| 121 Views
Normalisasi Dengan Zionis Suatu Perangkap AS Untuk Melanggengkan Penjajahan, Hanya Jihad dan Khilafah Solusi Tuntas
Foto: Foto kolase Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. (Getty Images via AFP & ABIR SULTAN POOL/Pool via REUTERS)
Oleh : Sumarni Ummu Suci
Pemerintahan Turki menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu dan sejumlah pejabat tinggi Israel lainnya terkait perang di jalur Gaza. Surat penangkapan itu didasarkan pada tuduhan genoside dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. (www.kompas.id)
Sayangnya beberapa negara justru mengambil langkah yang berlawanan. Kazakstan misalnya memutuskan bergabung dalam Abraham Accords, perjanjian normalisasi hubungan diplomatik dengan rezim Zionis yang kemudian di kecam keras oleh Hamas karena di anggap sebagai pembenaran atas agresi Zionis terhadap rakyat Palestina.
Sejak tahun 2020, Amerika Serikat meluncurkan proses normalisasi hubungan Zionis -Arab dengan menandatangani serangkaian dokumen yang dikenal sebagai Abraham Accords. Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko menjadi negara pertama yang bergabung dalam kesempatan tersebut.
Kini gedung putih menargetkan lebih banyak negara Arab untuk menormalisasi hubungan dengan rezim Zionis pada masa jabatan ke dua presiden Trump dengan tujuan agar dapat melegalkan penjajahan atas Palestina.
Berbagai pihak di Palestina termasuk Hamas menilai normalisasi ini di gunakan rezim Zionis dan sekutunya terutama Amerika Serikat sebagai alat diplomatik untuk mengurangi tekanan internasional terhadap pendudukan yang mereka lakukan.
Sementara itu, Turki memang secara terbuka mengkritik agresi rezim Zionis terhadap Gaza dan Palestina. Namun ada sejumlah fakta yang menunjukkan bahwa hubungan Turki - Zionis tidak sepenuhnya terputus.
Dibalik retorika keras Angkara, Turki tetap mempertahankan kerangka kerja sama ekonomi, energi bahkan militer dengan rezim Zionis.
Fakta - fakta ini menunjukkan bahwa meski bersuara lantang menentang zionis kepentingan geopolitik dan ekonomi membuat Turki tak sepenuhnya memutuskan hubungan dengan entitas tersebut.
Bahkan Presiden Recep Tayyip Erdogan sempat menyatakan bahwa Turki dan rezim Zionis bisa bekerja sama dalam pengiriman gas alam ke Eropa melalui Turki.
Selain itu Turki juga satu - satunya negara muslim anggota NATO serta telah menandatangani puluhan perjanjian kerja sama dengan entitas zionis.
Apa yang terjadi di Palestina hari ini, jelas belum menjadikan akhir dari penjajahan. Meski gencatan senjata telah disepakati dan sejumlah negara mengakui Palestina sebagai negara merdeka, rakyat Palestina tetap hidup dalam keterpurukan.
Akses terhadap bantuan, pangan, air dan listrik masih di batasi. Kelaparan terus melanda dan penderitaan tak kunjung berakhir.
Faktanya negeri - negeri muslim saat ini lebih banyak menjadi penonton. Mereka hanya mengutuk dan mengecam tanpa mengambil langkah nyata untuk membebaskan Gaza, atau menghentikan agresi zionis. Padahal seluruh negeri muslim seharusnya bertindak tegas, bukan hanya berbicara dalam forum diplomasi.
Selama para penguasa dunia Islam terutama pemimpin Arab dan Turki masih tunduk pada kepentingan Barat dan terkungkung oleh ide nasionalisme sempit, maka krisis Gaza Takan pernah berakhir dan penderitaan rakyat Palestina akan terus berlanjut.
Sesungguhnya solusi tuntas atas penjajahan Palestina hanya akan terwujud dengan tegaknya kembali khilafah Islamiyyah. Hanya dengan khilafah persatuan umat dapat terwujud, kekuatan militer dan politik dapat di arahkan untuk membebaskan seluruh tanah Palestina dan sistem yang menindas umat Islam dapat dihentikan dari akarnya.
Khilafah yang menerapkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan akan mencabut penjajahan hingga akar - akarnya dari bumi Palestina.
Untuk menghilangkan penjajahan Yahudi ini hanya bisa dengan perang jihad fi sabilillah, dan kewajiban utama jihad ini ada pada pundak penguasa negeri - negeri Islam dan para panglima perang yang memiliki tentara yang terlatih, peralatan tempur, pesawat - pesawat tempur dan persenjataan yang lebih dari cukup.
Sebagaimana Allah memerintahkan dalam QS.Al - Baqoroh : 191
وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوْهُمْ وَاَخْرِجُوْهُمْ مِّنْ حَيْثُ اَخْرَجُوْكُمْ
Artinya : "Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian."
(TQS.Al - Baqarah : 191)
Oleh sebab itu Palestina hanya bisa dibebaskan jika khilafah berdiri untuk melindungi tanah yang Allah berkahi.
Khilafah pun akan mengusir para penjajah dari dunia Islam, karena itulah eksistensi khilafah Islamiyyah adalah wajib bagi kaum muslim karena ia akan menjadi pelindung umat.
Khilafah adalah perisai yang melindungi umat sehingga mereka merasa aman dan nyaman. Dengan khilafah harta, darah dan jiwa umat tak akan tumpah sia - sia.
Wallahu a'lam bisshawab.