| 10 Views
Khilafah Menjaga Kewarasan Seorang Ibu
Oleh: Wilda Ummu Akhtar
Bogor
Pernah dengar kabar seorang ibu tega menganiaya anaknya. Pasti pernah. Pernah dengan seorang ibu yang menjadi tulang punggung keluarganya? Pasti pernah. Pernah dengar seorang ayah yang seharian di rumah karena mengangur? Itupun pasti pernah.
Karena realitasnya dalam sistem kapitalisme saat ini. Memang perempuan dipaksa berkiprah di luar rumah. Ironisnya suami di rumah sendiri tanpa menafkahi keluarga. Kalo sudah begini wajarkah seorang ibu harus menjaga kewarasannya dengan ekstra? Wajar.
Belum lagi panggilan dakwah disana sini tentunya sebagai seorang muslimah ingin selalu berkontribusi. Akhirnya anak menjadi korban. Kurang pola asuh dari sang ibu tercinta. Senin sampai jumat bekerja sabtu dan minggu mencari kesempatan mengaji disana sini demi menyemangati diri tetap istiqomah dalam berdakwah.
Lantas haruskah seorang ibu menyerah pada kejamnya sistem kapitalisme? Tentu tidak. Allah Maha Mengetahui bahwa dibalik takdir yang sulit ini Allah ingin melahirkan seorang ibu-ibu pejuang. Cukuplah Allah yang memberi semangat dan kekuatan. Cukuplah Allah yang Maha Pemberi Rezeki dari arah yang tak disangka-sangka.
Seorang ibu di zaman now hanya berharap semoga sistem islam yang diperjuangkannya yakni khilafah segera tegak dimuka bumi ini. Karena hanya dengan menyerukan dakwah menegakkan khilafah kemuliaan seorang ibu diwujudkan.
Ibu dapat fokus mendidik anaknya, ibu dapat fokus melayani suami tercintanya yang sedang mencari nafkah, bahkan ibu dapat bersenda gurau atau bercanda dengan anaknya sambil menantikan suami pulang kerja, dan ibu dapat fokus memasak masakan kesukaan keluarganya tanpa harus memikirkan biaya masak yang mahal karena negara menjamin harganya terjangkau.
Bukankah kehidupan ini yang diinginkan para ibu-ibu? Tentu iya, seorang istri tidak perlu menyadap HP suaminya saat bekerja karena lingkungan kerjanya yang islami. Suaminya selalu godhul bashor, rekan kerja wanita berhijab, interaksi tidak pernah berdua-duaan. Akhirnya suasana kantor sehat dan produktif.
Sayang semua itu hanya ada dalam sistem islam yang rahmatan lil alamin. Bukan ada di sistem demokrasi yang kufur ini. Dimana didalamnya banyak unsur kebebasan yang digaungkan antara lain kebebasan bertingkah laku, kebebasan beragama, kebebasan berpendapat dan kebebasan kepemilikan harta.
Maka yang terlihat sejahtera adalah orang-orang yang berduit saja, maka yang terlihat adalah nikah beda agama diperbolehkan, maka yang terlihat adalah menyukai sesama jenis dibolehkan bahkan setiap individu boleh mengeruk harta negara jika memiliki modal besar. Timbullah kesenjangan sosial.
Maka jika ingin waras seorang ibu seharusnya turut memperjuangkan sistem islam yang memuliakan perempuan. Bukan malah menjadi korban sistem sibuk mencari kerja, suami dibiarkan mokondo, anak-anak menjadi tidak beradab karena gurunya adalah setan gepeng alias HP.
Hayuk, mari tetap semangat menjaga kewarasan dengan rutin mengikuti kajian islami ideologis supaya khilafah segera tegak kembali di muka bumi ini. Allohumma aamiin. Bismillah...dengan izin Allah.