| 343 Views
Sekuler Kapitalisme Penyebab Maraknya Kejahatan di Bulan Ramadan
Oleh : Mariah
Pendidik Generasi
Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan, ampunan dan rahmat serta kasih sayang dari Allah Swt. di bulan ini begitu banyak kemuliaan, yang jika kita mendapatkannya maka akan mendapatkan pahala berkali lipat banyaknya.
Bulan Ramadan pun selalu disambut suka-cita oleh umat muslim di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Namun sayang, suasana bulan suci ini peningkatan kejahatan malah lebih banyak terjadi. Salah satu faktor pemicunya adalah ekonomi.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Pengamat kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto melalui media online - MediaIndonesia.com yang menilai bahwa meningkatnya tren kejahatan pada bulan Ramadan hingga jelang Lebaran disebabkan oleh adanya peningkatan kebutuhan di masyarakat yang tinggi.
Menurut Bambang, dengan adanya peningkatan kebutuhan, maka pengeluaran dari masyarakat juga pasti akan meningkat. Sementara, bagi sebagian masyarakat peningkatan pengeluaran biaya tersebut tak diiringi dengan peningkatan penghasilan.
Masyarakat harus senantiasa waspada akan hal ini, seperti yang dilansir, BOGOR-RADAR BOGOR, Polresta Bogor Kota mengimbau warga Kota Bogor untuk mewaspadai kerawanan kejahatan selama Ramadan.
Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota, Kompol Luthfi Olot Gigantara mengatakan, Jajaran Polresta Bogor Kota sebenarnya sudah mengantisipasi terkait dengan kerawanan kejahatan selama Ramadan. Salah satunya, dengan menyiapkan enam pos penjagaan untuk mengantisipasi adanya kerawanan mulai dari pukul 21.00 sampai 06.00 WIB.
Maraknya kejahatan tentu menodai kesucian bulan Ramadan. Kejahatan ini ada akibat dari kemiskinan dan kesulitan pemenuhan ekonomi masyarakat juga lemahnya iman. Penerapan sistem kapitalisme sekuler yang mengakibatkan kemiskinan dan lemahnya iman pada masyarakat. Masyarakat pada sistem kapitalisme terbentuk dari individu yang bebas, tidak memiliki akidah sebagai pengontrol tingkah laku. Sebagaimana asasnya yaitu mengusung kebebasan serta dipisahkannya urusan agama dengan urusan dunia. Kemudian juga tidak ada yang mengawasi dan mengingatkan ketika berbuat dosa. Mirisnya, para penguasanya sendiri pun abai terhadap keadaan masyarakatnya. Di mana masyarakat berjibaku sendiri dalam usaha memenuhi kebutuhan hidup yang semakin tinggi utamanya di bulan Ramadan. Negara tidak hadir sebagai bentuk periayahan terhadap rakyatnya.
Hal tersebut sangat berbeda dengan Islam yang menjadikan negara sebagai pelindung, yang dapat menjamin kesejahteraan rakyat melalui pemenuhan kebutuhan pokok rakyat oleh negara, serta memberikan jaminan keamanan.
Islam membangun kehidupan yang aman dan tenteram dengan menerapkan peraturan Islam sehingga dapat menjadikan individu berakidah kuat dan bertakwa, baik individu dalam masyarakat ataupun individu dalam pemerintahan. Setiap individu masyarakat yang bertakwa dan kuat akidahnya, akan memiliki perasaan takut ketika akan berbuat kejahatan atau dosa. Meskipun dalam keadaan berkekurangan. Jika dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan hidup diraih dengan cara yang bathil seperti mencuri, maka akan ada sanksi yang harus diterima. Pencuri laki-laki dan perempuan yang sampai batas tertentu akan dihukumi potong tangan. Sesuai dengan nash Al-Qquran dalam surat Al-Maidah ayat 38:
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Begitu pula pada individu dalam pemerintahan yang tidak akan berbuat zalim pada rakyatnya. Tentu saja karena akidah yang kuat sehingga dirinya merasa selalu diawasi oleh Allah dan takut akan hukuman yang akan diterima jika berbuat dosa. Dalam hal ini akidah yang menjadi sensor kontrol segala aktivitasnya. Masing-masing individu masyarakat juga dapat saling mengingatkan ketika ada yang berbuat salah, sebagaimana dalam bentuk Amar Maruf nahi mungkar sehingga mampu membawa kepada kemuliaan umat.
Negara sebagai pelaksana penerapan aturan Islam yang tegas dan dapat memberi efek jera menjadi dasar kokohnya masyarakat islam. Negara mengawasi dan mengontrol masyarakat, individu dan pelaksanaan seluruh hukum Islam sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Swt.
Maka sudah selayaknya kita harus bersegera menerapkan aturan Islam, agar tercipta kehidupan yang tenteram dan aman. Terlebih di bulan Ramadan yang suci tidak akan ternodai lagi oleh kejahatan.
Wallahu'alam bissawab.