| 332 Views

Satu Tahun Badai Al-Aqsa, Mampu Membuka Mata Dunia

Oleh : Sukey
Aktivis Muslimah Ngaji

Operasi Badai Al-Aqsa (Taufanul Aqsa) sejak 7 Oktober 2023 yang dilancarkan oleh Gerakan Perlawanan Islam Hamas bersama faksi-faksi Palestina lainnya, setahun berlalu telah membuka mata dunia tentang kerapuhan penjajah Zionis Israel. Serangan itu merupakan aksi perlawanan terhadap penjajah Zionis Israel, yang telah bercokol di bumi Palestina sejak 1948, atau saat ini memasuki 76 tahun. Jika ditarik ke Jalur Gaza, maka serangan itu adalah bentuk perlawanan dari wilayah di Selatan Palestina itu, yang diblokade dari darat, laut, dan udara sejak 2006.

Narasi yang diciptakan media Zionis Israel dan yang pro-Zionis mengatakan bahwa Zionis berdalih melakukan pertahanan diri ketika membombardir Jalur Gaza dengan brutal tak berperikemanusiaan sama sekali.

Padahal serangan perlawanan para pejuang Gaza merupakan reaksi wajar atas puluhan tahun pendudukan Zionis Israel terhadap rakyat Palestina, dengan keterlibatan Barat. Inggris adalah negara yang mendirikan Israel sebagai negara boneka. Sementara Amerika Serikat kemudian mensponsorinya dengan uang, senjata, dan media, serta ketidakmampuan PBB (minanews.net/11/10/2024).

Perhari ini, genosida terus dilakukan bahkan diekskalasi hingga Lebanon Selatan oleh Israel. Israel tidak lagi bisa bersembunyi dan menutupi dari segala bentuk kejahatan besarnya.  Perlawanan terhadap penjajahan adalah sah dan itu dilakukan di mana-mana, termasuk di Indonesia. Semenjak 7 Oktober 2023 itu, selama satu tahun ini, kebusukan, kebobrokan moral dan kejahatan Israel semakin terbuka secara  kasat mata di pentas internasional.

Sehubungan dengan itu, ada beberapa hal sebagai refleksi terhadap penghancuran kemanusiaan selama  satun tahun ini :

Pertama, Israel paling tidak semenjak tahun 1948 adalah agresor, imperialis  dan teroris terbesar abad 20 dan 21 dan memperoleh dukungan kuat dari Yahudi ekstrem. Kombinasi kekuatan politik, diplomasi, militer, ekonomi, dan teknologi didedikasikan untuk menghabisi Palestina dan pada waktunya akan menggantikannya dengan Israel Raya.

Missi ini masih terus berlangsung hingga saat ini. Amerika secara penuh memberikan dukungan politik, diplomasi, militer, ekonomi dan bahkan ideologi Evangelisme Amerika untuk kejayaan Israel. Imperialisme-Yahudi ekstrim Israel yang memperoleh dukungan penuh dari spirit imperialisme-Evangelisme Amerika semakin menyempurnakan pandangan dunia bahwa Israel dan Amerika adalah musuh kemanusiaan bersama, penghancur keadilan global dan perusak hukum internasional.

Kedua, atas semua kejahatan yang telah dipertontonkan secara global, maka Israel dan juga Amerika saat ini sudah mulai memperoleh pengucilan politik dan diplomasi secara global yang sangat serius selama satu tahun ini. Kebangkrutan moral para pemimpin politik-milter Israel dan Amerika juga sudah terasa dan ini akan mengeroposkan Israel dan Amerika.

Mereka akan jatuh atas kegilaan dan kebrutalan mereka. Jika Amerika dan Israel tidak mau mekakukan langkah maju untuk perdamaian, maka  Amerika dan Israel akan hancur.

Ketiga, perjuangan pembelaan terhadap Palestina sudah memperoleh hasilnya meskipun masih perlu disempurnakan sehingga Palestina benar-benar merdeka dan berdaulat dan Israel menarik mundur dari Palestina dan Libanon. Keberhasilan itu antara lain ditandai dengan dukungan lebih dari 2/3 negara anggauta PBB yang sudah mengakui negara Palestina dan negeri itu saat ini sudah bisa mengikuti sidang PBB dan mempunyai hak bersuara sebagaimana negara-negara lainnya.

Selama Perang Israel-Hamas ini, Pasukan Israel telah melakukan sejumlah serangan darat ke Tepi Barat terutama ke Jenin dan Tulkarem. Tentara Isarel bahu-membahu dengan pemukim Israel menyerang wilayah pendudukan itu, yang menyebabkan setidaknya 693 orang telah tewas, sekitar 100 orang adalah anak-anak. Jadi kalau digabung dengan korban  tewas di Gaza per hari ini sebanyak 41.788 jiwa dan di Tepi Barat 693 jiwa, maka total orang Palestina yang terenggut nyawa karena kebiadaban Israel menjadi 42.481 jiwa. BBC melaporkan, Gaza memang masih terlihat sampai sekarang tetapi Gaza yang penuh dengan kematian dan kuburan.

Sikap negara-negara Arab sangat menarik jika dilihat selama Perang Israel-Hamas ini. Para pemimpin negara-negara Arab hanya menyampaikan retorika dan diplomasi lunak saja yang menunjukkan posisi negara-negara sangat lemah vis a vis Israel (dan Amerika Serikat). Negara-negara Arab tidak berdaya karena ketergantungan ekonomi dan militer kepada Amerika Serikat dan Barat. Mereka menganggap, berhadapan dengan Israel sama dengan mengorban kestabilan politik dan ekonomi karena khawatir pembalasan AS.

Negara dan para pemimpin Arab sekarang sangat berbeda dengan negara dan pemimpin Arab tahun 1960-an dan 1970-an. Pada era tersebut, ekor kekalahan Arab dalam Perang Enam Hari pada tahun 1967, dan kekalahan dalam Arab dalam Perang Youm Kipur pada tahun 1973, bersatu-padu untuk membuat perhitungan kepada Israel dan negara-negara Barat pendukung Israel.

Tapi perang di Gaza yang dianggap sebagai situs pembantaian manusia terbesar di abad ini, tidak menggugah apapun di kalangan orang Arab: tidak tergugah secara politik dan tidak berdampak secara akademis. Pembunuhan lebih 40.000 orang terhadap saudara mereka itu dianggap sebagai tragedi biasa yang terjadi di tempat jauh, terhadap orang-orang yang tidak dikenal.

Apa yang membuat para penguasa muslimin bungkam? Mengapa mereka begitu takut terhadap Israel, padahal jumlah mereka amat sedikit dibandingkan dengan jumlah kaum muslimin di seluruh dunia?

Bahkan negara-negara yang terdekat dengan Palestina seperti Mesir, Arab Saudi, Yordania, Irak, Suriah, dan Turki, dan lain-lain. Seolah-olah masalah Palestina itu tidak penting bagi mereka. Para penguasa di sana malah mengawasi rakyatnya agar tidak bergerak menuju Palestina. Bahkan, jika ada orang-orang yang melakukan demonstrasi dan menyerukan agar tentara bergerak, para penguasa itu menganggap hal itu telah melanggar dan dilakukan penangkapan.

Mirisnya lagi, para penguasa yang negaranya tidak dekat dengan Palestina mereka bergembira karena tidak dekat!! Sungguh kehinaan dan keburukan bagi para penguasa yang melakukan semua itu. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an surat An Nahl ayat 59: 
                                                                                        اَ لَا سَآءَ مَا يَحْكُمُوْنَ
                 

“Ingatlah alangkah buruknya (putusan) yang mereka tetapkan itu.”

Sekarang Amerika dan antek-anteknya di kalangan para penguasa di negeri kaum Muslim adalah tali mereka yang baru. Antek-antek dari kalangan penguasa ini adalah bagian yang lebih kuat pengaruhnya dalam menghalangi pasukan di negeri- negeri muslim dari memerangi Yahudi. Tali inilah yang seharusnya diputuskan oleh para penguasa muslim sehingga Israel (entitas Yahudi) tidak memiliki lagi kekuatan untuk memerangi kaum muslimin dan mereka akan terusir dari tanah Palestina untuk selamanya.

Israel menjadi kuat karena para penguasa Muslim telah menjadi antek-antek Yahudi. Padahal Allah sudah mengingatkan kaum muslimin bahwa Yahudi bukanlah bangsa yang ahli berperang. Sebagaimana Allah berfirman:

“Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudharat kepada kalian, selain dari gangguan-gangguan celaan saja, dan jika mereka berperang dengan kalian, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah). Kemudian mereka tidak mendapat pertolongan” (TQS Ali Imran (3: 111).

Maka dari itu sejatinya muslim Palestina khususnya dan secara umum seluruh umat Islam di wilayah konflik membutuhkan kehadiran pasukan  kaum muslim dari bersatunya negeri-negeri muslim di seluruh dunia untuk melawan penjajah Zionis Yahudi laknatullah dan Negara kafir lainnya. Maka dari itu kehadiran tentara muslim ini hanya akan dapat terwujud ketika mereka memiliki kesadaran dan pemahaman akan tanggung jawabnya untuk membela sesama muslim palestina dan muslim lainnya yang akan di pertanggung jawabkan kelak di hadapan Allah.

Muslim Palestina membutuhkan solusi yang komprehensif (menyeluruh) untuk menghentikan genosida yang terjadi disana, salah satunya dengan mengirim pasukan dari negeri-negeri kaum Muslim untuk melawan penjajah Zionis Yahudi di Palestina. Namun, untuk menghadirkan pasukan Muslim tentunya tak bisa secara tiba-tiba, karena pasukan negeri-negeri Muslim tidak akan berkumpul jika tanpa komando, sedangkan komando yang dibutuhkan untuk menyeru pasukan Muslim di seluruh dunia adalah seorang khalifah. Dan seorang Khalifah hanya terdapat dalam sebuah institusi yang bernama Khilafah, di mana khilafah inilah yang akan berperan sebagai junnah untuk menyelamatkan umat Muslim yang tertindas dan terjajah.

Sebuah institusi yang bernama Khilafah ini belum ada untuk saat ini, sehingga membutuhkan perjuangan dari semua kaum Muslim untuk menegakkannya. Sebelumnya, umat Muslim perlu mengetahui betapa pentingnya kehadiran sebuah institusi ini, Karena tanpanya aturan Islam tidak bisa diterapkan secara sempurna. Tegaknya kembali Khilafah atas manhaj kenabian ini tentunya menjadi dambaan semua umat Islam, karena hal itu merupakan sebuah kabar gembira dari Nabi Muhammad SAW untuk mereka  kaum Muslim.

Sebagaimana sabda Nabi SAW:

...ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ.

“..Selanjutnya akan ada kembali masa Khilafah yang menempuh jejak Kenabian.” (HR. Ahmad).

Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk membangun kesadaran mereka bahwa permasalahan yang sedang terjadi di Palestina sejak dulu hingga saat ini adalah eksistensi entitas zionis yahudi Israel. Sedangkan, permasalahan tersebut hanya bisa diselesaikan dengan tegaknya sebuah institusi global bernama khilafah. 

Wallahu a'lam bishshawab. 


Share this article via

126 Shares

0 Comment