| 219 Views

Remaja Pelaku Pembunuhan: Buramnya Generasi di Sistem Kapitalis

Oleh: Nurhasanah

Sungguh miris dan menyayat hati, remaja yang seharusnya menjadi generasi penerus namun justru menjadi seorang pembunuh yang tidak punya hati. Tega menghabisi nyawa satu keluarga tanpa ada rasa sungkan bahkan setelah menghabisinya remaja ini menyetubuhi mayat yang sudah dibunuhnya.
Dilansir dalam

 JawaPos.com - Tak hanya menghabisi nyawa satu keluarga di Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, PPU, J alias SJ, 16, seorang siswa SMK, juga menyetubuhi jasad SW, 34, istri korban Waluyo, 35, dan RJ, 15, yang tak lain adalah anak pertama Waluyo.

Aksi bejat J dilakukan tak lama setelah dia membantai Waluyo sekeluarga, Selasa (6/2) dini hari. "Berdasarkan pengakuan, tersangka ini menyetubuhi jasad si istri (SW) dan putri pertamanya (RJ). Setelah itu dia meninggalkan tempat," kata Kapolres PPU AKBP Supriyanto di Mapolres PPU dilansir Prokal (Jawa Pos Group).

Dengan motif persoalan asmara dan dendam lama, pelaku tanpa babibu melakukan pembantaian satu keluarga. Remaja yang merupakan siswa SMK kini menjadi pelaku pembunuhan yang tidak berprikemanusiaan.

Dalam republika.com.id Jakarta  — Kepolisian Resor Penajam Paser Utara (PPU) Kalimantan Timur, mengungkap kasus pembunuhan oleh seorang remaja berinisial J (16 tahun) terhadap satu keluarga berjumlah lima orang. Diduga motif pembunuhan yang terjadi di Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu karena persoalan asmara dan dendam pelaku terhadap korban. Antara pelaku dengan korban saling bertetangga.


Kasus ini merupakan salah satu bukti buramnya pendidikan di Indonesia, yang gagal dalam mewujudkan siswa yang terdidik dan berkepribadian terpuji. Parahnya lagi ini bukanlah satu-satunya kasus remaja membunuh dan melakukan tindakan kriminal lainnya. 

Seharusnya remaja menjadi masa emas dalam mencari jati diri dan mengembangkan potensi diri, karena pada masa ini perkembangan kognitif sudah mencapai perkembangan operasional optimal. Yang artinya remaja mampu berfikir secara abstrak. Namun dengan bobroknya sistem pendidikan saat ini, justru menjadi jurang kehancuran para remaja. Bagaimana remaja saat ini lebih anarkis, sadis dan jauh dari kata terpuji. Sungguh sangat miris, bagaimana kelanjutan peradaban ini? Jika para penerus generasinya saja saling menghancurkan dan merusak satu sama lain.

Negara telah gagal dalam menanggulangi perbuatan kejahatan dan juga telah gagal dalam menciptakan kehidupan yang aman bagi rakyat Indonesia. Sanksi yang diberikan selama ini tidak membuat jera namun justru lahir kejahatan-kejahatan baru yang tercipta. Belum lagi dengan pemicu terjadinya kejahatan yang sampai saat ini belum juga dapat solusinya. Tidak ada asap jika tidak ada api, tidak akan ada kejahatan jika tidak ada pemicunya. Bagaimana tontonan dan pergaulan saat ini memicu terciptanya prilaku-prilaku tidak terpuji, contohnya tontonan yang mengandung dengan unsur dewasa  yang sangat mudah sekali untuk diakses, figure artis-artis yang mengumbar kemewahan hidup dan pergaulan bebas, belum lagi dengan minuman-minuman keras yang mudah ditemukan saat ini.  Lalu dimana peran negara ketika carut marut sedang terjadi?

Maka perlu adanya perubahan secara pasti baik dalam sistem pendidikan dan juga dikehidupan. Islam bukan hanya sebuah agama yang datang mengatur ibadah saja. Malainkan juga, Islam menghadirkan aturan-aturan yang memampu menjadikan peradaban lebih gemilang. Dengan diterapkannya syari’at islam secara kaffah ( menyeluruh), maka akan terlahir kembali generasi-generasi yang mampu membawa perubahan dalam memperbaiki peradaban yang rusak. 

Bisa kita lihat bagaimana masa-masa keemasan itu hadir ditengah-tengah umat pada saat peraturan Isalm diterapkan. Maka sudah sepatutnya kita kembali kepada aturan dari Sang Pencipta yang sesuai dengan fitrah manusia. Karena Islam hadir untuk menjadi Rahmatan Lil Alamin.
Wallahu Alam


Share this article via

118 Shares

0 Comment