| 41 Views

Malapetaka Remaja, Narkoba Menjadi Pelarian

Oleh: Elifka Asti Andini

Kasus narkoba kembali mencoreng wajah pendidikan Indonesia. Belum selesai persoalan moral, bullying, hingga kekerasan, kini muncul kabar yang jauh lebih memilukan: 15 siswa SMP di Surabaya dinyatakan positif mengonsumsi narkoba. Temuan ini sontak membuat publik terkejut, bagaimana mungkin anak usia belasan tahun bisa begitu mudah terjerumus pada barang haram yang menghancurkan masa depan?

Mirisnya, kasus ini terkait erat dengan kawasan yang sudah lama dikenal dengan sebutan Kampung Narkoba di Jalan Kunti, Surabaya. Di wilayah tersebut, berdiri bedeng-bedeng kecil dari kayu dengan atap terpal yang sering digunakan untuk transaksi narkoba hingga pesta sabu. Meskipun aparat berkali-kali melakukan penggerebekan dan penangkapan, peredaran barang haram itu masih saja merajalela. Seolah tidak pernah benar-benar mati, hanya pindah tangan dan terus mencari mangsa baru termasuk para pelajar.

BNNP Jawa Timur menegaskan bahwa temuan 15 pelajar SMP yang positif narkoba ini bukanlah kasus kecil. Ini adalah alarm bahaya bagi seluruh orang tua, sekolah, dan negara bahwa peredaran narkoba sudah masuk ke lingkungan paling dekat dengan anak-anak. Terlebih lagi, Pemerintah Kota Surabaya meminta orang tua untuk lebih sadar peran dalam pengawasan anak, sesuatu yang sebenarnya sudah menjadi keharusan sejak lama (kumparan.com, 14 Nopember 2025).

 Remaja Kehilangan Arah Hidup

Fenomena ini bukan sekadar soal narkoba, tetapi lebih dalam dari itu. Remaja saat ini menghadapi krisis nilai, krisis makna, dan krisis kebahagiaan hakiki. Ketika mereka jauh dari nilai keimanan, kehilangan tempat curhat, serta hidup dalam tekanan akademik dan sosial. Narkoba menjadi pelarian yang dianggap mampu memberikan rileks sejenak. Padahal itu hanya menjerumuskan mereka ke jurang kegelapan. Narkoba berhasil masuk ke dunia remaja karena ada ruang kosong dalam jiwa mereka seperti nilai spiritual, kehangatan keluarga, dan jalan ke arah kebaikan.

Kemudian keberadaan kampung narkoba seperti di Jalan Kunti mengindikasikan bahwa peredaran narkoba bukan hanya tindakan kriminal individu, tetapi juga jaringan sistemik yang kuat, terorganisir, dan sulit diberantas. Meskipun setelah penggerebekan, kawasan itu tetap aktif. Oleh sebab itu, keberadaan kampung narkoba bukan hanya ancaman kriminalitas, tetapi juga ancaman peradaban. Sebab jika dibiarkan hidup maka akan menjadi jebakan bagi anak-anak di sekitarnya. Sehingga ketika lingkungan sudah rusak maka otomatis generasi akan ikut rusak. Akibatnya, remaja menjadi korban, sekolah menjadi panik, orang tua kebingungan, masyarakat resah, dan negara kembali tersadar setelah ada kasus besar namun tidak ada perubahan berarti dalam sistemnya.

Dimana jaringan narkoba ini bisa bebas menjalankan bisnisnya dan mampu menyasar anak SMP. Maka jelas ada kelemahan pengawasan negara, baik dari aparat maupun kebijakan untuk pencegahan. Negara seharusnya menjadi pelindung generasi, bukan membiarkan ruang bagi perusak masa depan berkembang begitu subur.

 Kapitalisme Menjadikan Remaja Sekadar Pasar

Kerusakan ini tentu tidak lepas dari Sistem kapitalisme. Sebab sistem ini tidak pernah benar-benar peduli apakah korbannya anak sekolah atau orang dewasa. Yang penting adalah aliran uang, keuntungan, dan bisnis terus berjalan. Narkoba pun diperlakukan seperti komoditas, dipasarkan secara agresif, dan ditujukan kepada siapa saja yang mudah dipecah belah dan dilemahkan mentalnya termasuk remaja. Sistem ini pula yang menyebabkan negara sering tidak bertindak tegas, karena ada banyaknya kepentingan, celah hukum, hingga praktik yang menyuburkan industri gelap. Selama kapitalisme menjadi pijakan negeri, maka perlindungan untuk generasi bangsa selalu menjadi prioritas kesekian.

Maka jelas pada kasus 15 pelajar SMP pengguna narkoba bukan masalah kecil. Ini adalah potret nyata dari rapuhnya sistem yang berjalan saat ini sistem yang gagal melindungi, gagal membina, dan gagal menutup pintu kerusakan.

 Islam Memberikan Jalan Keluar yang Hakiki

Berbeda dengan kapitalisme, Islam memprioritaskan penjagaan akal, jiwa, dan masa depan generasi. Dalam Islam, negara bertanggung jawab penuh untuk menutup seluruh pintu kerusakan termasuk peredaran narkoba. Negara tidak hanya menghukum pelakunya, tetapi juga:

• menutup sarang narkoba hingga bersih,
• memperbaiki lingkungan sosial,
• memastikan pendidikan yang menanamkan iman,
• mendekatkan remaja pada makna hidup yang benar,
• serta menyediakan aktivitas yang sehat dan bermartabat bagi generasi muda.

Seperti yang pernah terjadi di masa Khulafa Rasyidin dan pemerintahan Islam setelahnya, negara tidak membiarkan satu celah pun bagi kerusakan akhlak dan perusak masyarakat untuk berkembang. Generasi dijaga dengan ketat karena merekalah masa depan umat.

Sehingga penerapan sistem Islam memberikan solusi yang jauh lebih komprehensif. Negara ada, menjaga kehormatan, akal, dan masa depan rakyat. Generasi tidak akan dibiarkan menjadi korban eksperimen budaya bebas dan bisnis gelap.

Sebab nasib remaja adalah tanggung jawab negara dan peredaran narkoba adalah bentuk kemungkaran yang tidak boleh dibiarkan sedikit pun. 

Wallahu alam bish-shawab.


Share this article via

36 Shares

0 Comment