| 56 Views
Pasca Kedatangan Presiden Prancis Emmanuel Macron, Siapakah yang diuntungkan?
Oleh : Haryani, S.Pd.I
Pendidik di Kota Bogor
Kedatangan Presiden Prancis Emmanuel Macron memang sudah berlalu, namun kepulangannya beliau ke negara asalnya tidaklah dengan tangan kosong. Sebanyak 21 dokumen kesepakatan ditandatangani, ditunjukkan (showing), dan diumumkan di hadapan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Emmanuel Macron, menandai komitmen kuat untuk memperdalam kemitraan strategis lintas sektor. (Presidenri.co.id, Jakarta, Rabu, 28 Mei 2025).
Diantara 21 perjanjian yang sudah disepakati yaitu, 11 perjanjian yang berkaitan dengan kerja sama antar pemerintah (G-to-G) 1 perjanjian antar lembaga (P-to-P), kemitraan swasta (B-to-B), hingga pengumuman kerja sama antar bank sentral.
Salah satu kesepakatan kerja sama antara danantara, Indonesia Investment Authority (INA) dan Eramet, terkait kerja sama mineral kritis untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik dan hilirisasi nikel. Sebagaimana kita ketahui bersama, negara Indonesia adalah negara yang kaya akan barang tambang, terutama SDA nikel, dimana saat ini sedang viral tentang eksploitasi penambangan nikel di Raja Ampat Papua. Tidak menutup kemungkinan adanya kesepakatan tersebut sangat berkaitan erat dengan masalah penambangan nikel di Raja Ampat. Walaupun negara Prancis bukan satu-satunya negara yang menjadi pasar permintaan terbesar disamping China akan kebutuhannya terhadap barang tambang nikel, sebagai bahan dasar pembuatan baterei untuk bahan energi mobil listrik, tetapi ketika sebuah negara sudah membuat perjanjian kerja sama maka hal itu menjadi bukti kuat bahwa di belakang penambangan liar di Raja Ampat ada kekuatan yang luar biasa yang mendukungnya.
Indonesia Menjadi Syurga Bagi Negara Kapitalis Dunia
Lagi-lagi negara Indonesia hanyalah menjadi syurganya bagi bangsa yang mengusung Ideologi Kapitalis untuk dikeruk kekayaannya sedemikian rupa. Alih-alih bertujuan menyejahterakan rakyat, yang ada malah menyengsarakan rakyat sendiri. Bagi Indonesia, rakyat hanyalah dijadikan sebagai sapi perahan, yang hanya diambil tenaganya tanpa menikmati hasil yang memuaskan, keuntungan terbesar tetap menjadi bagian para pengusaha dan penguasa yang ada dibaliknya.
Sebagai negara yang mempunyai kedaulatan dan merdeka penuh, tentu saja hal itu hanyalah ilusi semata, sejatinya kita saat ini sedang dijajah habis-habisan oleh negara asing dan aseng, semua sektor ekonomi strategis dikuasai oleh orang asing, sedangkan rakyat Indonesia sendiri hanyalah menjadi pekerja buruh yang digaji tidak layak dibandingkan hasil yang dikeruk oleh mereka dan diboyong ke negaranya. Benar-benar pembodohan publik. Rakyat sendiri dibodohi, dengan iming-iming kesejahteraan.
Meninjau poin-poin kerja sama yang telah disepakati, tentunya Prancis jauh lebih diuntungkan, baik dilihat dari sisi politik, ekonomi, militer, kebudayaan dll. Tentu saja hal ini tidak terlepas dari kedudukan negara Prancis sebagai negara yang istiqomah memegang teguh mabda kapitalis, dimana karakter dari mabda ini salah satunya adalah meraih keuntungan sebanyak-banyaknya dengan modal sekecil-kecilnya. Dalam hal ini Indonesia akan selalu menjadi negara pengekor yang akan terus tunduk kepada negara adidaya seperti Amerika dan saat ini negara Prancis sebagai negara pesaingnya.
Sikap kita!
Islam adalah agama ruhiyah dan siyasiyah, mengatur semua urusan individu dan negara, sudah seharusnya semua masalah yang terkait dengan pengurusan hidup diserahkan kepada aturan Islam, begitupun permasalahan politiknya. Dalam Islam jelas sekali bahwa urusan bilateral sebuah negara harus dilihat dari berbagai aspek. Daulah Islam melarang keras bekerja sama dengan negara kafir harbi(kafir yang jelas-jelas memusuhi Islam), dan Prancis adalah salah satu negara kafir harbi dan haram hukumnya kita menyerahkan pengurusan apapun kepada mereka, termasuk kesepakatan kerja sama yang lainnya.
Allah SWT berfirman yang artinya: Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (teman akrab; pemimpin; pelindung; penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin (Q.S Ali Imron: 28)