| 389 Views
Program Makan Gratis Banyak Warga Menangis, Kok Bisa?
Oleh : Sartika Dewi
Sebagaimana kita ketahui, pemerintah menerapkan program makan siang gratis bagi anak-anak sekolah dasar di seluruh Indonesia. Namun, akankah hal tersebut menjadi solusi bagi pelajar kita saat ini? menjadikan mereka lebih sehat dengan gizi seimbang?
Dikutip dari laman CNBC Indonesia, program MBG (makan bergizi gratis) yang menjadi program unggulan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka tengah menjadi perbincangan publik. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengungkapkan keterlibatan pemerintah daerah dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Diperkirakan kontribusi daerah mencapai Rp5 triliun.
Untuk tahun 2025 ini lebih kurang kontribusi daerah (Kabupaten-Kota) yang mau ikut berpartisipasi, itu lebih kurang Rp2,3 triliun, kata Tito usai rapat kabinet terbatas di Istana Kepresidenan.(www.CNBCIndonesia.com 17/1/2025)
Kebutuhan makan siang dan susu gratis ini mengacu pada komposisi makanan 4 sehat 5 sempurna. Diperlukan setidaknya 6,7 juta ton beras per tahun, 1,2 juta ton daging ayam per tahun, 500 ribu ton daging sapi per tahun, 1 juta ton daging ikan per tahun, berbagai kebutuhan sayur mayur dan buah‐buahan, hingga 4 juta kiloliter susu sapi segar per tahun.
Mendamba Makanan Sehat dalam Sistem Kapitalisme
Bagaimana jadinya, jika saking besarnya anggaran yg dikeluarkan oleh pemerintah, akhirnya malah berimbas pada masyarakat. Sebab, negara berencana akan mengambil anggaran untuk MBG dari dana zakat.
Kabarnya, BAZNAS mengizinkan dana zakat untuk membiayai program MBG. Padahal seharusnya, dana zakat adalah hak milik umat Islam dan seluruh ulama sepakat tidak ada perbedaan pendapat, zakat hanya untuk 8 asnaf bukan untuk membiayai kebutuhan negara.
Begitulah wajah buruk sistem kapitalisme, sistem ini hanya berlandaskan asas manfaat semata. Sehingga aturan yang dibuat oleh negara tidak akan mempertimbangkan aturan agama.
Selain, program MBG yang sudah diterapkan di beberapa daerah saat ini seakan menimbulkan masalah baru, karena program MBG justru menjadi beban negara, sebab membutuhkan dana yg sangat besar.
Di sisi lain, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, namun ternyata yang menikmati hasilnya hanya segelintir elite para pengusaha, sedangkan rakyat biasa untuk makan sesuap nasi saja harus banting tulang. Lantas, bagaimana Islam memandang tentang hal ini?
Rakyat Sejahtera hanya Islam Solusinya
Di dalam Islam, sumber daya alam dikelola mandiri oleh negara dan hasilnya dipakai untuk kepentingan rakyat. Negara tidak dibolehkan untuk men swastanisasi SDA pada warga pribumi ataupun asing.
Dalam Islam, seorang kepala negara adalah bagian dari penguasa. Islam menempatkan penguasa sebagai pengurus (raa’in) sekaligus pelindung (junnah) rakyatnya, Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa dari kalian yang bangun pagi dalam keadaan hatinya aman/damai, sehat badannya dan memiliki makan hariannya maka seolah-olah telah dikumpulkan untuk dirinya dunia dengan seluruh sisinya.” (HR Tirmidzi).
Oleh sebab itu, negara harus menyediakan layanan keamanan, pendidikan, dan kesehatan untuk semua warganya. Hal itu termasuk dalam tanggung jawab dasar negara terhadap rakyat.
Dulu di masa kekhilafahan Umar Bin Abdul Azis, seluruh rakyatnya tidak mau menerima zakat, karena khalifah Umar berhasil menghapus kemiskinan sampai 0%. MasyaAllah, sudah semestinya Islam diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan, dan seluruh masyarakat dapat hidup sejahtera di bawah naungan Islam, Insyaallah. Wallahu'alam bishowab