja.
Kelima sistem Islam juga mewujudkan lingkungan yang islami. Negara akan melarang kebiasaan yang bertentangan dengan Islam. Setiap kegiatan masyarakat haruslah selaras dengan tujuan pembentukan generasi berkepribadian Islam. Selain pengawasan negara, terbiasanya amar makruf nahi mungkar yang dilakukan masyarakat akan menjaga generasi dari kemaksiatan. Negara juga menerapkan sistem sanksi yang tegas. Ketika pencegahan sudah dilakukan secara maksimal, tetapi masih ada yang melakukan maksiat atau pelanggaran, lapisan terakhir yang bisa dilakukan adalah penerapan sistem sanksi yang tegas. Hukum Islam memiliki dua fungsi, yaitu sebagai penebus dosa (jawabir) dan memberikan efek jera (zawajir). Dengan begitu, mereka yang melanggar tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.
Dengan kelima aspek ini, Negara Khilafah akan menjalankan tanggung jawabnya menjamin serta menjaga generasi dari paparan virus pemikiran sekuler liberal yang merusak generasi muda dan masyarakatnya..
Wallahu'alam bshawab