| 28 Views

Nasib Pertumbuhan Ekonomi di Tangan Para Kapitalis

Ilustrasi Foto: ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI

Oleh: Ayesa Al aksha
 
Masyarakat kembali di gegerkan oleh kebijakan pemerintah terkait rencana pembangunan jalan tol Gedebage, Tasikmalaya, Cilacap (Getaci) yang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) di daerah Jawa barat. Kehadiran tol Getaci ini akan membuka aksesibilitas yang lebih luas dan cepat menuju objek wisata unggulan, Pangandaran. Dengan besar ini diadakannya proyek pemerintah berharap akan membawa perubahan besar terhadap pertumbuhan ekonomi di wilayah Priangan timur, khususnya di berbagai objek wisata yang ada di kabupaten Pangandaran.
   
Tol Getaci ini dirancang oleh pemerintah membentang sepanjang 206.65 km yang akan menghubungkan antara kota Bandung hingga kabupaten Cilacap Jawa tengah. Diperkirakan hadirnya proyek pembangunan tol terpanjang ini dapat membuka berbagai lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar (Tribun Jabar).
  
Sedangkan kenyataannya, proyek pembangunan tol seringkali menimbulkan berbagai masalah baru. Mulai dari biaya pembangunan yang melibatkan peminjaman terhadap negara lain, sehingga hutang negara semakin membengkak,penolakan warga terhadap pembebasan lahan, dan berbagai unsur lainnya yang dapat menghambat pembangunan infrastruktur jalan tol, kemudian bagaimana dengan harapan harapan yang dinantikan oleh pemerintah terkait pertumbuhan ekonomi masyarakat?
 
Di dalam sistem kapitalisme, pertumbuhan ekonomi masyarakat dari hari ke hari semakin di kalangan seolah-olah sudah kacau, kemiskinan masyarakat menjadi virus yang bertebaran dimana -mana, kekayaan beredar hanya pada kalangan para pejabat saja, sehingga menyebabkan kondisi ekonomi masyarakat semakin memburuk. Belum lagi pengelolaan sumberdaya alam yang di kuasai oleh para pengusaha, sehingga menyebabkan masyarakat tidak dapat menikmatinya, maka dari itu untuk meningkatkan kembali pertumbuhan ekonomi masyarakat tidaklah cukup hanya dengan diadakannya proyek pembangunan infrastruktur jalan tol saja.
  
Kemudian, di dalam sistem yang rusak ini, penggunaan infrastruktur jalan tol hanya bisa di nikmati oleh masyarakat yang mampu membayar tarif penggunaan jalan tol saja. Padahal, pembangunan infrastruktur jalan merupakan kewajiban negara sebagai bentuk pelayanan terhadap masyarakat-masyarakat yang bermanfaat untuk memudahkan berbagai aktivitas dan interaksi antar ummat, sehingga semua kalangan dapat menikmati penggunaan infrastruktur jalan tol secara gratis.
  
Secara hukum, di dalam syariat Islam, pembangunan infrastruktur jalan tol yang berlandaskan pada kepentingan umum, tidak melanggar syariat dan tidak merugikan kepentingan masyarakat adalah suatu kebolehan. Namun di dalam sistem Islam pembangunan infrastruktur jalan tol merupakan faktor penunjang saja dan tidak dijadikan sebagai faktor utama dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat, karena Islam memiliki konsep ekonomi yang sesuai dan berlandaskan aturan Allah SWT. Seperti halnya pengelolaan sumberdaya alam secara adil oleh negara, pencegahan terhadap praktik merugikan sebagaimana penimbunan barang, distribusi zakat dan infak yang sesuai dengan syariat, sehingga mampu mengatasi kesenjangan ekonomi serta memberantas kemiskinan.
  
Maka dari itu, hanya sistem Islam lah yang mampu dan dapat memperbaiki pertumbuhan ekonomi masyarakat, Islam tidak akan pernah membiarkan kekayaan berputar pada sebagian orang saja,Islam akan memberantas semua unsur yang menyebabkan kondisi ekonomi masyarakat semakin kacau,di sisi lain negara Islam akan selalu mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyejahterakan seluruh masyarakat, sehingga mereka seluruh masyarakat, sehingga mereka terpenuhi segala kebutuhannya dan tidak merasakan kekurangan suatu hal apapun.
  
Begitulah cara Islam mengatur pertumbuhan ekonomi masyarakat, maka sudah bisa di sistem pastikan, bahwa hanya Islamlah yang mampu melindungi dan menyejahterakan masyarakatnya. Mari kita tuntaskan segala bentuk problematika dengan menegakkan kembali syariat Islam dalam bingkai daulah Islamiyyah. Takbir!!!

Wallahu alam bishowab.


Share this article via

33 Shares

0 Comment